Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Mei 21, 2012

BUAH ROH: BEBERAPA CATATAN



Kita ( anda dan saya ) tentunya pernah atau masih merasakan bahwa buah yang kita hasilkan untuk Kerajaan Allah masih sangat sedikit dan kecil, padahal Kitab Suci mencatat dengan jelas bahwa “Roh Kudus ingin agar menghasilkan buah melalui diri kita!” Yesus mengatakan kepada para murid-Nya – termasuk kita semua – “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Bagaimana kelihatannya “buah” yang dimaksud, dan apakah yang dapat kita harapkan sementara kita menyerahkan diri kita secara lebih penuh kepada Roh Kudus?

Tempat pertama yang harus kita perhatikan terletak di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Apakah kita telah melihat bahwa Roh Kudus sedang mengubah diri kita dari dalam? Apakah ada damai-sejahtera dalam diri kita? Apakah kita lebih yakin akan kasih Allah? Apakah kita lebih berkemauan untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan? Ini semua adalah tanda-tanda dari hidup yang baru. Semuanya menunjuk kepada Roh yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus dan mempersiapkan kita untuk melayani Dia secara lebih mendalam.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul Kristus diubah dari dalam dan mulai memanifestasikan buah-buah Roh yang sama. Sebagai akibat dari transformasi, mereka diberdayakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mewartakan Injil, dan mendirikan gereja (jemaat) di banyak tempat. Ingatlah, bagaimana sebelum pencurahan Roh Kudus, Petrus menangisi imannya yang lemah dan penyangkalannya terhadap Yesus. Namun setelah pengalamannya di Ruang Atas, murid/rasul yang dilanda rasa takut dan ketidakpastian itu diubah menjadi seorang saksi Kristus yang tangguh dan berani, dan suatu instrumen Roh Kudus yang penuh kuat-kuasa.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Selagi kita membuka diri kita bagi karya Roh Kudus yang mentransformasikan, kita akan melihat tanda-tanda kehadiran-Nya dalam diri kita. Tidak hanya kita akan memiliki suatu damai di hati, kita juga akan mempunyai kuasa untuk mengasihi orang yang berlainan dengan kita – bahkan mefreka yang mungkin telah menyakiti kita di masa lalu. Kita akan mengenal sukacita Kristus di tengah penderitaan dan mampu untuk mengkomunikasikan sukacita itu kepada orang-orang lain yang sedang menderita juga.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Allah mempunyai suatu panggilan yang unik untuk setiap pribadi yang telah dibaptis – suatu cara spesifik bagi kita untuk turut serta memajukan Kerajaan-Nya dan menghasilkan buah dalam Gereja. Apa yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin menjadi instrumen-Nya dalam Gereja dan di tengah dunia.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). Tubuh manusia terdiri dari banyak anggota/bagian seperti tangan, kaki, mulut dan mata, demikian pula dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Apabila salah satu dari kita meminimalisir atau mengabaikan martabat kita dan panggilan kita sebagai anggota tubuh-Nya, maka keseluruhan Gereja menjadi diperlemah.

Mungkinkah Roh Kudus sedang memanggil anda untuk melayani dalam penyembuhan orang-orang sakit, mengajar, atau mengunjungi orang sakit dan/atau yang sedang meringkuk dalam penjara? Apakah Dia sedang mengundang anda untuk melayani dalam melakukan doa-doa syafaat (pengantaraan), evangelisasi, atau untuk memberi makan-minum orang yang lapar-haus dan memberi pakaian kepada mereka yang telanjang (Mat 25:31-46)? Gereja membutuhkan begitu banyak karunia dewasa ini: a.l. karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia sabda pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk membuat mukjizat, karunia untuk bernubuat dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1Kor 12:8-11) dll. Allah ingin menganugerahkan berbagai karunia ini kepada orang-orang biasa seperti anda dan saya. Namun seringkali kita membuat diri kita disqualified (tidak memenuhi syarat) berdasarkan pemikiran bahwa kita tidak pantas untuk menerima pemberian Allah yang penuh kebaikan seperti itu. Kita seringkali berpikir bahwa diri kita tidak signifikan sehingga dengan demikian tidak seharusnya mengharapkan Allah akan pernah berpikir untuk mempercayakan kita dengan sesuatu yang begitu penuh dengan kuat-kuasa.

Namun ini bukanlah cara Allah berpikir. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN (YHWH) melihat hati” (1Sam 16:7). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus – kebanyakan dari mereka adalah “wong cilik”: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang-orang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahwa apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:26-29). Bahkan para rasul Kristus sendiri adalah orang-orang biasa yang hidup sehari-harinya adalah membuat seimbang antara karya dan keluarga (Kis 4:13).

Marilah kita melihat Santo Yusuf. Yusuf adalah seorang tukang kayu sederhana di Nazaret, namun dirinya dipanggil untuk selama sekian tahun mengurus Yesus adalah Putera Allah yang kekal! Bapa surgawi tidak memilih seorang rabi yang terkenal atau seorang anggota Sanhedrin (mirip dengan MUI dalam hal Indonesia dewasa ini). Allah melihat bahwa Yusuf-lah yang memiliki kualitas-kualitas pribadi yang diperlukan-Nya: kerendahan-hati dan ketaatan kepada Roh Kudus.

Ketaatan kepada Roh Kudus. Allah memanggil kita untuk menghasilkan buah Roh bagi-Nya. Apakah ada penghalang-penghalang yang merintangi kita untuk menghasilkan buah untuk Tuhan? Apakah kita merasa terlalu lemah dan berdosa? Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita pemahaman yang lebih mendalam mengenai belas kasih Allah. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita betapa dalamnya Bapa surgawi mengasihi kita. Kita memang tidak boleh puas dengan “pengalaman setengah-setengah” (mediocre experience) akan Allah. Juga janganlah kita cepat puas dengan visi setengah-setengah tentang bagaimana Roh Kudus mungkin menginginkan untuk menggunakan diri kita (anda dan saya). Yesus bersabda: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Ingatlah bahwa kebutuhan memang besar sekali, namun kuasa Tuhan jauh lebih besar lagi. Yang dibutuhkan-Nya adalah umat yang menyerahkan diri kepada-Nya, siap untuk dipakai oleh-Nya.

Bagaimana kiranya menurut kita Roh ingin memberdayakan kita dan menggunakan kita dalam memajukan Kerajaan-Nya? Di bawah ini ada beberapa contoh kemungkinan yang dapat kita pertimbangkan.

         Mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Lewat Paus Yohanes Paulus II, Roh Kudus telah memanggil Gereja kepada EVANGELISASI BARU. Kita tidak perlu dan tidak boleh membebani pelayanan ini sepenuhnya kepada para imam dan para biarawati-biarawan, karena evangelisasi adalah tugas setiap anggota tubuh Kristus. Evangelisasi tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar khotbah karena tidak semua orang dapat/diperbolehkan melakukannya, melainkan teristimewa melalui kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau tidak. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus-lah yang memegang peranan utama dalam evangelisasi. Kita hanyalah sarana untuk Roh Allah bekerja dalam evangelisasi.

         Melayani orang sakit. Apabila seseorang mengatakan kepada kita bahwa dirinya sedang menderita sakit, kita harus mencoba bertanya kepadanya apakah dapat berdoa bersama dengan dia untuk beberapa menit lamanya. Banyak orang yang berterima kasih penuh syukur atas tawaran kita itu. Selagi kita mendoakan sebuah doa penyembuhan sederhana kepada Tuhan, perkenankanlah Roh Kudus dalam diri kita untuk mengalir kepada orang tersebut. Baiklah kita menumpangkan tangan kita di pundaknya, atau memegang tangannya selagi kita berdoa. Apakah kita memiliki karunia istimewa sebagai seorang penyembuh atau tidak, kita akan melihat bahwa sedikit demi sedikit orang akan datang kepada kita untuk didoakan.

Sebuah catatan kecil: Jika kita sudah mengetahui benar bahwa kita tidak dianugerahkan karunia untuk menyembuhkan (1Kor 12:9), maka hal itu tidak berarti kita tidak boleh mendoakan seseorang yang sedang sakit dalam sebuah pertemuan yang secara relatif dihadiri banyak orang, namun janganlah ikut ramai-ramai menumpangkan tangan di atas pundak atau kepala si sakit. Berdirilah di bagian belakang ketika berdoa dan perkenankanlah saudari-saudara yang memiliki karunia istimewa tersebut yang menumpangi tangan.

         Doa syafaat (pengantaraan). Doa syafaat adalah pelayanan tersembunyi namun sangat berpotensi dalam tubuh Kristus. Dari sebutannya saja doa syafaat ini berarti bukanlah doa untuk diri sendiri. Kita dapat mengundang anggota keluarga kita atau anggota komunitas kita untuk berdoa bersama, misalnya seminggu sekali untuk intensi/ujud yang kita rasakan telah ditaruh Allah dalam hati kita, misalnya mendoakan agar tercipta suasana damai antara para rohaniwan dalam paroki kita masing-masing, agar Gereja Indonesia tetap tegar, teguh dan jujur dalam misi-Nya di tengah hiruk-pikuknya suasana sosial-politik negara kita, dlsb. Dalam hal ini ingatlah janji Yesus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situAku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

         Menjadi sarana Allah untuk melayani sesama kita berdasarkan kehendak-Nya. Seringkali kita merasakan bahwa Allah mengatakan sesuatu, namun kita mengabaikan atau menyepelekannya sebagai sesuatu yang bukan apa-apa, mungkin hanya sekadar khayalan. Ingatlah bahwa Allah mungkin sedang memberikan kepada kita kata-kata penghiburan bagi seseorang yang sedang kesepian dan sedih karena baru ditinggalkan pasangan hidupnya, atau sedang merasa sakit hati dlsb. Jadi, apabila kita merasakan adanya kata-kata yang tidak biasa dari diri kita sendiri, baiklah kita tulis dan mendengarkan dengan serius untuk melihat apakah Allah masih ingin mengatakan lebih banyak lagi kepada kita. Seringkali Roh Kudus berbicara dengan bisikan halus kepada kita (bdk. 1Raj 19:12). Akan tetapi semakin kita mencoba mempraktekkan apa yang kita dengar, maka kita akan mengalami bahwa suara Allah pun menjadi semakin jelas.

Semua yang disebutkan di atas adalah sekadar beberapa contoh untuk menunjukkan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing dengan segala variasinya.

Sebuah doa: Datanglah, Roh Kudus! Roh Kudus Allah, kami mempersembahkan diri kami, waktu kami dan karunia-karunia yang ada pada diri kami masing-masing. Dengan segala kerendahan hati kami memperkenankan Engkau untuk memimpin dan membimbing kami seturut kehendak-Mu, bukan kehendak kami sendiri. Kami menyerahkan setiap area dari kehidupan kami agar Engkau dapat menghasilkan buah di dalam dan melalui diri kami. Roh Allah yang kami sembah, kami tidak dapat hidup tanpa Engkau. Kami tidak dapat dapat ikut serta memajukan Kerajaan Surga apabila kami tidak patuh kepada-Mu. Teristimewa menjelang Hari Raya Pentakosta yang tinggal beberapa hari ini, sekali lagi kami berikrar bahwa kami dengan ikhlas memberikan segalanya kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan