Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, Jun 29, 2013

LAWATAN DAN MISA KUDUS DI KAPELA SANTO YEREMIA, SEPAGAYA

Kapela Santo Yeremia, Sepagaya - 23 Jun 2013. Rev. Fr. Thomas Makajil berserta rombongan dari Katedral St. Mary's, Sandakan dan dari Gereja Our Lady Of Fatima, Beluran telah membuat lawatan dan Misa Kudus. Turut hadir sama ialah Sister Lidwina Alyandu, Sister Gembala Baik yang berasal dari Larantuka. Jarak Kapela Santo Yeremia, Sepagaya dari Bandar Sandakan ialah 130KM dan dari Beluran 106KM. 

Sejak lebih kurang 5 tahun yang lalu, umat Santo Yeremia tidak di kunjungi oleh paderi mahupun Pelayan Sabda. Sebelum lawatan ini, kunjungan terakhir ialah pada awal Disember, 2012 oleh Saudara Hendrickus B. Nadus dengan mengadakan Ibadat Sabda. Setelah kunjungan ini, saudara Hendrickus Nadus telah memaklumkan kepada Fr. Thomas Makajil berhubung dengan kedudukan dan keadaan umat di sini yang sangat mengharapkan kunjungan paderi. Akhirnya, keluhan dan berkat doa; umat Santo Yeremia, Sepagaya telah dikunjungi oleh Rev. Fr. Thomas Makajil pada hari ini.



















































Jumaat, Jun 28, 2013

YESUS MENAWARKAN HIDUP BARU KEPADA SETIAP ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 30 Juni, 2013)

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62)

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18

Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Yesus tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua, para murid-Nya. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana.

Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. Yesus tahu bahwa sebagai para murid-Nya yang mengemban misi-Nya, kita menghadapi berbagai macam halangan dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal yang disediakan bagi kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya.

Memang perjalanan Yesus ke Yerusalem akan “berakhir” dengan kematian-Nya. Dia selalu mengajarkan kepada para murid, bahwa mengikut Dia melibatkan suatu “biaya” yang sangat besar. Dia menggunakan tiga macam “ibarat” untuk membantu para pendengar-Nya melihat kerajaan Allah dari sudut-pandang yang baru. Pertama-tama Yesus mengatakan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Pernyataan Yesus ini janganlah diartikan secara harfiah karena Yesus cukup sering diundang orang-orang berada dan menikmati hospitalitas mereka. Pernyataan Yesus di sini ditujukan kepada sesuatu yang lebih mendalam, yaitu masyarakat manusia (pemerintah dan orang-orang seiman dengan-Nya) yang akan menolak-Nya dan pada akhirnya membunuh Dia. Penggunaan “ibarat” yang kedua adalah ketika Yesus mengatakan: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Penguburan orang mati merupakan suatu kewajiban sakral dalam agama Yahudi, namun yang dimaksudkan Yesus adalah supaya orang-orang mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak bermaksud untuk membebaskan seseorang dari kewajiban menguburkan orang-orang yang dikasihinya. Yang mau ditekankan Yesus adalah, bahwa hal mengikut Dia itu lebih fundamental daripada kewajiban keagamaan lainnya. “Ibarat” yang ketiga memberi kesan seakan-akan para pengikut-Nya tidak diperbolehkan untuk say goodbye secara formal kepada anggota keluarga mereka (Luk 9:61). Dalam hal ini, semoga kita tidak lupa bahwa nabi Elisa saja diperkenankan untuk say goodbye kepada ayah-ibunya sebelum mengikuti nabi Elia (1Raj 19:19-21).

Ketiga macam “ibarat” ini sebenarnya mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita pada kenyataan betapa agungnya panggilan Kristus dan bagaimana kita harus menanggapi panggilan tersebut tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi kita sebagai turunan Adam, kita memang suka tergoda untuk menghitung-hitung berbagai kemungkinan untung-rugi pengambilan keputusan kita ……, dalam hal ini kita sering memandang “biaya pemuridan” yang ada di depan mata dan dibuat “jeri” olehnya. Sebagai murid Yesus, begitu banyak rintangan – besar dan kecil – yang harus kita hadapi. Sesungguhnya Yesus menawarkan kepada setiap orang suatu hidup baru yang penuh sukacita dan lengkap, tetapi terwujud dalam suatu ‘pemisahan total’ dari keberadaan orang itu sebelumnya. Jadi para murid meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus atas dasar satu alasan, yaitu bahwa yang ditawarkan-Nya jauh lebih baik daripada yang mereka miliki (lihat Yoh 6:68).

DOA: Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati para kudus-Mu telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mendorong kami, umat-Mu, untuk semakin menimba kekuatan dari firman-Mu dalam Kitab Suci dan memperoleh sumber kehidupan di dalamnya. Bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi yang disediakan bagi kami. Semoga visi ini mendorong kami untuk tetap melangkah maju dalam perjalanan ziarah kami di dunia ini. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEDIKIT CATATAN MENGENAI PETRUS DAN PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Sabtu, 29 Juni 2013)
www-St-Takla-org--Saint-Peter-n-St-Paul-03

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarangt tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Paling sedikit sejak tahun 354 hari ini sudah ditetapkan oleh Gereja untuk menghormati Santo Petrus dan Santo Paulus. Kenangan akan dua rasul agung ini dan rasa hormat kita terhadap karya rahmat dalam kehidupan mereka telah menggores hati umat beriman sejak saat itu. Dari semua orang yang pernah hidup, dua orang ini dipilih untuk menjadi rasul untuk orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi (baca: kafir).

Dalam diri Petrus kita melihat seorang nelayan tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan berdarah panas, yang kemudian ditransformasikan menjadi seorang pengkhotbah/ pewarta dan seorang pastor (gembala) yang berani serta mampu mengendalikan diri. Petrus sedemikian ditransformasikan oleh Roh Kudus sehingga dia mampu tidur nyenyak walaupun sedang menghadapi maut. Lukas menceritakan kepada kita sebuah insiden di mana Herodus menahan Petrus dengan maksud memenggal kepalanya (Kis 12:1-4). Rasa percaya Petrus kepada Allah dan penerimaannya akan rencana Allah itu sedemikian total dan lengkap sehingga dalam penjara – yang sebenarnya dapat menjadi malamnya yang terakhir – Petrus mampu tidur sebagai seorang bayi. Malaikat Tuhan yang diutus Allah untuk menyelamatkan Petrus harus menepuknya untuk membangunkannya (Kis 12:7).

Pada satu titik dalam jalan kehidupan-Nya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai minyak yang dicurahkan dalam upacara kurban bagi Tuhan (lihat Flp 2:17). Mantan Farisi ini yang sebelum pertobatannya giat mengejar dan menghukum mati para murid Yesus, begitu diubah sehingga dia dapat menerima kematiannya dan mempersembahkannya bagi Tuhan sebagai tindakan penyembahan (lihat 2Tim 4:6). Paulus rela menyerahkan hidupnya demi Injil Yesus Kristus yang diwartakannya. Ketika “nasib”-nya sudah pasti, Paulus tetap tenang, menerima dan terus menaruh kepercayaannya pada kesetiaan Allah.

Kuat-kuasa Allah untuk mentransformasikan kita – sebagaimana Dia mentransformasi-kan Petrus dan Paulus – adalah tidak terbatas. Jika dua orang ini mampu mengubah seluruh dunia, mengapa harus ada perbedaan dengan kita, anda dan saya? Allah senantiasa mengundang kita semua untuk ikut ambil bagian dalam panggilan sebagai rasul: untuk mengajar, menjadi saksi Injil, mengasihi dengan kasih Yesus, ikut serta dalam pertandingan sampai garis akhir seperti ditulis Paulus (lihat 2Tim 4:6-8).

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Marilah sekarang kita berdoa untuk Gereja, agar Allah membangkitkan kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Tuhanku dan Allahku, utuslah Roh-Mu untuk bekerja dalam hati kami masing-masing dan mentransformasikan diri kami seperti Engkau mentransformasikan Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pengkhotbah/pewarta seperti dua orang rasul-Mu yang agung itu agar dapat memproklamasikan Injil-Mu dan menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup di tengah dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Jun 27, 2013

KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Peringatan S. Ireneus, Uskup-Martir – Jumat, 28 Juni 2013)

Abraham_praying_C-434Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN (YHWH) menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat …”

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menami dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. (Kej 17:1,9-10,15-22)

Bacaan Pertama alternatif: 2Tim 2:22b-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Injil: Mat 8:1-4

Sungguh suatu momen sangat istimewa dalam kehidupan Abraham! TUHAN (YHWH), Allah, telah membuat perjanjian – suatu ikatan yang mendalam dan kekal – dengan Abraham di mana Dia menjanjikan turunan kepadanya dan tanah yang akan menjadi miliknya. Sekarang, Allah memberi perintah kepada Abraham: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej 17:1). Abraham mendapat kehormatan untuk hidup di hadapan hadirat Allah. Ia disenangi oleh Allah di atas orang-orang lain untuk menerima perwahyuan ini, yaitu bahwa hasrat penuh kasih Allah adalah agar manusia tinggal/berdiam bersama dengan diri-Nya.

Namun demikian, kelihatannya Abraham belum sepenuhnya memahami karunia Allah. Ketika Allah mendeklarasikan bahwa Dia akan menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan Sara – suatu karunia yang tentunya merupakan sebuah mukjizat apabila kita mempertimbangkan usia kedua orang itu – Abraham kelihatannya bersikap skeptis (lihat Kej 17:17). Ia mengatakan kepada Allah bahwa dirinya puas dengan Ismael, puteranya dari perkawinanannya dengan hamba perempuan Sara yang bernama Hagar (Kej 17:18; baca: Kej 16:1-16). Kelihatannya di sini Abraham memandang rendah kemampuan Allah untuk memenuhi janji-Nya akan seorang anak laki-laki melalui sarana ilahi. Abraham ternyata berhenti pada titik yang dimungkinkan pada tingkat pemikiran manusiawi saja.

Bukankah kita (anda dan saya) juga sering menunjukkan sikap yang sama? Kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang ditebus oleh Kristus, dipisahkan dari yang lain-lain oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Namun, melalui ketiadaan rasa percaya, sinisme, atau iman yang tidak maju-maju (stagnant), kita membatasi ekspektasi kita akan kasih dan kebaikan Allah yang tanpa batas itu sehingga dengan demikian menghilangkan identitas kita sebagai anak-anak-Nya. Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri: Ketika kita mendengar janji-janji Allah dalam Kitab Suci atau membaca tentang mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus, apakah kita bereaksi dengan mengatakan bahwa semua itu “bukan untuk aku”, atau “kalaupun untuk aku … bukan untuk hari ini”? Apabila Roh Kudus mengungkapkan pola-pola dosa yang sudah lama mengendap dalam diri kita atau memori-memori yang menyakitkan hati dan tentunya membutuhkan kesembuhan, apakah kita membiarkan diri kita tetap hidup dengan memendam akar kepahitan daripada pergi menghadap Kristus agar Ia menyembuhkan dan mengubah kita? Jikalau kita melihat anggota keluarga kita atau sahabat kita yang membutuhkan kesembuhan fisik atau spiritual, apakah kita menutup diri kita terhadap kemungkinan terjadinya mukjizat? Kita harus mengakui bahwa kelihatannya kita tidak jarang merasa puas untuk hidup kurang daripada yang Allah ingin lakukan bagi kita.

Kita tidak pernah boleh lupa bahwa Injil adalah pengumuman tentang kedatangan Allah yang penuh kuat-kuasa dan belas kasih. Yesus sendiri telah memenangkan pengampunan dan penebusan kita dari kuasa kejahatan (si jahat). Kita tidak lagi perlu ditindih oleh rasa bersalah atau rasa putus asa apabila menghadapi dosa atau penderitaan. Yesus telah mati dan bangkit guna menawarkan kepada kita penyembuhan, pelepasan (pembebasan), rekonsiliasi, kuat-kuasa, dan sukacita. Marilah kita tidak berpengharapan kurang dari semua itu.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah aku karena aku sering meminimalisir hidup yang Engkau telah janjikan kepadaku. Perkenankanlah aku berjalan di dalam kehadiran-Mu dan menerima rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan menjadi seorang saksi-Mu yang hidup bagi dunia di sekelilingku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Jun 26, 2013

DUA MACAM DASAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2012)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaknya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 25, 2013

YESUS ADALAH TUMPUAN HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2013)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 24, 2013

EVANGELISASI MENUNTUT ADANYA BIMBINGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2013)
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14)

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

Menjelang kedatangan milenium ketiga, almarhum Paus Yohanes Paulus II menyerukan umat Katolik agar milenium yang baru ini merupakan saatnya untuk kegiatan evangelisasi. Namun demikian, sampai hari ini masih banyak saja dari kita yang merasa ragu untuk mensyeringkan iman kita karena takut apa yang dipikirkan orang lain – dan karena kita merasa belum dipersiapkan untuk kegiatan evangelisasi ini. Memang benar bahwa evangelisasi memerlukan hikmat-kebijaksanaan. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk berhati-hati agar tidak memberikan “mutiara-mutiara” kepada “babi-babi” (Mat 7:6) bilamana mereka pergi ke luar untuk mewartakan Injil. Dengan kata-kata ini, Yesus tidak berkata bahwa orang-orang tidak lebih baik ketimbang babi-babi. Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah agar kita memilih dengan bijaksana saat-saat kapan kita mengkomunikasikan Injil kepada orang-orang lain.

Seperti juga hal-hal lainnya yang diajarkan Yesus, evangelisasi menuntut adanya bimbingan Roh Kudus. Apabila kita mencoba untuk mensyeringkan iman kita dengan orang-orang lain, memang crucial kalau kita terbuka bagi apa yang diinginkan oleh Roh Kudus untuk kita lakukan. Roh Kudus mengetahui benar keadaan hati setiap orang. Roh Kudus mengetahui siapa saja yang sudah siap untuk mendengar Injil dan siapa saja yang belum siap. Bilamana kita mencoba untuk menjelaskan iman kita kepada orang-orang lain yang belum siap, maka upaya-upaya kita tersebut dapat menjadi seperti bumerang, malah memprovokasi mereka untuk menolak “mutiara-mutiara” Injil.

Kita melihat ilustrasi yang sangat jelas dari hal ini dalam “Kisah para Rasul”. Melihat kuasa yang ada dalam diri Paulus ketika mewartakan Injil, putera-putera Imam Kepala Skewa mencoba untuk menggunakan nama Yesus juga. Namun karena mereka tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka, maka akibatnya adalah kekacauan. Roh-roh jahat menerpa, menguasai dan mengalahkan mereka (Kis 19:11-16).

Apabila kita dipimpin oleh Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita dan menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya kita katakan dan apa yang harus kita lakukan. Dengan demikian kita dibebaskan dari beban berat. Kita tidak perlu merasa susah tentang apa yang harus kita katakan atau kapan harus mengatakannya. Yang kita perlukan adalah berdoa memohon bimbingan Roh Kudus. Sesungguhnya lebih banyak yang dapat dicapai dalam satu jam doa daripada yang kita dapat harapkan untuk dicapai dalam satu minggu evangelisasi tanpa doa. Itulah gambarannya betapa dalamnya Allah ingin menarik orang-orang untuk hidup dalam iman kepada-Nya. Oleh karena itu marilah kita meng-komit diri kita supaya berdoa dalam segala hal, teristimewa menyangkut karya di mana kita mensyeringkan iman kita dengan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, kami mohon kepada-Mu agar Engkau mau melepaskan suatu banjir penginjilan di seluruh dunia. Penuhilah diri semua orang Kristiani di mana saja mereka berada dengan Roh Kudus-Mu, agar kami semua dapat menjadi terbuka bagi bimbingan dan ketaatan terhadap dorongan-dorongan-Nya. Semoga dalam milenium ketiga ini banyak jiwa dapat diubah oleh kuasa Injil. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 23, 2013

YOHANES PEMBAPTIS BELAJAR DARI ZAKHARIA DAN ELISABET

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Senin, 24 Juni 2013)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80)

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zaharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya.

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Nyanyian Pujian Zakharia: Luk 1:67-79). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Jun 14, 2013

INTEGRITAS KITA AKAN BERBICARA SENDIRI!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2013)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37)

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Standar-standar kebenaran yang ada dalam Injil untuk kita hayati sungguh dapat mengecilkan hati kita! Hal ini benar teristimewa dalam kasus “Khotbah di Bukit”. Ketika kita mendengar sabda Yesus berkaitan dengan memegang sumpah dan melanggar sumpah, kita dapat saja memandangnya sebagai suatu ketidakmungkinan untuk taat kepada apa yang dikatakan Yesus itu – dan hal ini benar jika kita mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri. Akan tetapi, Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal dalam diri kita, menguduskan kita, dan membuat kita semakin serupa dengan diri-Nya.

Selagi kita mengasihi Yesus dan tetap berada dekat dengan diri-Nya setiap hari, maka kita akan mengalami kasih Allah yang mempunyai daya untuk mentransformasikan diri kita. Hidup Yesus akan mengalir ke dalam diri kita dan melalui kita, dan “tuntutan-tuntutan” Yesus terhadap kita pun tidaklah akan kelihatan sedemikian tidak mungkinnya. Kita akan sampai pada titik di mana kita akan memahami dan percaya secara mendalam bahwa Yesus akan memberikan kita rahmat yang diperlukan untuk menghadapi segala macam situasi kehidupan. Jadi, kita tidak akan berputus-asa ketika mencoba – dengan jatuh-bangun – mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita.

Kita dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan Roh Kudus untuk memurnikan diri kita dari pikiran mendua, rasa curiga dan tipu-daya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun dapat menjadi begitu murni dalam hati sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk bersumpah. Integritas kita akan berbicara sendiri! Dapatkah kita membayangkan seseorang memerintahkan Ibu Teresa dari Kalkuta untuk bersumpah – teristimewa berkaitan dengan integritas karya pelayanannya?

Apakah Saudari-Saudara percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi atas diri anda? Apakah anda percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam hidup anda dengan tingkat kedalaman yang sama? Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seperti dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Jadi, selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan bertobat atas dosa-dosa kita, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah yang menyembuhkan. Hanya Dia yang dapat membentuk nurani kita sampai titik di mana kita secara naluriah dapat menghindarkan diri dari godaan-godaan untuk menipu orang-orang lain. Dan selagi terang kesaksian hidup kita menyinari orang-orang lain, mereka akan memuliakan Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita (lihat Mat 5:16).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “Amin” dari Allah (2Kor 1:15-22), satu-satunya pengharapan kami untuk kejujuran dan rasa percaya dalam dunia ini. Oleh Roh Kudus-Mu, bersihkanlah kami dari segala pikiran mendua. Buatlah kami menjadi mercu-mercu suar yang terang bercahaya dari kuat-kuasa Injil-Mu sehingga dengan demikian dunia dapat percaya kepada-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 10, 2013

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MEMBATASI VISI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Selasa, 11 Juni 2013)
KFS: HARI RAYA S. BARNABAS, RASUL – HARI JADI KONGREGASI

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Kabar tentang mereka itu terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas pergi ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat anugerah Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati serta kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Lalu banyak orang dibawa kepada Tuhan. Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Dia Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b-26;13:1-3)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13

“Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman” (Kis 11:24).

Deskripsi tentang Barnabas dapat berlaku untuk sejumlah orang, baik perempuan maupun laki-laki, baik dalam Alkitab maupun di dunia pada hari ini, bahkan dapat berlaku bagi kita juga. Allah telah mengundang kita masing-masing untuk menjadi anak-Nya dan melayani Dia dalam kasih.

Selagi kita merayakan kehidupan Santo Barnabas pada hari ini, kita harus mengingat bahwa dia – seperti kita juga – adalah seorang pribadi yang disentuh oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi hamba/pelayan. Kekudusan Barnabas bertumbuh dengan berjalannya waktu dan melalui cara dia bereaksi terhadap situasi kehidupan setiap hari. Pada saat Lukas memperkenalkan Barnabas untuk pertama kalinya, dia hanya menceritakan kepada kita bahwa Barnabas mendonasikan hasil penjualan sebagian tanahnya kepada para rasul untuk diberikan kepada orang-orang miskin (Kis 4:36-37). Itulah yang kita dengar untuk sementara. Barnabas hanyalah seorang pribadi biasa-biasa saja yang dengan murah-hati menanggapi seruan para rasul yang membutuhkan bantuan keuangan. Baru setelah cukup lama, nama Barnabas muncul kembali, dan kali ini sebagai seorang rasul yang bijak dan dapat dipercaya. Kita hanya dapat menebak-nebak bahwa pengambilan keputusan sehari-hari yang dibuatnya telah membuat dirinya menjadi salah seorang misionaris yang pertama dan terbesar dari Gereja perdana.

Allah tidak ingin sekadar menggunakan para kudus besar untuk membangun Kerajaan-Nya. Dia juga ingin menggunakan kita masing-masing. Ingatlah pula, bahwa orang-orang kudus besar pun memulai semuanya seperti kita sekarang. Kebesaran mereka terletak pada ketaatan mereka kepada Allah dan keterbukaan mereka terhadap rencana-Nya bagi kehidupan mereka. Perubahan dalam diri mereka dari “biasa-biasa” saja menjadi “luar biasa” datang selagi mereka menyerahkan kehendak mereka kepada Tuhan hari demi hari. Melalui Roh Kudus, hal yang sama dapat terjadi dengan diri kita.

Allah menginginkan kita masing-masing untuk menjadi seorang agen, melaluinya Dia membawa hidup-Nya ke dalam dunia. Dia mungkin memanggil kita untuk menjadi para pendoa syafaat, menjadi penginjil, pendamping bagi orang-orang miskin, para pendoa bagi kesembuhan orang-orang sakit, nabi-nabi bagi dunia di sekeliling kita. Jadi, kita tidak pernah boleh membatasi visi Allah. Kita juga harus memperkenankan-Nya meluaskan visi kita. Jika kita menempatkan diri kita pada tangan-tangan Tuhan, menyingkirkan rasa takut kita dan merangkul hasrat-hasrat-Nya bagi diri kita, maka lihatlah bagaimana kita dapat membawa efek yang baik kepada dunia.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memilih aku dalam Kristus untuk menjadi anak-Mu dan melengkapi diriku dengan Roh Kudus untuk membawa hidup-Mu kepada dunia ini. Bagaimana aku dapat berterima kasih kepada-Mu secara memadai untuk segala privilese yang Kauberikan kepadaku untuk melayani-Mu? Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 03, 2013

KEPADA ALLAH DAN WONG CILIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 4 Juni 2013)

Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Kulihat!” Mereka pun membawanya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia. (Mrk 12:13-17)

Bacaan Pertama: Tb 2:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 1112:1-2,7-9

Para pemimpin dan pemuka agama Yahudi di Yerusalem sudah melakukan “perlawanan” terhadap Yesus untuk beberapa waktu lamanya. Sekarang, Yesus sudah berada di kota suci Yerusalem. Rencana jahat untuk melawan Yesus semakin memanas dalam hati dan kepala orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi yang pada dasarnya menentang pemerintahan/penjajah Romawi dan para pendukung Herodes (kaum Herodian) yang adalah para kolaborator pemerintahan Roma, justru kali ini bergabung bersama untuk melawan Yesus, “musuh bersama” mereka.

Pada awalnya mereka “memuji-muji” Yesus, sang Rabi dari Nazaret: “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah” (Mrk 12:14). Pertanyaan ini adalah untuk menjebak Yesus. Lalu barulah pertanyaan kedua (pertanyaan penjebak sesungguhnya) dilontarkan oleh mereka kepada Yesus: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak” (Mrk 12:14). Jika Yesus menjawab “ya”, hal itu akan mendiskredit diri-Nya sendiri di depan publik yang pada umumnya menentang penjajahan Romawi. Sebaliknya, apabila Yesus menjawab “tidak”, maka cepat atau lambat Dia akan akan berada dalam posisi sulit berhadapan dengan penjajah Romawi.

Namun, Yesus bukanlah Yesus jika Dia sampai terjebak! Sebaliknya ...... Dia menggiring pembicaraan mereka ke luar dari dari ranah politik dan meletakkannya di ranah iman. Yesus mengakui otoritas sipil Kaisar untuk menarik pajak, namun Yesus juga dengan jelas mengungkapkan kenyataan misi-Nya bahwa Dia bukan datang untuk mendirikan sebuah kerajaan dunia sebagaimana diharapkan banyak orang dari sang Mesias.

Yesus membedakan antara pajak yang diberikan kepada Kaisar dan apa yang menjadi hak Allah dalam bentuk devosi atau sembah-bakti, ketaatan, dan kasih. Uang logam kekaisaran Roma memuat gambar Kaisar, sedangkan kita manusia yang percaya adalah gambaran Allah sendiri. Gambaran seperti inilah yang memprihatinkan Yesus di atas segalanya yang lain. Ia mengetahui bahwa apabila kita menghormati gambaran-Nya dalam diri kita dan berupaya untuk mengembangkan keserupaan kita dengan diri-Nya, maka segalanya yang lain akan menjadi beres.

Uang memang diperlukan untuk menghidupi keluarga-keluarga kita dan untuk menolong orang-orang lain. Akan tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak melihat segala sesuatu sekadar dari sudut keuangan. Memang kita harus menjadi pengurus (Inggris: stewards) dari berbagai sumber daya yang kita miliki, namun kita juga harus memberikan hati kita sendiri – siapa diri kita sebenarnya – kepada Allah. Yesus ingin agar kita memandang segala masalah melampaui urusan-urusan dunia dan mengembangkan kemurahan-hati penuh rasa syukur, baik kepada Allah maupun kepada “wong cilik”. Selagi kita bertumbuh dalam mencurahkan hati kita dalam kasih dan pelayanan kepada Allah, maka damai-sejahtera-Nya akan menggantikan rasa letih-lesu kita. Masalah-masalah yang tadinya menjadi beban berat terasa mulai berkurang. Kita pun akan menemukan energi dan hasrat untuk senantisa menyenangkan Allah yang kita tidak pernah pikir kita dapat melakukannya.

DOA: Yesus, aku memberikan hidupku kepada Engkau saja, Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku menghormati dan memuliakan Engkau dengan memenuhi tanggung-jawabku untuk senantiasa setia kepada-Mu serta perintah-perintah-Mu. Ajarlah aku untuk menggunakan kehidupanku di atas muka bumi ini seperti Engkau sendiri lakukan, yaitu untuk melayani kedatangan Kerajaan Allah. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS