Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Mei 21, 2012

BUAH ROH: BEBERAPA CATATAN



Kita ( anda dan saya ) tentunya pernah atau masih merasakan bahwa buah yang kita hasilkan untuk Kerajaan Allah masih sangat sedikit dan kecil, padahal Kitab Suci mencatat dengan jelas bahwa “Roh Kudus ingin agar menghasilkan buah melalui diri kita!” Yesus mengatakan kepada para murid-Nya – termasuk kita semua – “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Bagaimana kelihatannya “buah” yang dimaksud, dan apakah yang dapat kita harapkan sementara kita menyerahkan diri kita secara lebih penuh kepada Roh Kudus?

Tempat pertama yang harus kita perhatikan terletak di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Apakah kita telah melihat bahwa Roh Kudus sedang mengubah diri kita dari dalam? Apakah ada damai-sejahtera dalam diri kita? Apakah kita lebih yakin akan kasih Allah? Apakah kita lebih berkemauan untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan? Ini semua adalah tanda-tanda dari hidup yang baru. Semuanya menunjuk kepada Roh yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus dan mempersiapkan kita untuk melayani Dia secara lebih mendalam.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul Kristus diubah dari dalam dan mulai memanifestasikan buah-buah Roh yang sama. Sebagai akibat dari transformasi, mereka diberdayakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mewartakan Injil, dan mendirikan gereja (jemaat) di banyak tempat. Ingatlah, bagaimana sebelum pencurahan Roh Kudus, Petrus menangisi imannya yang lemah dan penyangkalannya terhadap Yesus. Namun setelah pengalamannya di Ruang Atas, murid/rasul yang dilanda rasa takut dan ketidakpastian itu diubah menjadi seorang saksi Kristus yang tangguh dan berani, dan suatu instrumen Roh Kudus yang penuh kuat-kuasa.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Selagi kita membuka diri kita bagi karya Roh Kudus yang mentransformasikan, kita akan melihat tanda-tanda kehadiran-Nya dalam diri kita. Tidak hanya kita akan memiliki suatu damai di hati, kita juga akan mempunyai kuasa untuk mengasihi orang yang berlainan dengan kita – bahkan mefreka yang mungkin telah menyakiti kita di masa lalu. Kita akan mengenal sukacita Kristus di tengah penderitaan dan mampu untuk mengkomunikasikan sukacita itu kepada orang-orang lain yang sedang menderita juga.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Allah mempunyai suatu panggilan yang unik untuk setiap pribadi yang telah dibaptis – suatu cara spesifik bagi kita untuk turut serta memajukan Kerajaan-Nya dan menghasilkan buah dalam Gereja. Apa yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin menjadi instrumen-Nya dalam Gereja dan di tengah dunia.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). Tubuh manusia terdiri dari banyak anggota/bagian seperti tangan, kaki, mulut dan mata, demikian pula dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Apabila salah satu dari kita meminimalisir atau mengabaikan martabat kita dan panggilan kita sebagai anggota tubuh-Nya, maka keseluruhan Gereja menjadi diperlemah.

Mungkinkah Roh Kudus sedang memanggil anda untuk melayani dalam penyembuhan orang-orang sakit, mengajar, atau mengunjungi orang sakit dan/atau yang sedang meringkuk dalam penjara? Apakah Dia sedang mengundang anda untuk melayani dalam melakukan doa-doa syafaat (pengantaraan), evangelisasi, atau untuk memberi makan-minum orang yang lapar-haus dan memberi pakaian kepada mereka yang telanjang (Mat 25:31-46)? Gereja membutuhkan begitu banyak karunia dewasa ini: a.l. karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia sabda pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk membuat mukjizat, karunia untuk bernubuat dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1Kor 12:8-11) dll. Allah ingin menganugerahkan berbagai karunia ini kepada orang-orang biasa seperti anda dan saya. Namun seringkali kita membuat diri kita disqualified (tidak memenuhi syarat) berdasarkan pemikiran bahwa kita tidak pantas untuk menerima pemberian Allah yang penuh kebaikan seperti itu. Kita seringkali berpikir bahwa diri kita tidak signifikan sehingga dengan demikian tidak seharusnya mengharapkan Allah akan pernah berpikir untuk mempercayakan kita dengan sesuatu yang begitu penuh dengan kuat-kuasa.

Namun ini bukanlah cara Allah berpikir. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN (YHWH) melihat hati” (1Sam 16:7). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus – kebanyakan dari mereka adalah “wong cilik”: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang-orang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahwa apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:26-29). Bahkan para rasul Kristus sendiri adalah orang-orang biasa yang hidup sehari-harinya adalah membuat seimbang antara karya dan keluarga (Kis 4:13).

Marilah kita melihat Santo Yusuf. Yusuf adalah seorang tukang kayu sederhana di Nazaret, namun dirinya dipanggil untuk selama sekian tahun mengurus Yesus adalah Putera Allah yang kekal! Bapa surgawi tidak memilih seorang rabi yang terkenal atau seorang anggota Sanhedrin (mirip dengan MUI dalam hal Indonesia dewasa ini). Allah melihat bahwa Yusuf-lah yang memiliki kualitas-kualitas pribadi yang diperlukan-Nya: kerendahan-hati dan ketaatan kepada Roh Kudus.

Ketaatan kepada Roh Kudus. Allah memanggil kita untuk menghasilkan buah Roh bagi-Nya. Apakah ada penghalang-penghalang yang merintangi kita untuk menghasilkan buah untuk Tuhan? Apakah kita merasa terlalu lemah dan berdosa? Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita pemahaman yang lebih mendalam mengenai belas kasih Allah. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita betapa dalamnya Bapa surgawi mengasihi kita. Kita memang tidak boleh puas dengan “pengalaman setengah-setengah” (mediocre experience) akan Allah. Juga janganlah kita cepat puas dengan visi setengah-setengah tentang bagaimana Roh Kudus mungkin menginginkan untuk menggunakan diri kita (anda dan saya). Yesus bersabda: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Ingatlah bahwa kebutuhan memang besar sekali, namun kuasa Tuhan jauh lebih besar lagi. Yang dibutuhkan-Nya adalah umat yang menyerahkan diri kepada-Nya, siap untuk dipakai oleh-Nya.

Bagaimana kiranya menurut kita Roh ingin memberdayakan kita dan menggunakan kita dalam memajukan Kerajaan-Nya? Di bawah ini ada beberapa contoh kemungkinan yang dapat kita pertimbangkan.

         Mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Lewat Paus Yohanes Paulus II, Roh Kudus telah memanggil Gereja kepada EVANGELISASI BARU. Kita tidak perlu dan tidak boleh membebani pelayanan ini sepenuhnya kepada para imam dan para biarawati-biarawan, karena evangelisasi adalah tugas setiap anggota tubuh Kristus. Evangelisasi tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar khotbah karena tidak semua orang dapat/diperbolehkan melakukannya, melainkan teristimewa melalui kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau tidak. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus-lah yang memegang peranan utama dalam evangelisasi. Kita hanyalah sarana untuk Roh Allah bekerja dalam evangelisasi.

         Melayani orang sakit. Apabila seseorang mengatakan kepada kita bahwa dirinya sedang menderita sakit, kita harus mencoba bertanya kepadanya apakah dapat berdoa bersama dengan dia untuk beberapa menit lamanya. Banyak orang yang berterima kasih penuh syukur atas tawaran kita itu. Selagi kita mendoakan sebuah doa penyembuhan sederhana kepada Tuhan, perkenankanlah Roh Kudus dalam diri kita untuk mengalir kepada orang tersebut. Baiklah kita menumpangkan tangan kita di pundaknya, atau memegang tangannya selagi kita berdoa. Apakah kita memiliki karunia istimewa sebagai seorang penyembuh atau tidak, kita akan melihat bahwa sedikit demi sedikit orang akan datang kepada kita untuk didoakan.

Sebuah catatan kecil: Jika kita sudah mengetahui benar bahwa kita tidak dianugerahkan karunia untuk menyembuhkan (1Kor 12:9), maka hal itu tidak berarti kita tidak boleh mendoakan seseorang yang sedang sakit dalam sebuah pertemuan yang secara relatif dihadiri banyak orang, namun janganlah ikut ramai-ramai menumpangkan tangan di atas pundak atau kepala si sakit. Berdirilah di bagian belakang ketika berdoa dan perkenankanlah saudari-saudara yang memiliki karunia istimewa tersebut yang menumpangi tangan.

         Doa syafaat (pengantaraan). Doa syafaat adalah pelayanan tersembunyi namun sangat berpotensi dalam tubuh Kristus. Dari sebutannya saja doa syafaat ini berarti bukanlah doa untuk diri sendiri. Kita dapat mengundang anggota keluarga kita atau anggota komunitas kita untuk berdoa bersama, misalnya seminggu sekali untuk intensi/ujud yang kita rasakan telah ditaruh Allah dalam hati kita, misalnya mendoakan agar tercipta suasana damai antara para rohaniwan dalam paroki kita masing-masing, agar Gereja Indonesia tetap tegar, teguh dan jujur dalam misi-Nya di tengah hiruk-pikuknya suasana sosial-politik negara kita, dlsb. Dalam hal ini ingatlah janji Yesus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situAku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

         Menjadi sarana Allah untuk melayani sesama kita berdasarkan kehendak-Nya. Seringkali kita merasakan bahwa Allah mengatakan sesuatu, namun kita mengabaikan atau menyepelekannya sebagai sesuatu yang bukan apa-apa, mungkin hanya sekadar khayalan. Ingatlah bahwa Allah mungkin sedang memberikan kepada kita kata-kata penghiburan bagi seseorang yang sedang kesepian dan sedih karena baru ditinggalkan pasangan hidupnya, atau sedang merasa sakit hati dlsb. Jadi, apabila kita merasakan adanya kata-kata yang tidak biasa dari diri kita sendiri, baiklah kita tulis dan mendengarkan dengan serius untuk melihat apakah Allah masih ingin mengatakan lebih banyak lagi kepada kita. Seringkali Roh Kudus berbicara dengan bisikan halus kepada kita (bdk. 1Raj 19:12). Akan tetapi semakin kita mencoba mempraktekkan apa yang kita dengar, maka kita akan mengalami bahwa suara Allah pun menjadi semakin jelas.

Semua yang disebutkan di atas adalah sekadar beberapa contoh untuk menunjukkan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing dengan segala variasinya.

Sebuah doa: Datanglah, Roh Kudus! Roh Kudus Allah, kami mempersembahkan diri kami, waktu kami dan karunia-karunia yang ada pada diri kami masing-masing. Dengan segala kerendahan hati kami memperkenankan Engkau untuk memimpin dan membimbing kami seturut kehendak-Mu, bukan kehendak kami sendiri. Kami menyerahkan setiap area dari kehidupan kami agar Engkau dapat menghasilkan buah di dalam dan melalui diri kami. Roh Allah yang kami sembah, kami tidak dapat hidup tanpa Engkau. Kami tidak dapat dapat ikut serta memajukan Kerajaan Surga apabila kami tidak patuh kepada-Mu. Teristimewa menjelang Hari Raya Pentakosta yang tinggal beberapa hari ini, sekali lagi kami berikrar bahwa kami dengan ikhlas memberikan segalanya kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Selasa 22 Mei 2012 )

Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:17-27)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11,20-21; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a

Dalam pesan perpisahannya dengan para penatua di Efesus, Paulus menunjukkan tiga karakteristik atau ciri pribadi yang dibutuhkan oleh setiap orang Kristiani terbaptis untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah memperbaharui muka bumi. Pertama, Paulus adalah seorang yang memiliki keberanian. Ia berkata: “Sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kis 20:22-23). Paulus sangat menyadari bahaya apa saja yang menantikan dirinya di Yerusalem, dan ia memang merasa sedikit takut juga bilamana dia memikirkan hal itu. Namun Paulus mengkonfrontir rasa takutnya dan terus bergerak maju dalam iman.

Kedua, Paulus itu fokus. Katanya, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah” (Kis 20:24). Winston Churchill pernah mengatakan, “Seorang fanatik adalah orang yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak akan mengubah subyeknya.” Berdasarkan definisi ini, Paulus seorang fanatik dalam arti sesungguh-sungguhnya dan pantas ditiru. Dia mengetahui panggilan Allah bagi hidupnya, dan ia ingin memenuhi panggilan Allah dengan setia. Dapatkah anda membayangkan apa yang kiranya yang terjadi apabila Paulus kehilangan fokus? Begitu banyak orang tidak akan merangkul Kabar Baik Yesus Kristus yang diwartakannya!

Akhirnya, Paulus tidak ragu-ragu untuk mewartakan Injil. Dia berkata: “Aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah” (Kis 20:20). Paulus mengetahui bahwa dalam Kristus, setiap orang dapat menemukan hidup baru dan suatu relasi dengan Allah yang dipulihkan. Ia juga mengetahui bahwa tidak seorang pun akan mendengar tentang Yesus apabila tidak ada orang yang mau memproklamasikan nama-Nya. Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis begini: “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:10:14-17).

Sudah lebih dari 30 dasawarsa, para pemimpin gereja menyerukan perlunya “Evangelisasi Baru”. Siapa yang akan menjawab panggilan agung ini? Allah tidak membutuhkan orang-orang yang sangat berbakat atau mereka yang memiliki gelar-gelar akademis hebat-hebat. Allah membutuhkan orang-orang yang sungguh mengasihi Yesus! Allah membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian untuk menghadapi rasa takut mereka, mereka yang fokus pada Yesus, dan orang-orang yang tidak malu berbicara tentang Injil Yesus Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya. Allah membutuhkan kita (anda dan saya), Saudari dan Saudaraku!

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan semangat penuh gairah seperti telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Buatlah rasa takutku menjadi tenang dan penuhilah diriku dengan keberanian sejati. Tolonglah aku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitarku – teristimewa mereka yang dekat padaku. Tuhan Yesus, berikanlah juga kepadaku rahmat untuk berbagi Injil-Mu kepada setiap orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mei 20, 2012

MENJADI YESUS DI DALAM DUNIA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Senin 21 Mei 2012 )
  

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.
Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33

Di mata Paulus, ada sesuatu yang kiranya salah dengan umat di Efesus. Mereka memang murid-murid dan ia pun tidak memberi nasihat dan menyapa mereka sebagai para pendosa. Namun ada sesuatu yang hilang! Mungkin mereka sudah kehilangan gairah, kehilangan sukacita dan energi. Barangkali persaingan dan konflik kecil-kecilan antara mereka di sana-sini telah memecah-belah umat. Barangkali mereka telah mencoba dengan segela kekuatan manusiawi mereka untuk menghindari dosa tanpa hasil nyata. Apa pun hasil pengamatan Paulus, pertanyaan yang diajukannya kepada beberapa orang murid yang ditemuinya langsung tertuju kepada inti permasalahannya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” (Kis 19:2).

Jawaban mereka memberi konfirmasi kepada Paulus apa yang diperkirakan oleh Paulus sebelumnya: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus” (Kis 19:2). Mereka telah mendengar pesan pertobatan dari Yohanes Pembaptis dan menerima pembaptisan tobat dari nabi besar ini, namun tidak pernah berhubungan dengan Yesus, “Anak Domba Allah” kepada Siapa pelayanan Yohanes Pembaptis sebenarnya ditujukan (Kis 19:3-4).

Begitu Paulus mengatakan kepada mereka tentang tujuan Allah yang lebih besar, maka mereka pun menginginkannya. Dengan demikian, pada saat Paulus berdoa bersama mereka dan membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus, Roh Kudus turun atas diri mereka, dan mereka pun ditransformasikan; mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:5-6). Para murid itu berjumlah kira-kira dua belas orang (Kis 19:7).


Sekarang, bagaimana dengan pengalaman kita masing-masing selama ini? Apakah kita juga telah kehilangan tujuan Allah yang sejati? Bagaimana? Apakah selama ini kita telah mereduksi hidup kita sebagai umat Kristiani sekadar berupa penghindaran diri dari dosa? Allah ada bagi kita untuk hal-hal yang lebih besar daripada sekadar menghindarkan diri dari kedosaan! Andaikanlah Adam dan Hawa hanya mendengar Allah bersabda: “Jangan makan buah dari pohon itu.” Andaikan mereka duduk sepanjang hari, mengumpulkan ketabahan moral mereka untuk menghindari godaan, bukannya melakukan eksplorasi di taman firdaus dan belajar memperhatikan dan memelihara serta merawat seluruh ciptaan Allah. Kalau begitu halnya, bayangkan betapa banyak kehilangan mereka!

Allah ingin agar kita menjadi cocreator dengan Dia. Seperti halnya dengan para murid di Efesus, Allah sungguh rindu untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya sendiri sehingga kita dapat menjadi Yesus di dalam dunia, menyentuh mereka yang kita temui dengan cintakasih tanpa syarat, pengampunan yang membebaskan, penyembuhan yang penuh kuasa, dan pengangkatan pengharapan dan keberanian.

Bilamana kita telah sampai pada suatu akhir hari, pemeriksaan batin adalah praktek yang indah, namun janganlah kita hanya mengingat dosa-dosa kita melalui pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian pada hari itu, dan merasa lega untuk dosa-dosa yang berhasil kita hindari. Marilah kita juga memeriksa bagaimana Allah mencoba melakukan sesuatu lewat diri kita pada hari itu: Apakah itu dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang lain? Dalam peristiwa-peristiwa yang tidak diharap-harapkan yang menginterupsi rencana-rencana kita? Dalam inspirasi yang datang melalui sebuah buku, seorang sahabat, sebuah lagu yang penuh kenangan, atau suara seperti angin-angin sepoi-sepoi basa? Dan apakah kita mampu untuk mengatakan, “Ya! Aku melihat bahwa Engkau berniat lebih bagiku, dan aku mengingininya”?

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena rencana-Mu yang besar bagi diriku. Perkenankanlah aku melihat seperti Engkau melihat dan menghasrati sesuatu seperti Engkau hasrati. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuka diriku pada hari ini terhadap satu langkah yang Engkau undang aku untuk membuatnya bersama-Mu sambil bergandengan tangan guna mentransformasikan dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mei 17, 2012

YESUS BERJANJI KEPADA PARA MURID-NYA BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN MEREKA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Jumat 18-5-12 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dari Cantalice, Biarawan Kapusin

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Mei 16, 2012

ALLAH TELAH NAIK DENGAN DIIRINGI SORAK-SORAI


( Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN, Kamis 13-5-10 )


Aku meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kaya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu. (Ef 1:17-23)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3.6-9; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

“Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN (YHWH) itu, dengan diiringi bunyi sangkakala” (Mzm 47:6).

Allah Bapa di surga dengan tepat sekali memilih waktu dan tempat bagi kedatangan Yesus ke tengah dunia ini. Dalam mengutus Putera-Nya kepada umat manusia sebagai seorang bayi kecil, Ia menunjukkan kepada kita kuasa dari kerendahan-hati (kedinaan). Sementara Yesus mentaati kehendak Bapa, sebenarnya Bapa menunjukkan kepada kita kuasa luarbiasa dari “ketaatan” dan “kasih”. Dibebani oleh dosa-dosa dunia, sang “Anak Domba Allah” menanggung hukuman yang sebenarnya pantas dikenakan pada kita. Namun Yesus tidak musnah! Sang Anak Domba Allah yang tanpa noda mengalahkan dosa, maut dan Iblis. Dengan demikian, bersama Santo Paulus layaklah bagi kita untuk berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk “Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Ef 1:17). Kita juga harus senantiasa bersyukur kepada Allah untuk kehebatan “kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga” (Ef 1:19-20).

Gambaran terakhir yang dimiliki dunia tentang Putera Allah adalah seorang manusia yang dikhianati, disiksa, dijatuhi hukuman mati lewat penyaliban di bukit Golgota dan dikuburkan. Namun dengan mata iman, kita sekarang dapat melihat bahwa kehendak Bapa dipenuhi melalui Yesus (lihat Ef 1:20). Allah Bapa juga telah meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus (Ef 1:22), dan Ia pun telah memberikan tempat di surga kepada Putera-Nya, sebuah tempat yang memang hanya diperuntukkan bagi-Nya (Ef 1:20-21).

Baiklah kita bersembah sujud di hadapan hadirat Allah karena Putera-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai pencobaan dan penderitaan, namun Allah senantiasa memberikan pengharapan kepada kita. Dengan gembira kita menantikan kedatangan kembali Juruselamat kita, pada saat keadilan akan menjadi kenyataan dan segala kesalahan akan dibuat benar. Kita semua merindukan kedatangan kembali Yesus, sang Juruselamat. Pantaslah bagi kita untuk bersama segala ciptaan senantiasa menyanyikan lagu pujian bagi Yesus Kristus selagi Dia sedang terangkat tinggi di atas awan.

Marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus Kristus – Raja segala raja – untuk memberdayakan kita agar mampu membawa karunia keselamatan kepada semua orang yang hidup di sekeliling kita. Kita juga pantas untuk memohon kepada Yesus, semoga keajaiban dari kenaikan-Nya ke surga memenuhi diri kita dengan pengharapan, semoga memperkuat kita untuk mewartakan Kabar Baik-Nya, a.l. bahwa Dia memang kini memerintah dalam kemuliaan pada sebelah kanan Allah Bapa! Di atas segalanya, marilah kita menghaturkan terima kasih kita kepada Yesus dengan penuh syukur karena walaupun kita pantas dihukum karena dosa-dosa kita, Dia sudi menjadi penebus kita. Yesus menyelamatkan kita dari hukuman yang memang pantas untuk ditimpakan pada diri kita. Bahkan pada saat-saat kita sedang terjebak tak berdaya di dalam jurang dosa, Yesus tetap mengasihi kita. Itulah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, yang kenaikan-Nya ke surga kita rayakan pada hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah memberikan kepada kami segala hal yang ada di surga sebagai para pewaris surga bersama-Mu. Kami mengetahui bahwa kami tidak akan pernah mampu untuk membayar kembali karunia yang sedemikian. Dengan rendah hati dan penuh syukur kami menyerahkan diri hidup kami kepada-Mu, agar dengan demikian kami dapat bersatu dengan Engkau, sekarang dan selamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mei 15, 2012

TUGAS ROH KUDUS ADALAH UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Rabu 16-5-12 )
 Keluarga Fransiskan: Peringatan Santa Margareta dari Cortona, Ordo III Sekular

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15)

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22-18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Tidakkah kita (anda dan saya) juga ingin mengetahui “seluruh kebenaran” dan memahami “hal-hal yang akan datang”? Bayangkan semua pertanyaan yang dapat kita jawab dan segala rasa takut yang dapat kita hilangkan. Bayangkan kita dapat mengantisipasi setiap situasi dan mempunyai solusi yang benar untuk setiap masalah.

Dalam artian tertentu, inilah yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya – dan murid/pengikut-Nya yang menyusul, seperti kita yang hidup di abad ke-21 ini. Akan tetapi, pengetahuan yang diberikan oleh Roh-Nya bukanlah pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa dunia melainkan pengenalan akan Yesus sendiri, di mana “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Karena Roh Kudus, setiap orang yang percaya dari setiap generasi mempunyai janji mengenal Yesus secara intim/akrab, dan sebagai akibatnya mempunyai akses kepada semua hikmat yang diperlukan seseorang untuk hidup dalam dunia ini.

Tahu bahwa diri-Nya akan naik menghadap Bapa, Yesus berjanji untuk memberikan kepada para pengikut/murid-Nya Roh Kudus, yang “tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13). Roh Kudus yang hidup sejak kekal dalam Trinitas, telah diberikan kepada kita untuk membawakan sukacita dan kuasa surgawi ke tengah dunia, dan untuk mengangkat hati manusia kepada kemuliaan surga. Apakah anda ingin mengetahui bagaimana mengasihi seorang anggota keluarga, seorang anggota lingkungan, atau seorang anggota komunitas yang sulit? Tanyalah kepada Roh Kudus yang berdiam dalam diri anda untuk menunjukkan caranya kepada anda. Apakah anda ingin mengetahui cara yang terbaik untuk merawat anak-anak anda? Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada anda bagaimana Yesus akan merawat mereka, dan mintalah kepada-Nya kekuatan untuk melakukannya seturut bagaimana Jurus selamat kita akan melakukannya.

Tugas Roh Kudus adalah untuk menyatakan kebenaran, tidak hanya kepada kita sebagai individu-individu, melainkan juga kepada Gereja dan dunia. Pada setiap zaman, Roh Kudus membangkitkan perempuan dan laki-laki sebagai juru-bicara-Nya. Mereka adalah para nabi yang hidup seturut Kitab Suci dan memiliki kerendahan hati yang memampukan mereka untuk menyampaikan sabda Allah dengan keberanian dan keyakinan mendalam. Dalam segala cara yang berbeda-beda, Yesus mengundang kita untuk mendengarkan sabda-Nya, dan melalui Roh Kudus-Nya, mengalami kuasa kasih-Nya. Semoga kita senantiasa menjaga hati kita masing-masing tetap terbuka, siap setiap saat untuk mendengarkan apa yang disabdakan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, dengan antisipasi yang besar kami membuka hati kami masing-masing bagi-Mu. Seperti para rasul, kami mengetahui bahwa kami tidak dapat menanggung kepenuhan dari segala hal yang Engkau ingin tunjukkan kepada kami. Walaupun demikian, kami mohon kepada-Mu agar membimbing serta menuntun kami ke dalam kebenaran-Mu. Persiapankah kami, ya Roh Kudus, bagi kepenuhan yang akan datang bilamana Yesus datang kembali. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mei 14, 2012

AKU PERGI KEPADA DIA YANG TELAH MENGUTUS AKU


 ( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Selasa 15-5-12 )

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11)

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya dapat lebih bersifat intim dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus, mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mei 13, 2012

KITA PUN DIPANGGIL DAN DIPILIH OLEH ALLAH


( Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL, Senin 14-5-12 )

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengaar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain.” (Yoh 15:9-17)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8

Ketika saat penyaliban-Nya sudah mulai mendekat, Yesus bersabda kepada para murid-Nya “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Yesus mengetahui bahwa apabila para murid-Nya harus menjadi cukup kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan sehubungan dengan pembangunan Gereja-Nya di atas bumi, mereka perlu mengetahui bahwa mereka telah dipilih secara pribadi – dipanggil oleh Allah sendiri.

Dengan demikian pentinglah bagi para murid untuk menyadari bahwa mereka itu dipilih! Yesus memahami ini karena Dia telah mengalaminya sendiri – dalam Bait Allah di Yerusalem (Luk 2:49), ketika Dia dibaptis di sungai Yordan (Mat 3:16-17), dan pada peristiwa transfigurasi di atas gunung (Mrk 9:3). Yesus mengetahui bahwa Bapa telah memilih-Nya dan akan menyediakan segalanya yang diperlukan oleh-Nya untuk menanggapi panggilan-Nya. Dengan cara yang serupa, Yesus menginginkan agar kita mengetahui bahwa kita juga telah dipilih.

Kitab Suci memiliki sedikit saja catatan tentang Santo Matias, kecuali tentang bagaimana para rasul berdoa bersama secara serius ketika mempertimbangkan Matias sebagai calon penerus Yudas Iskariot. Akhirnya, Matias dipilih oleh Allah untuk bersama dengan Yesus dan para rasul lainnya. Tentu saja sudah lama dia mengikut Yesus pada waktu Yesus berkeliling melayani orang banyak. Dengan berjalannya waktu, panggilan Matias pun semakin matang dan pada akhirnya Dia pun mati sebagai martir Kristus, sebuah kematian karena kasih mendalam kepada Dia yang telah memanggilnya.

Seperti Matias yang dipilih oleh Allah sendiri, masing-masing kita pun secara khusus dipanggil dan dipilih. Apabila kepada ditanya mengapa kita berdoa, membaca Kitab Suci, atau pergi ke gereja, kita dapat mananggapi pertanyaan tersebut dari hati kita, “Karena Allah sendiri telah telah memilihku dan memanggilku. Aku adalah milik-Nya yang spesial.” Kita mungkin saja tergoda untuk berpikir bahwa kita berada di mana kita berada sekarang sebagai sesuatu yang kebetulan. Salahlah kalau kita berpikir seperti itu! Allah itu begitu besar dan agung, Ia begitu mengasihi kita sehingga tidak akan meninggalkan kita sendiri sebagai korban keadaan. Dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, segalanya berjalan untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi dan mengikuti-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya agar membimbing, menuntun serta menunjukkan kepada kita bagaimana Dia menginginkan kita untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telam memanggil kami sebagai anak-anak-Mu. Kami mohon agar Engkau memenuhi diri kami masing-masing dengan Roh Kudus-Mu agar supaya kami dapat semakin dalam merangkul panggilan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mei 12, 2012

ALLAH SUNGGUH MENGASIHI KITA


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI, 13-5-12 )
Peringatan SP Maria dari Fatima
  
“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.”

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:9-17)

Bacaan Pertama: Kis 10:25-26,34-35,44-48; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:7-10)

Bacaan-bacaan pada hari ini dipenuhi dengan pembicaraan mengenai kasih…… love-talk. Orang-orang sekular, orang-orang yang beriman lain, para motivator semua berbicara tentang kasih-sayang, semua berbicara mengenai cinta-kasih. Nah, apakah ada perbedaan yang sungguh nyata antara kasih yang dihayati umat Kristiani sebagaimana diajarkan oleh Yesus Kristus dengan berbagai “merek” cinta yang dipertontonkan dalam sinetron televisi atau majalah dlsb.? Jawabnya adalah “ya”. Dengan demikian, sangat pentinglah bagi kita semua untuk dengan jelas memahami sifat dan hakekat cinta-kasih Kristiani itu.

Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Jadi, kemuridan kita dikenal lewat tindakan saling-mengasihi antara kita sendiri. Dengan demikian kita sungguh perlu mengetahui apa kasih itu sebenarnya. Apabila mengasihi berarti kita lahir dari Allah dan mengenal Allah (bacaan kedua: 1Yoh 4:7-10), maka patutlah kita mengetahui bagaimana sebenarnya saling mengasihi itu.

Apa definisi dari kasih Kristiani? Pertama-tama, kasih Kristiani tidak ditemukan dalam suatu koleksi kata-kata, melainkan dalam kehidupan nyata Yesus dari Nazaret yang kita imani dan proklamasikan sebagai Kristus (=Mesias). Kasih ini menerima, total, terbuka, tidak menghakimi, dan penuh pengampunan. Di atas segalanya, kasih Yesus murni dan menuntut. Ya, kasih Yesus tidak menghukum namun pada saat yang sama menuntut untuk seseorang tidak berdosa lagi (Yoh 8:11). Kasih sedemikian menantang seseorang untuk hidup baru secara total. Cara hidup baru ini tidak bertentangan dengan kodrat kita, namun merupakan suatu penyempurnaan dari kemanusiaan kita. Kasih Yesus mengangkat ke permukaan segala aspek kemampuan kita untuk mengasihi yang selama ini tersembunyi dan belum dikembangkan. Setiap orang yang berjumpa secara pribadi dengan Yesus tidak pernah lagi menjadi pribadi yang sama …… Tidak seorangpun dapat tetap indifferent setelah bertemu dengan Yesus. Hal ini benar sepanjang zaman, dari abad yang satu ke abad yang lain.

Beberapa contoh saja: (1) Orang-orang majus (kafir) dan para gembala (Yahudi kelas bawah/wong cilik) di padang Efrata yang mengunjungi bayi Yesus – mereka diubah; (2) Para murid pertama yang bekerja sebagai nelayan penjala ikan menjadi penjala manusia; (3) Saulus, seorang Farisi pengejar dan penganiaya umat Kristiani awal menjadi “jawara” evangelisasi yang dikenal sebagai Paulus; (4) Santo Martinus dari Tours [316-397], seorang perwira Romawi kelahiran Hungaria yang dibesarkan di Italia, berjumpa dengan Yesus dalam diri seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan pada suatu malam musim dingin di Eropa, kemudian diangkat menjadi uskup di Tours (Perancis) dan ia adalah seorang pengkhotbah ulung; (5) Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] yang berjumpa dengan Yesus dalam diri seorang kusta, peristiwa mana mengubah hidupnya menjadi seorang pentobat berkesinambungan dan pendiri keluarga rohani paling besar dalam Gereja; (6) Di Indonesia ada Yusuf Roni yang aktif merusak gereja-gereja di Indonesia di tahun 1970’an kemudian menjadi evangelist/pendeta dengan khotbah-khotbah yang penuh dengan kobaran cintakasih kepada Yesus; (7) Haji Amran Amrie, yang setelah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kemudian aktif dengan tulisan-tulisan di bidang apologetika Kristiani yang ditujukan kepada saudari-saudaranya yang Muslim.

Kasih yang dihidupi oleh Yesus dan diharapkan-Nya menjadi bagian dari diri kita adalah kasih yang menolong diperkuatnya relasi yang baru. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena aku telah memberitahukan kepada kamu segala seuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15). Kasih senantiasa mendorong seseorang kepada suatu tingkat intimasi (keakraban) yang lebih mendalam dan juga berbagi pengetahuan. Syering pengetahuan ini adalah mengenai kasih Bapa surgawi bagi anak-anak-Nya. Yesus adalah bukti dan ungkapan paling tinggi dan agung dari kasih Bapa itu.

Bagaimana kasih itu diekspresikan? Pada titik inilah kita mengalami perbedaan besar antara kasih Kristiani dan kasih lain yang tidak menyentuh hal-hal yang bersifat riil. Ekspresi tertinggi dari kasih Yesus bagi kita adalah salib-Nya. Salib Kristus adalah “kasih lebih besar” yang menggerakkan Yesus untuk dengan bebas-sukarela menyerahkan nyawa-Nya untuk komunitas iman. Kasih itu menuntut. Dari contoh Yesus sendiri kita melihat bahwa kasih bahkan dapat menuntut pengorbanan yang paling tinggi/agung. Ada realisme tentang kasih yang menjaganyua jatuh ke dalam romantisme atau sentimentalitas. Kasih Kristiani tidak menyediakan ruang untuk rahmat murahan. Kasih Allah dinyatakan di tengah kita dengan cara berikut ini: Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia sehingga kita dapat memperoleh kehidupan melalui Dia … Allah telah mengasihi kita dan mengutus Putera-Nya sebagai kurban persembahan guna menebus dosa-dosa kita.

Akhirnya, kasih Kristiani menghasilkan sukacita mendalam dalam hati kita. Sukacita sejati bukanlah sekadar suatu kenikmatan yang cepat menghilang atau membuat kita cepat merasa bosan. Sukacita yang diberikan oleh kasih Yesus itu sungguh tahan lama. Sukacita ini adalah sebuah tanda dan “icip-icip pendahuluan” atas nikmatnya Kerajaan Allah. Dengan mengasihi Allah dan saling mengasihi antara kita dalam rangka meniru contoh yang diberikan Yesus sendiri, kita pun telah memasuki babak baru untuk bertemu dengan Bapa surgawi secara muka-ketemu-muka.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan nyatakanlah kasih Allah kepada kami, sehingga kami dapat mengenal serta mengalami kuasa Injil dalam kehidupan kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mei 10, 2012

SAHABAT-SAHABAT YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 11-5-12 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Ignatius dari Laconi, Biarawan Kapusin

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12

Sungguh suatu kehormatan menjadi sahabat-sahabat Yesus! Kita tidak sembarang memakai gelar “sahabat-sahabat Yesus” itu, karena memang diberikan oleh Allah sendiri. Yesus mengasihi kita masing-masing sebagai pribadi dengan kasih yang tak dapat dilampaui oleh kasih yang mana pun juga. Dia bersabda kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Karena ini adalah yang dilakukan Yesus bagi kita, maka kita dapat sepenuhnya percaya bahwa kita memang adalah para sahabat-Nya.

Yesus adalah seorang sahabat yang paling sempurna dari segala sahabat. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang diberikan-Nya kepada kita. Kasih-Nya bukanlah kasih yang bersifat abstrak, melainkan suatu kasih penuh afeksi yang dapat kita alami. Dia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan cara-cara konkret. Yang paling penuh dengan kuat-kuasa tentunya adalah kerelaan-Nya untuk mati bagi kita. Akan tetapi, setiap hari Dia menawarkan karunia-karunia-Nya: “kesabaran” manakala jiwa kita terancam iritasi sehingga mau berontak; “kelemah-lembutan” manakala kekerasan sudah mulai melanda diri kita; “hikmat-kebijaksanaan” manakala hikmat manusiawi kita mulai habis. Dan akhirnya ada karunia “keselamatan” – pengampunan kita, kelahiran baru kita, dan janji akan hidup kekal!

Pada saat Roh Kudus menuliskan kata “sahabat” pada hati kita, kita mulai mencicipi kasih Yesus bagi kita. Menuduh dan menghukum orang lain – dan diri sendiri – selesailah sudah. Rasa takut, rasa bersalah dan rasa cemas serta was-was digantikan oleh pengampunan, dapat menerima, dan damai-sejahteera. Keyakinan bahwa hidup kita terjaga akan menghilangkan rasa ragu dan takut. Hidup kita pun akan memiliki tujuan yang lebih besar selagi kita menanggapi panggilan Yesus sebagai terang dunia dan garam bumi (Mat 5:13-16). Setiap hal yang diterima oleh Yesus dari Bapa-Nya juga menjadi bagian dalam roh kita, dan kita pun mulai menghasilkan buah (Yoh 15:16).

Setiap hari, banyak kali dalam sehari, Yesus menawarkan kepada kita bukti-bukti kasih-Nya dan persahabatan-Nya. Tidak bagi kita saja – tidak untuk disimpan di bawah bantal atau tabungan rohani – melainkan dimaksudkan agar kita dimampukan untuk mengasihi orang-orang lain sebagaimana kita sendiri dikasih oleh-Nya. Dengan cara ini, kita mematuhi perintah-Nya untuk saling mengasihi, dengan demikian semakin serupa dengan gambaran-Nya (Yoh 15:12). Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus bagi Gereja-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah memilih kami sebagai sahabat-sahabat-Mu. Kami sungguh bersukacita dalam persahabatan ini dan dalam transformasi yang dibawa oleh Roh Kudus dalam hidup kami. Kami mengkomit diri kami untuk mengasihi-Mu, melayani-Mu, dan untuk taat kepada-Mu sepanjang hidup kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mei 07, 2012

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 9-5-12 )
 Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan – Ordo II/Klaris
  
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, teristimewa di kalangan orang-orang muda sudah cukup lama ada gejala yang mengekspresikan pandangan berikut ini: “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Saya yakin dalam masyarakat kita pun ada hal yang serupa kalau pun tidak sama.

Bagi banyak orang memang terdapat pemisahan yang sungguh riil antara mengikuti Yesus dan menjadi anggota Gereja. Motif-motif mereka cukup banyak. Beberapa yang cukup sering terdengar a.l. adalah: (1) Gereja terlalu besar, formal dan impersonal; (2) Kami pergi ke gereja dan merasa seakan kami berdiri dalam sebuah toserba atau stasiun kereta. Sedikit saja terasa adanya kehangatan, kasih atau persekutuan; (3) Yang kami lakukan dalam gereja hanyalah duduk, berdiri, berlutut dan sekali-kali turut bernyanyi dan menyerukan aklamasi bersama orang-orang lain; (4) Homili atau khotbah-khotbahnya seringkali tidak membumi, jauh dari kenyataan hidup kami sehari-hari; (5) Bacaan-bacaan terasa aneh atau sudah kami kenal baik; (6) Kami merasa sulit mengasosiasikan iman dan cintakasih kami kepada Yesus Kristus dengan Gereja yang begitu melembaga.

Sebaliknya, kami merasa tertarik kepada pribadi Yesus: (1) Pesan kasih Yesus, pelayanan-Nya dalam menyembuhkan serta mengampuni, dan keakraban-Nya dengan Bapa di surga sungguh berkesan di hati kami; (2) Kami ingin menjadi anggota sebuah komunitas di mana kami dikasihi dan diterima; (3) Kami tidak mau dianggap sekadar sebagai satu wajah lain lagi dalam jemaat; (4) Kami ingin merasakan iman kami sebagai suatu kekuatan vital dalam hidup kami sehari-hari: (5) Bukan struktur atau organisasi yang penting, melainkan relasi kami dengan Yesus dan kasih antara kami satu sama lain; (6) Bagi banyak dari kami, struktur adalah batu sandungan bagi pertumbuhan spritualitas.

Suatu pemisahan antara Yesus dan Gereja institusional sungguh ironis. Konsili Vatikan II memakai banyak tenaga dan wawasan dalam mempertimbangkan sifat dan misi Gereja. Pengharapan dari Konsili adalah untuk melibatkan umat beriman dalam kehidupan Gereja. “Umat adalah Gereja” tidak dimaksudkan sebagai sekadar slogan. Diharapkan bahwa umat Allah akan memainkan peranan yang aktif dan bertanggung-jawab dalam kehidupan gereja lokal. Rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih besar dan identitas umat sebagai Gereja juga diperkokoh. Visi Konsili Vatikan II masih harus terus diwujudkan. Walaupun begitu, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa berbagai kemajuan telah berhasil diwujudkan.

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah dan kuat tentang Gereja sebagai sebuah komunitas iman dan persekutuan (Latin: communio) dengan Yesus. Bukannya memisahkan Gereja dari Yesus, gambaran yang diberikan justru mengasosiasikan para anggota komunitas dengan Pribadi Yesus. Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Gambaran tentang pokok anggur dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama (Yes 5:2; Yer 2:21). Pokok anggur dipahami sebagai umat pilihan Allah. Allah mengasihi dan merawat pokok anggur itu agar menghasilkan banyak buah. Hal ini hanya mungkin apabila komunitas itu hidup dalam relasi yang intim dengan Yesus. Yesus berdiam dalam hati para murid-Nya, memberikan kepada mereka rahmat yang diperlukan untuk mendatangkan karya-karya Roh (teristimewa kasih persaudaraan). Di luar Yesus tidak akan ada pertumbuhan yang langgeng dan/atau tahan lama. Tanpa Yesus segala upaya baik yang dilakukan – cepat atau lambat – dapat menjadi rusak disebabkan oleh egoisme dan perpecahan-perpecahan.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya tidaklah bertentangan dengan Gereja sebagai lembaga (institusi). Gambaran ini dapat dipakai sebagai suatu upaya indah untuk mendorong (juga mengoreksi) pertumbuhan lebih lanjut dalam Yesus. Manakala struktur-struktur institusional menjadi tujuan dalam dirinya, maka hal ini sama saja dengan penyembahan berhala (Inggris: idolatry). Struktur-struktur gerejawi tetap diperlukan untuk menjaga ajaran Gereja, penyembahan/tata ibadat, dan nilai-nilai moral. Gereja hari ini jauh lebih besar dan jauh lebih kompleks daripada Gereja Perdana pada abad pertama. Kita membutuhkan struktur-struktur untuk menangani jumlah anggota jemaat yang memang tidak sedikit. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memperkenankan struktur-struktur menjadi begitu dominan sehingga merusak persekutuan dan relasi kita dengan Yesus.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya mendorong serta menyemangati kita untuk mempererat persekutuan dalam komunitas iman. Sebuah komunitas iman yang dipenuhi Roh Kudus adalah sebuah komunitas yang memperkenankan anggotanya untuk mengenal Yesus dengan lebih baik dan untuk para anggotanya saling mengasihi sebagai saudari dan saudara dalam Yesus Kristus. Apabila kita sungguh mengenal Yesus (bukan Yesus sebagai ide, melainkan sebagai seorang Pribadi yang hidup dalam kehidupan kita) dan ada saling mengasihi antara kita, maka karya-karya Roh Kudus menjadi terbukti-nyata.

Kelirulah kalau kita berpandangan “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Gereja dipanggil untuk menjadi “pengingat” historis-konkret akan kasih Allah yang tanpa syarat kepada semua orang dan ciptaan-Nya. Gereja dipanggil untuk semakin dalam bersatu dengan Yesus dan menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai-sejahtera, persekutuan dan integritas” (bdk. Gal 5:22-23). Kita semua dipanggil untuk membantu membuat Gereja menjadi sebuah komunitas di mana Roh Kudus berdiam dan Yesus dikenal serta dikasihi. Panggilan ilahi sedemikian sungguh sangat menantang dan tidak pernah membosankan.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami, para murid-Mu, tidak dapat berbuat apa-apa. Ajarlah kami bagaimana seharusnya kami berdiam dalam Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Selasa 8-5-12 )

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Yeremias dari Salakhia

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku ( Yoh 14:27-31a ).

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

Pada “Perjamuan Terakhir”, Yesus meninggalkan damai-sejahtera-Nya bagi para murid-Nya. Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus ini adalah kasih-Nya yang kekal dan keselamatan daripada-Nya yang kekal pula. Kita memiliki damai-sejahtera ini apabila kehidupan kita berpusat pada Yesus dan relasi-Nya dengan kita yang penuh kasih, sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sayangnya, ide kita tentang damai-sejahtera tidak selalu sama dengan damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus. Damai-sejahtera bagi kita seringkali berarti menikmati saat hening, bebas dari kecemasan untuk waktu tertentu. “Damai-sejahtera” sedemikian dapat dengan cepat dibuat menjadi berantakan oleh hal-hal kecil yang terjadi pada hari kita – perselisihan, kemacetan di jalan, sakit-penyakit yang tak henti-hentinya. Damai-sejahtera yang terbatas pada bagaimana kita merasakan segala sesuatu pada saat-saat tertentu, dan sementara semuanya baik maka kita tidak merasa cemas, jadi damai-sejahtera seperti ini paling-paling merupakan bayangan dari damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus.

Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus adalah keselamatan dan kehidupan. Karunia damai-sejahtera dari Yesus tergantung pada hal yang dikatakan-Nya kepada para murid – saling mengasihi (Yoh 13:34), menuruti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:15,23). Apabila kita berusaha keras – melalui kuasa Roh Kudus – untuk saling mengasihi Yesus dan mengasihi taat kepada-Nya, kita akan mengenal kepenuhan damai-sejahtera yang diberikan-Nya kepada kita. Damai-sejahtera ini kokoh dan kekal; tidak dapat digoncang oleh pencobaan-pencobaan yang kita hadapi sehari-hari karena dibangun dalam kasih Kristus – dan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih ini (Rm 8:35-39).

Damai-sejahtera Yesus berasal dari hidup dekat dengan diri-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yoh 16:33). Kita tahu bahwa setelah kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, para rasul harus menghadapi banyak pencobaan; mereka dijebloskan ke dalam penjara, ditimpuki batu, dianiaya oleh para penguasa. Kendati demikian, mereka terus mewartakan Injil karena kasih mereka kepada Yesus. Damai-sejahtera yang mereka alami terikat pada Kerajaan Allah dan kemajuannya. Karena relasi mereka dengan Yesus, para rasul/murid mampu memiliki damai-sejahtera walaupun menanggung derita dan hidup mereka penuh perjuangan. Hal ini berarti bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami damai-sejahtera bilamana kita memiliki keprihatinan atas upaya memajukan Kerajaan Allah dalam hidup kita sendiri, keluarga kita, gereja kita dan komunitas kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami mengetahui bahwa Engkau sangat mengasihi kami. Engkau ingin memberikan kepada kami damai-sejahtera-Mu. Tolonglah kami untuk mau dan mampu melibatkan diri dalam upaya memajukan Kerajaan-Mu, agar damai-sejahtera-Mu dapat menyebar-luas ke seluruh dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS