Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Jun 12, 2012

MEMATUHI PERINTAH-PERINTAH-NYA TANPA BOSAN


( Bacaan Injil Misa, PERINGATAN S. ANTONIUS DARI PADUA – Rabu, 13 Juni 2012 )
Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dari Padua, Imam & Pujangga Gereja

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)

Bacaan Pertama: 1Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, padahal sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Sesungguhnya, banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan begitu “monoton”-nya dalam memuji-muji Allah – padahal terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris, “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Oleh karena itu enjoy aja! Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya: Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 11, 2012

PARA MURID YESUS SEBAGAI PEMIMPIN-PEMIMPIN


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Selasa, 12 Juni 2012 )

Keluarga Fransiskan Konventual dan Kapusin: Peringatan Beata Yolenta, Florida, dkk. Martir-martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:13-16).

Bacaan Pertama: 1Raj 17:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-5,7-8

“Kamu adalah garam bumi …… Kamu adalah terang dunia …… Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang ……” Dengan menggunakan gambaran “garam bumi” dan “terang dunia” ini, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk memainkan peran sebagai pemimpin-pemimpin dalam masyarakat. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, daya/kuasa untuk mempengaruhi orang lain adalah hakikat kepemimpinan. Namun kepemimpinan tidak terbatas pada posisi kekuasaan yang secara resmi dipegang seseorang, karena ada juga pemimpin-pemimpin informal (di luar sistem) yang dapat menebarkan pengaruhnya dalam masyarakat (misalnya para nabi Perjanjian Lama atau Yesus dari Nazaret). Sebagai pemimpin, para pengikut/murid Yesus pada segala zaman harus menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang lain, artinya mereka dapat melihat kebaikan dalam tindak-tanduk kita.

Akan tetapi, terlalu banyak dari kita yang mengabaikan perintah Yesus ini. “Biarlah orang lain yang melakukannya … bukan urusanku!” “Aku tidak mempunyai talenta untuk itu, juga nggak ada waktu!” Kita pun tidak enggan dan ragu untuk cepat mengkritisi mereka yang sungguh menyediakan waktu mereka, seperti para pastor, para guru agama/katekis, anggota dewan paroki, para prodiakon, anggota paduan suara dlsb. gereja kita. Akan tetapi, bilamana kita diminta untuk berpartisipasi, untuk menyumbangkan talenta kita, kita tiba-tiba menjadi sungguh “miskin” karena tidak ada apa-apa yang dapat kita berikan!

Sesungguhnya setiap dari kita mempunyai lebih banyak untuk diberikan daripada kita sendiri pernah impikan atau menyadarinya. Betapa rendah atau tak bergunanya pun kita menilai diri kita, betapa rendahnya pun para sahabat kita menilai kita, kita sebenarnya menilai terlalu rendah potensial yang kita miliki sendiri. Sebenarnya Allah telah telah memberikan kita energi yang lebih banyak dan keterampilan-keterampilan yang lebih banyak daripada yang kita impikan sendiri. Dan Ia akan memberikan rahmat-Nya, sekali kita melakukan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang kita sungguh dapat lakukan.

Ada pepatah lama: “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” Ini memang suatu kebenaran yang sudah ada sejak zaman kuno. Jadi, apabila kita sungguh ingin menanggapi kebutuhan-kebutuhan Kristus dan Gereja-Nya, apabila kita sungguh ingin mendengarkan panggilan Kristus kepada para pekerja dalam kebun anggur-Nya, apabila kita sungguh ingin melakukan bagian kita dalam penyebaran Kabar Baik, maka kita pun akan menemukan jalannya – bahkan banyak jalan. Sebagai murid-murid Kristus, kita mempengaruhi orang-orang lain dengan sesuatu yang memang baik demi keselamatan mereka, kita menjadi pemimpin-pemimpin!

DOA: Tuhan Yesus, sebagai murid-murid-Mu Engkau tidak ragu sama sekali untuk menyebut kami “garam bumi” dan “terang dunia”, dengan demikian mengingatkan tugas kami sebagai “pemimpin-pemimpin” di tengah dunia, para duta-Mu yang akan membawa pengaruh baik kepada dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 10, 2012

DIUTUS UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

 ( Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Senin, 11 Juni 2012 )

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. (Mat 10:7-13)

Bacaan Pertama: Kis 11:12b; 13:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

Yesus mendelegasikan wewenang (dan tanggung jawab yang menyertai wewenang itu) kepada keduabelas rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga (=Kerajaan Allah) telah dekat (Mat 10:7). Sebelum itu Yesus wanti-wanti menandaskan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 10:5-6). Jadi, masih terbatas pada lingkup bangsa Israel.

Matius yang diperkirakan menulis Injilnya menjelang akhir abad pertama Masehi, ingin agar pembaca Injilnya menyadari bahwa tanggung jawab itu telah menjadi tanggung jawab mereka juga. Sekarang tanggung jawab tersebut jatuh kepada kita, para murid-Nya di zaman modern ini.

Mat 10:9-10 memberikan nasihat kepada para murid untuk melakukan perjalanan layaknya backpackers, yaitu “to travel light”! Suatu nasihat yang praktis masih berlaku sampai hari ini. Barangkali anda juga sudah mengetahui bahwa pesan dalam Mat 10:9-10 memberi inspirasi kepada Fransiskus dari Assisi [1181-1226] dan satu-dua pengikutnya untuk mulai menghayati hidup Kristianinya sebagai pengkhotbah keliling, komunitas mana berkembang sampai menjadi keluarga terbesar di dalam Gereja Katolik. Bahkan gereja Kristen Lutheran, Anglikan, Methodis memiliki komunitas-komunitas Fransiskan juga. Namun kedua ayat itu tidaklah berarti bahwa setiap murid Yesus harus menjadi Fransiskan. Kerajaan Allah yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi akan tiba pada akhir zaman, telah datang di tengah umat manusia dengan perantaraan Yesus. Tidak ada yang lebih penting daripada mewartakan hal itu. Yesus hanyalah menginstruksikan keduabelas murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang akan membebani dan mengganggu kegiatan kerasulan mereka.

Dalam memberi instruksi kepada keduabelas murid-Nya ini, Yesus tidak memasukkan satu tugas ke dalam misi mereka, yaitu tugas “mengajar”. Walaupun “pengajaran” memegang peran yang sentral dalam penggambaran Matius tentang Yesus, hal ini tidak disebutkan. Kelihatannya tugas “pengajaran” dicadangkan sampai “Amanat Agung” yang disampaikan sebelum kenaikan-Nya ke surga. Pada waktu itu kepada sebelas rasul (12 orang minus Yudas Iskariot), Yesus memberikan amanat agung (great commission): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20).

Dalam perjalanan sejarah Gereja, great commission ini sering kali menjadi great ommission (sebuah kelalaian besar), padahal “mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan penggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran karunia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya yang mulia” (Paus Paulus VI, Imbauan Apostolik EVANGELII NUNTIANDI, 8 Desember 1975, #14).

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus, dua orang pewarta besar dalam sejarah Gereja, teristimewa pada masa Gereja Perdana. Dua orang pewarta besar tersebut melaksanakan Amanat Agung dari Kristus di atas dengan setia, taat dan penuh keberanian. Jerih payah mereka sangat berbuah, sebagaimana dapat kita lihat dalam sejarah Gereja yang sudah berumur 2.000 tahun ini. Penjelasan lebih lengkap tentang orang kudus ini dapat dilihat dalam Bacaan Kedua (Kis 11:21b;13:1-3).

DOA: Roh Kudus Allah, bentuklah aku agar dapat menjadi pewarta KABAR BAIK Yesus Kristus yang efektif, berani serta tetap taat kepada Gereja-Nya yang sejati. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Jun 06, 2012

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 7 Juni 2012 )

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: 2Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik! Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan singkat-jelas: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk 12:29-31).

Ahli Taurat itu lalu berkata kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat itu untuk pemahamannya atas apa yang dikatakan-Nya, bahwa “mengasihi” adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita – ini adalah perintah-perintah besar dan agung; dan ahli Taurat itu setuju dengan sepenuh hatinya.

Mengasihi tidaklah semudah diucapkan bibir atau semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah suatu tantangan besar bagi orang-orang yang sudah tergolong mapan, teristimewa mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka telah mempunyai begitu banyak kenikmatan materiil, dan hal itu cenderung membuat mereka menjadi serakah dan tamak. Sebaliknyalah dengan orang-orang kecil yang di kota-kota kecil atau pedesaan. Anak-anak harus bekerja membantu di sawah atau ladang untuk menunjang kebutuhan keluarga; keluarga-keluarga juga harus memberi dengan penuh kemurahan-hati tidak sedikit waktu, tenaga dan sumber daya lainnya guna membangun gereja-gereja dan pusat-pusat komunitas. Memang tidak selalu berjalan lancar dan cukup “memakan waktu”, namun hal seperti ini adalah pemberian-diri yang asli, suatu tanggapan manusia, kerja-sama demi pemenuhan kebutuhan bersama. Hal seperti itu juga mengembangkan suatu rasa tanggung-jawab.

Sekarang kita tidak otomatis merasakan adanya kebutuhan satu sama lain. Namun sesungguhnya begitu banyak orang yang mengalami kesendirian dan sangat merindukan kasih sejati. Serbuan bertubi-tubi dalam rupa berbagai tulisan (termasuk lewat internet) yang menyesatkan memberikan sebuah gambaran yang salah tentang apa cintakasih manusiawi itu. Misalnya, apabila anda tidak memiliki gigi yang putih berkilau-kilauan dan rambut yang lembut dan parfum tertentu, maka tidak ada seorang pun yang akan mencintai anda. Kita memang suka tertawa dalam menanggapi iklan-iklan itu, namun tak terasa semua itu memasuki dan malah merasuki pikiran kita. Iklan-iklan seperti itu membuat kita ingin “memperoleh” sesuatu, bukan “memberi”. Jika demikian halnya, maka cintakasih hanyalah suatu daya tarik di permukaan saja yang tidak ada urusannya samasekali dengan kasih yang sejati.

Adalah suatu tragedi apabila sebuah rumah yang indah dengan segala macam perlengkapannya, misalnya dua buah mobil mewah, sebuah kolam renang, taman yang luas-indah, beberapa televisi besar, kamar-kamar mandi yang mewah dlsb., namun bukan merupakan rumah yang membahagiakan bagi para penghuninya, karena kasih yang sejati tidak ada. Tidak ada cintakasih sejati yang tidak terbuka, tidak dipenuhi kemurahan-hati, tidak memiliki unsur pengorbanan dan disiplin yang baik. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Cintakasih yang sejati mengalir ke luar dari diri sendiri kepada orang-orang lain. Apabila cintakasih yang asli tidak secara aktif bertumbuh dengan subur dalam keluarga, maka bagaimana hal itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Di sinilah letak tanggung jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar cintakasih yang sejati kepada anak-anak mereka, agar mereka masing-masing memilikinya sendiri juga. Mereka harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah kasih. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dan sesama kami manusia dengan benar, seturut kehendak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 05, 2012

KAMU BENAR-BENAR SESAT!


( Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa IX, Rabu 6 Juni 2012 )
 Peringatan Santo Norbertus [1082-1134], Uskup dan pendiri Ordo Premonstratens

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-3,6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-2

Orang-orang Saduki adalah sekelompok pemimpin agama yang – seperti orang-orang Farisi – menentang Yesus. Tidak seperti orang-orang Farisi, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber otoritas. Mereka lebih ketat daripada orang-orang Farisi dalam kepercayaan dan praxis hidup kerohanian. Mereka ‘sungguh tersinggung’ oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatan radikal di satu sisi, dan di sisi lain diterimanya Yesus oleh khalayak ramai.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang anggotanya untuk mencoba menjebak-Nya dan dengan demikian dapat mendiskreditkan Dia dan ajaran/pesan-Nya. Yang mereka ajukan adalah persoalan hipotetis berkaitan dengan hukum Levirat (lihat Ul 25:5). Masalah hipotetis ini hanyalah semacam umpan agar Yesus terjebak. Apakah ada kebangkitan dari kematian? Kalau begitu, bagaimana ajaran Musa bisa-bisanya memberi ruang untuk adanya suatu situasi yang penuh teka-teki ini?

Yesus mengetahui apa yang ada di benak orang-orang Saduki itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka seturut pengertian mereka sendiri, namun pada saat yang bersamaan Ia berupaya mengangkat pikiran mereka kepada kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, seperti yang biasa dilakukan oleh para rabi, Yesus mempresentasikan sebuah pernyataan yang berisikan ikhtisar dari ajaran-Nya. Guna mendukung pernyataan-Nya Yesus memetik ayat dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Mrk 12:26), karena itulah satu-satunya sumber yang diterima oleh kaum Saduki.

Bukanlah Yesus kalau Dia berhenti di situ, karena tidak cukuplah bagi-Nya untuk menunjukkan bahwa diri-Nya benar. Memang forma tanggapan Yesus itu sejalan dengan tradisi mereka, namun isinya atau substansinya adalah suatu perpisahan radikal dari tradisi tersebut. Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar tidak hanya diangkat ke dalam suatu kehidupan baru, melainkan juga diangkat menjadi “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Mrk 12:25). Allah Bapa tidak hanya memberikan kehidupan kepada bumi, melainkan Dia juga menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan sesudah kubur. Karena kematian telah dikalahkan, maka anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; dihadapan Allah mereka hidup (Mrk 12:25,27) dalam suatu kehidupan baru yang mentransenden kehidupan yang mereka alami di atas bumi. Dengan demikian jawaban Yesus melampaui pertanyaan-pertanyaan orang Saduki, dengan maksud untuk mengungkapkan kasih dan rahmat Bapa surgawi. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita dapat mengalami kehidupan Yesus sendiri, bebas dari kematian dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:5-11). Dengan dibersatukannya kita dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengalami kebebasan dari dosa dan kematian, buah pertama dari kehidupan surgawi yang menantikan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu kehidupan yang telah ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami untuk tetap setia sementara kami mengantisipasi sukacita kehidupan abadi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 04, 2012

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU ???


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius [675-775], Selasa 5 Juni 2012 )

Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Kulihat!” Mereka pun membawanya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia. (Mrk 12:13-17)

Bacaan Pertama: 2Ptr 3:12-15a,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-4,10,14,16

Berulang kali Yesus harus menghadapi kemunafikan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya. Jawaban-Nya kepada mereka selalu jujur dan langsung tanpa tedeng aling-aling. Kali ini orang-orang Farisi datang bersama para pendukung Herodes. Kiranya mereka adalah orang-orang suruhan Sanhedrin dengan satu tugas penting, yaitu untuk menjerat Yesus. Mereka berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur …… Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah” (Mrk 12:14). Memang ini merupakan puji-pujian yang luarbiasa, namun sayangnya didorong oleh motivasi yang salah, yaitu untuk mendesak Yesus memberi jawaban terhadap pertanyaan mereka yang bersifat menjebak: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami membayar atau tidak?” (Mrk 12:14). Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang itu dengan balik bertanya: “Mengapa kamu mencobai Aku?” (Mrk 12:15). Kemudian dengan penuh hikmat Yesus menjawab mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mrk 12:17).

Apakah yang dimaksud dengan “yang wajib diberikan kepada Allah”, dengan kata lain hak Allah? Jawabnya: Tempat pertama, prioritas utama dalam kehidupan kita! Bahkan Kaisar sendiri seharusnya tunduk pada otoritas Allah, apakah dia mengakuinya atau tidak.

Ada sedikit cerita dari sejarah Amerika Serikat. Salah seorang pendiri negara itu yang hadir pada pertemuan Konvensi Federal pada tahun 1787 untuk menyusun Konstitusi Amerika Serikat adalah Benjamin Franklin. Dialah yang mendorong bahwa rapat harian harus dibuka dengan sebuah doa. Dia begitu yakin bahwa Allah memerintah/mengatur perkara-perkara manusia, sehingga dia berkata bahwa tidak ada kekaisaran yang dapat bangkit tanpa penyelenggaraan Allah. Lalu Benjamin Franklin mengutip ayat dari Mazmur 127: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1). Oleh karena itu dia minta agar sebelum sidang dimulai setiap pagi, para peserta Konvensi Federal itu menghaturkan doa permohonan kepada Allah agar menolong mereka pada waktu berlangsungnya sidang.

Sekarang, marilah kita pikirkan masalah-masalah umat manusia dewasa ini, baik dalam lingkup global, nasional, lokal, komunitas, keluarga maupun personal. Bukankah semua masalah itu merupakan akibat karena kita tidak memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya? Kepahitan, prasangka serta praduga, kecemburuan, kebencian, ketidakadilan dan tindakan kekerasan yang terjadi di sekeliling kita sebenarnya merupakan akibat buruk dari kesombongan serta ketamakan manusia dan penolakan terhadap hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan solusi atas berbagai dilema ini. Hanya Dialah yang dapat mengajar kita ke mana kita harus pergi, yang dengan penuh kuat-kuasa dapat berbicara lewat teladan-Nya. Kuasa untuk menyembuhkan sakit-penyakit ditawarkan kepada kita, demikian pula dengan kuasa untuk mengalahkan kejahatan diberikan kepada kita, namun kita tidak menerimanya (artinya: menolaknya).

Kita tidak memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya: sesungguhnya kita tidak memperkenankan Allah memenuhi diri kita dengan kuasa-Nya. Kita menaruh berbagai penghalang di jalan-Nya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya. Kita mencoba untuk menemukan berbagai pengganti/substitut Kristus, namun semua itu tidak efektif dinilai dari segala sudut. Para kudus memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Mereka memberikan waktu berjam-jam setiap hari untuk mendengarkan Dia dalam doa, lewat pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, teristimewa Injil Yesus Kristus, dan dengan mengikuti jejak-Nya secara radikal (catatan: “radikal” sebenarnya bukanlah sepatah kata yang buruk; berasal dari kata radix yang berarti “akar”).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah satu-satunya jawaban! Tolonglah kami agar dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar kepada-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 03, 2012

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Senin, 4 Juni 2012 )

Kongregasi Suster Fransiskanes dr Santo Georgius Martir: Peringatan Kedatangan Suster-suster FSGM di Indonesia

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: 2Ptr 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,14-16

Dalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan bagaimana cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan menghalang-halangi kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan kemurahan hati dlsb. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada-Nya bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Jun 02, 2012

KEMULIAAN KEPADA BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 3 Juni 2012 )
Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Ul 4:32-34,39-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-6,9,18-20,22; Bacaan Kedua: Rm 8:14-17

Kita telah dibaptis dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Sekarang kita menikmati suatu relasi personal dengan sang Pencipta, Penebus dan Dia yang menguduskan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa baptisan harus dilaksanakan dalam nama Bapa dan Putera (Anak) dan Roh Kudus. Kita memberikan nama sebuah jalanan, perkumpulan, lembaga pendidikan, rumah sakit atau lembaga sosial lainnya menurut nama seorang patriot bangsa atau orang kudus, karena orang yang dimaksud merupakan tokoh inspirasional untuk kita kenang dan contoh teladan hidupnya. Di sisi lain kita harus mencoba untuk menghargai pentingnya arti nama yang diberikan oleh Kitab Suci. Sebuah nama dalam Kitab Suci bukanlah sekadar untuk dikenang. Dalam sebuah nama terdapat kehadiran seorang pribadi dan bagian dari segala hal yang diperjuangkan pribadi tersebut.

Dalam Kitab Suci, nama seorang pribadi mengingatkan kita akan kehidupan dan kehadiran aktif pribadi tersebut. Dalam baptisan kita dibentuk ke dalam suatu relasi yang vital dan dinamis dengan Allah sebagai Pencipta kita, Penebus kita dan Pengudus kita. Dalam nama ketiga Pribadi Ilahi terdapat kehadiran dan kuasa ketiga Pribadi tersebut.

Teologi telah dengan indahnya digambarkan sebagai suatu seni yang mampu mendengar cerita-cerita mengenai Allah dan kemudian menceritakannya kembali kepada orang-orang lain. Dan apa pula yang dimaksudkan dengan doa? Doa adalah jika kita mengetahui bahwa kita merupakan bagian dari cerita-cerita tentang Allah itu.

Tritunggal Mahakudus adalah cerita mengenai tiga gerakan Allah menuju diri kita. Pertama-tama adalah gerakan kehidupan dari pikiran Allah, Bapa segala ciptaan. Manakala setiap hari Allah memandang segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, maka Dia pun melihat bahwa semuanya itu baik (lihat Kej 1:10,24).

Namun sayangnya, manusia menyalahgunakan kehendak bebas yang telah dianugerahkan Allah; mereka menjual hak yang diterima sejak lahir, dan menjadi budak dosa. Manusia perlu diselamatkan dari perbudakan ini. Dengan demikian, gerakan kedua Allah menuju kita adalah mengutus seorang Penebus, seorang Juruselamat. Tidak ada lagi dalam Kitab Suci yang lebih indah mengungkapkan hal ini daripada dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus pada suatu malam hari: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Sang Putera Allah mengambil kondisi kemanusiaan kita agar dapat sepenuhnya memasuki dan terlibat dalam naik-turunnya kehidupan kita manusia, proses pemikiran manusia, emosi-emosi manusia, berbagai kekuatan dan kerentanan kita sebagai manusia … pokoknya ke dalam segala segi kemanusiaan kecuali dosa (lihat Ibr 4:15). Ia datang sebagai seorang Saudara yang merangkul kita semua tanpa diskriminasi. Sebagai seorang Juruselamat, Ia memimpin kita keluar dari perbudakan (dosa) kepada kebebasan. Sebagai Sabda Allah, Dia membawa bagi kita terang iman. Sebagai Kepala dari Tubuh-Nya (Gereja), ke mana Dia telah pergi, ke sana pula kita berharap akan mengikuti-Nya. Dan dasar dari pengharapan kita adalah gerakan ketiga Allah bagi kita …… karunia Roh Kudus.

Roh Kudus itu bagaikan nafas yang senantiasa kembali ke dunia sekeliling kita: kuasa cintakasih yang menarik kepada persatuan, kuasa Allah yang menarik Yesus Kristus dari alam maut ke dalam kemuliaan. Dan karena tubuh Yesus yang dimuliakan tidak lagi terbatas dalam batasan-batasan fisik, maka sekarang Roh Kudus diruahkan atas semua orang yang percaya.

Teologi berkaitan dengan Allah Tritunggal Mahakudus bercerita tentang Allah yang mendatangi kita manusia sebagai ‘seorang’ Bapa-Pencipta, sebagai Putera-Penebus dan sebagai Roh-Pengudus. Doa adalah manakala kita mengetahui bahwa kita adalah bagian dari cerita itu: bilamana kita tertangkap dalam upaya menanggapi gerakan-gerakan Allah …… ketika kita merupakan pasangan-pasangan dalam tarian Allah.

Dalam bacaan kedua (Rm 8:14-17), Santo Paulus menggambarkan apa yang dimaksudkan dengan menari dengan gerakan-gerakan Allah.

Untuk digerakkan oleh Roh Kudus, seseorang mengetahui bahwa dirinya dibangkitkan ke dalam hidup baru, yang lebih tinggi dari hidup alami, sebagai seorang anak Allah. Kita tidak lagi takut kepada Allah dan menghindarkan diri dari pandangan-Nya. Kita tidak lagi ingin bersembunyi dari pandangan Allah dan kesenangan kita adalah untuk berada lebih dekat dengan Allah …… anak-anak yang berlari-lari mendekati Bapa surgawi. Kata hakiki dalam doa Kristiani adalah “Abba, Bapa.”

Doa adalah kasih kepada Allah Bapa yang diungkapkan dalam kata-kata dan keluh-kesah dan penantian. Doa juga merupakan puji-pujian dan pengungkapan terima kasih penuh syukur. Puji-pujian kepada sang Pemberi dan terima kasih untuk segala karunia yang diberikan-Nya. Arah yang benar dari puji-pujian datang dari Roh yang bergerak dalam diri kita, melalui sang Putera dan menuju Bapa. Ingat doksologi dalam Misa: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa. Amin.” Surga akan menjadi penyelesaian baptisan kita. Sebelum mencapai surga kita adalah para pewaris Allah yang mempunyai hak masuk surga walaupun kita masih menanti-nanti. Sementara kita menunggu di atas bumi ini kita masin dapat mengalami berbagai penderitaan, ketegangan dan kontradiksi. Namun pengalaman-pengalaman ini pun tidak menjauhkan kita dari kehadiran Allah. Dalam “salib-salib kehidupan” ini akan berjumpa dengan Kristus yang tergantung pada kayu salib …… “menjadi pewaris bersama Kristus, ikut ambil bagian dalam penderitaan-penderitaan-Nya dan juga kemuliaan-Nya.”

Kita telah dibaptis ke dalam …… dibenamkan ke dalam …… nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam sakramen rekonsiliasi dosa-dosa kita diampuni dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus. Pada akhir Misa kita juga diutus dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus.

“Dalam nama” ada kehadiran dan kuasa dari Dia yang memiliki nama itu. Allah senantiasa hadir bagi kita dengan kuasa seorang Bapa, Sabda yang menebus dan kasih yang menguduskan. Dalam doa kita memberi tanggapan terhadap gerakan-gerakan ini.

DOA: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Mei 30, 2012

RAHMAT-NYA TURUN-TEMURUN ATAS ORANG YANG TAKUT AKAN DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Kamis, 31 Mei 2012)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18 atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

“Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50).

Apakah yang dimaksudkan dengan “takut akan Allah”? Takut akan Allah berarti menghormati Dia sebagai sang Pencipta yang Mahakuasa, Penguasa Tertinggai, sebab dan tujuan akhir dari segala yang ada. “Takut” di sini jauh berbeda jika dibandingkan dengan rasa takut yang kita alami manakala kita menghadapi bencana alam yang dahsyat atau serbuan tentara musuh. Takut akan Allah adalah rasa takut yang jauh lebih mendalam dan kudus di hadapan hadirat Allah yang tak terbayangkan.

Pada saat Allah “muncul” di gunung Sinai, orang-orang Israel dipenuhi dengan rasa takjub (Kel 19:16-19; 20:18-21). Pengalaman akan kuasa dan keagungan-Nya begitu indah, namun hal tersebut juga begitu besar sehingga menginspirasikan/menimbulkan semacam rasa takut. Orang-orang merasa begitu rendah di hadapan hadirat-Nya: Dia yang begitu superior dibanding ciptaan-Nya. Maria sungguh menghormati Tuhan dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Takutnya akan Allah yang penuh dengan rasa hormat menunjukkan pengakuannya terhadap belas kasih Allah seperti dengan indahnya diungkapkan dalam kidungnya: Magnificat.

Penampilan-penampilan Allah tidak dimaksudkan untuk menakutkan orang, melainkan untuk meyakinkan. Seperti anak-anak kecil, kita dimaksudkan untuk mempunyai rasa takut yang sehat akan Bapa surgawi, suatu rasa takut yang menggerakkan kita untuk percaya dan mentaati-Nya. Takut akan Allah dengan layak dan pantas akan menguatkan pengharapan, karena ketika kita mengakui kuasa Allah yang mahadahsyat, kita menjadi yakin bahwa Dia mampu untuk mewujudkan setiap rencana indah-Nya bagi kehidupan kita.

Maria benar ketika dia memandang dirinya sebagai seorang “hamba yang rendah” dalam relasinya dengan Tuhan. Maria mengetahui bahwa bukan karena jasanya atau apa yang dilakukannya maka dia memperoleh privilese sebagai Bunda Yesus yang adalah Allah. Semua itu menjadi kenyataan karena kasih dan kemurahan-hati Allah – belas kasih tidak hanya bagi dirinya, melainkan bagi orang-orang dari berbagai generasi. Maria mampu untuk mengatakan “YA” kepada undangan Allah karena dia tahu bahwa Dia itu mahaperkasa dan maharahim, melampaui apa yang dapat dicerna oleh akal-budi atau pemahaman manusia. Inilah jenis hati yang ingin diberikan Roh Kudus kepada kita – penuh dengan rasa hormat kepada Allah dan mau menjadi bejana-bejana belas kasih-Nya bagi dunia.

DOA: Allah Tritunggal Mahakudus, aku merendahkan diriku di hadapan-Mu. Aku mengakui bahwa segala yang baik berasal dari-Mu. Aku adalah seorang hamba yang tak berguna, seorang pendosa. Namun demikian, Engkau telah mengasihi diriku dan membawaku ke dalam eksistensi sehingga aku dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal bersama Dikau, ya Allahku. Terpujilah Engkau selama-selamanya. Ya Bapa, Putera dan Roh Kudus. Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mei 27, 2012

KITA MEMBUTUHKAN PERTOBATAN BATIN YANG SEJATI

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 28 Mei 2012 )

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10

Kalau kita melihat juga bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mrk 10:22; Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah mempunyai segalanya.

Mungkin sulit bagi kita untuk melihat betapa mendalamnya Yesus mengasihi orang muda-kaya ini. Biar bagaimana pun juga, kelihatan bahwa dalam beberapa menit saja Yesus berubah sikap terhadapnya. Mula-mula sikap Yesus terasa positif menyambut dia sebagai salah seorang murid-Nya, namun kemudian Ia mengajar orang itu secara dingin-dingin saja dan kaku. Kita dapat berpikir bahwa, “Ah, semua itu tentunya karena orang itu membutuhkan pertolongan dalam memahami siapa Yesus itu.” Tetapi sebenarnya dilema yang dihadapi orang muda-kaya itu adalah justru hakikat dari apa yang mau diajarkan oleh Yesus kepada kita.

Sesungguhnya, Allah adalah ‘seorang’ Bapa penuh kasih yang ingin memenuhi setiap kebutuhan kita. Namun Allah mengatakan kepada Musa bahwa nama-Nya adalah, “Aku adalah Aku!”/“Akulah Aku” (lihat Kel 3:13-14). Menyandang nama-Nya yang agung sedemikian, Allah tentunya tidak akan mengkompromikan pesan-Nya dengan memperkenankan kita untuk mendahulukan siapa/apa pun juga sebelum Dia atau di atas Dia. Orang kaya itu kiranya mempunyai niat yang agung, namun keragu-raguannya untuk “berpisah” dengan uang (melepaskan kelekatannya pada uang) mengungkapkan suatu ketidakpercayaan pada kemampuan Allah untuk membuatnya “aman” dalam kehidupan ini. Orang muda-kaya ini ternyata tidak memiliki kemauan untuk menjadi penerima-yang-rendah-hati dari rahmat Allah. Sebaliknya, dia merasakan adanya kebutuhan untuk memberi kesan kepada Yesus dengan kerajinannya, walaupun ini bukanlah keprihatinan Yesus yang utama.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, ingatlah bahwa Allah menginginkan hati kita. Seseorang yang lebih mencintai harta-kekayaan lebih daripada cintakasih-Nya kepada Allah akan diperintah oleh harta-kekayaannya itu, sedangkan seseorang yang telah mempasrahkan hati-Nya kepada Yesus akan dipenuhi dengan kekayaan yang tidak dapat dipahami oleh dunia ini. Tetapi kita juga harus menyadari akan adanya “ironi” dalam kehidupan ini: Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk mempersepsikan apa yang dipertimbangkan oleh masyarakat kita sebagai apa saja yang dinilai paling berharga. Sayangnya, suatu relasi pribadi dengan Allah yang Mahakuasa tidak berada pada puncak daftar prioritas masyarakat.

Sesungguhnya, dunia kita sangat membutuhkan pertobatan …… berbalik kembali kepada Kristus. Tanpa pertobatan batin yang sejati, ujung-ujungnya kita akan menjauh dari Yesus seperti halnya dengan orang muda-kaya dalam bacaan Injil hari ini. Oleh karena itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing apakah iman kita berakar pada kasih Yesus yang tak tergoyahkan atau cintakasih-cintakasih lainnya telah menjauhkan diri kita dari diri-Nya. Sekarang, marilah kita memandang dalam-dalam wajah Yesus dan memperkenankan pandangan-Nya yang penuh kasih meluluhkan hati kita masing-masing. Marilah dengan tulus-hati kita mencari kehadiran Kristus pada hari ini dan mohon agar Dia menjadi andalan kita dalam segala hal.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku! Aku membutuhkan kehadiran-Mu pada hari ini. Aku sungguh ingin agar kuat-kuasa Roh Kudus-Mu bekerja dalam diriku. Dengan ini aku meletakkan di hadapan-Mu segala hal dalam hidupku yang tidak berkenan kepada-Mu. Tuhan Yesus, ampunilah aku, orang yang berdosa ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mei 25, 2012

MENGASIHI YESUS SETIAP HARI DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA


( Bacaan Injil, Peringatan Santo Filipus Neri, Imam – Sabtu, 26 Mei 2012 )

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25)

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7

Setelah Petrus mengafirmasikan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali, hal mana menunjukkan bahwa hatinya berada di tempat yang benar, sang Rasul Kepala ini menunjuk “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:20) dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini? Yesus menegur Petrus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:21-22). Dalam artian tertentu, tanggapan Yesus ini adalah suatu “perpanjangan” dari pertanyaan yang diajukan-Nya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Mengasihi Allah berarti mengikuti Dia dalam ketaatan, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.

Kita dipanggil untuk mengasihi Yesus dengan ukuran yang sama, namun tidak harus dengan jalan yang sama. Petrus harus memahami bahwa mengikuti Yesus berarti sesuatu yang berbeda bagi dirinya ketimbang “murid yang dikasihi Yesus”. Apabila rasul yang lain itu tidak dipanggil untuk mati sebagai martir Kristus seperti yang dialami oleh Petrus, sudahlah … so be it! Allah mempunyai berbagai karunia dan peranan yang berbeda-beda bagi setiap anggota tubuh Kristus (lihat 1Kor 12:1-31).

Bagaimana halnya dengan kita sendiri? Rasanya, kita juga memiliki “sedikit Petrus” dalam diri kita masing-masing. Tidak pernahkah kita berpikir, “Mengapa orang ini tidak dapat melakukan pekerjaan seperti yang kulakukan?” atau “Mengapa orang itu tidak melakukan pengorbanan-pengorbanan pribadi untuk Tuhan seperti yang kulakukan?” Sebaliknya kalau kita melihat dari suatu perspektif yang lain, apakah kita menjadi ciut-hati karena kita tidak dapat menghayati kehidupan Kristiani – spiritualitas – sehari-hari seperti seorang pribadi lain? Yesus menegaskan di sini, bahwa mengikuti diri-Nya tidaklah berarti harus konform dengan suatu pola atau formula peraturan-peraturan tertentu. Mengikuti jejak Yesus berarti memberikan diri kita sendiri bagi suatu relasi-pribadi yang bersifat batiniah dengan diri-Nya.

Sekarang, marilah kita syeringkan panggilan dan privilese kita untuk boleh mendengar Tuhan Yesus bersabda: “Ikutlah Aku” ini. Yesus dapat memimpin kita ke arah yang baru, bahkan (barangkali) kepada jalan-jalan yang kita sendiri tidak akan pilih. Semua yang diminta adalah bahwa kita mengasihi Kristus setiap hari, tetap setia pada sabda yang telah ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing, dan menyerahkan baik masa lalu maupun masa depan kita kepada penyelenggaraan(-ilahi)-Nya. Hakekat Pentakosta bukanlah membentuk masyarakat yang homogen. Upaya untuk membangun sistem sedemikian akan dapat berujung pada bencana. Allah mencurahkan Roh-Nya untuk mendorong terciptanya persatuan dan kesatuan dan kasih yang riil di tengah berbagai macam ragam perempuan dan laki-laki yang berasal dari berbagai macam bangsa dan budaya. Dia mengumpulkan kita semua yang berasal dari segala macam status kehidupan ke dalam satu umat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu. Engkau menciptakan aku dalam kasih, menyelamatkan aku melalui kasih, dan memenuhi diriku dengan kasih setiap hari. Pada hari ini aku mengkomit diriku kembali untuk senantiasa taat pada panggilan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mei 21, 2012

BUAH ROH: BEBERAPA CATATAN



Kita ( anda dan saya ) tentunya pernah atau masih merasakan bahwa buah yang kita hasilkan untuk Kerajaan Allah masih sangat sedikit dan kecil, padahal Kitab Suci mencatat dengan jelas bahwa “Roh Kudus ingin agar menghasilkan buah melalui diri kita!” Yesus mengatakan kepada para murid-Nya – termasuk kita semua – “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Bagaimana kelihatannya “buah” yang dimaksud, dan apakah yang dapat kita harapkan sementara kita menyerahkan diri kita secara lebih penuh kepada Roh Kudus?

Tempat pertama yang harus kita perhatikan terletak di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Apakah kita telah melihat bahwa Roh Kudus sedang mengubah diri kita dari dalam? Apakah ada damai-sejahtera dalam diri kita? Apakah kita lebih yakin akan kasih Allah? Apakah kita lebih berkemauan untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan? Ini semua adalah tanda-tanda dari hidup yang baru. Semuanya menunjuk kepada Roh yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus dan mempersiapkan kita untuk melayani Dia secara lebih mendalam.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul Kristus diubah dari dalam dan mulai memanifestasikan buah-buah Roh yang sama. Sebagai akibat dari transformasi, mereka diberdayakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mewartakan Injil, dan mendirikan gereja (jemaat) di banyak tempat. Ingatlah, bagaimana sebelum pencurahan Roh Kudus, Petrus menangisi imannya yang lemah dan penyangkalannya terhadap Yesus. Namun setelah pengalamannya di Ruang Atas, murid/rasul yang dilanda rasa takut dan ketidakpastian itu diubah menjadi seorang saksi Kristus yang tangguh dan berani, dan suatu instrumen Roh Kudus yang penuh kuat-kuasa.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Selagi kita membuka diri kita bagi karya Roh Kudus yang mentransformasikan, kita akan melihat tanda-tanda kehadiran-Nya dalam diri kita. Tidak hanya kita akan memiliki suatu damai di hati, kita juga akan mempunyai kuasa untuk mengasihi orang yang berlainan dengan kita – bahkan mefreka yang mungkin telah menyakiti kita di masa lalu. Kita akan mengenal sukacita Kristus di tengah penderitaan dan mampu untuk mengkomunikasikan sukacita itu kepada orang-orang lain yang sedang menderita juga.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Allah mempunyai suatu panggilan yang unik untuk setiap pribadi yang telah dibaptis – suatu cara spesifik bagi kita untuk turut serta memajukan Kerajaan-Nya dan menghasilkan buah dalam Gereja. Apa yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin menjadi instrumen-Nya dalam Gereja dan di tengah dunia.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). Tubuh manusia terdiri dari banyak anggota/bagian seperti tangan, kaki, mulut dan mata, demikian pula dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Apabila salah satu dari kita meminimalisir atau mengabaikan martabat kita dan panggilan kita sebagai anggota tubuh-Nya, maka keseluruhan Gereja menjadi diperlemah.

Mungkinkah Roh Kudus sedang memanggil anda untuk melayani dalam penyembuhan orang-orang sakit, mengajar, atau mengunjungi orang sakit dan/atau yang sedang meringkuk dalam penjara? Apakah Dia sedang mengundang anda untuk melayani dalam melakukan doa-doa syafaat (pengantaraan), evangelisasi, atau untuk memberi makan-minum orang yang lapar-haus dan memberi pakaian kepada mereka yang telanjang (Mat 25:31-46)? Gereja membutuhkan begitu banyak karunia dewasa ini: a.l. karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia sabda pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk membuat mukjizat, karunia untuk bernubuat dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1Kor 12:8-11) dll. Allah ingin menganugerahkan berbagai karunia ini kepada orang-orang biasa seperti anda dan saya. Namun seringkali kita membuat diri kita disqualified (tidak memenuhi syarat) berdasarkan pemikiran bahwa kita tidak pantas untuk menerima pemberian Allah yang penuh kebaikan seperti itu. Kita seringkali berpikir bahwa diri kita tidak signifikan sehingga dengan demikian tidak seharusnya mengharapkan Allah akan pernah berpikir untuk mempercayakan kita dengan sesuatu yang begitu penuh dengan kuat-kuasa.

Namun ini bukanlah cara Allah berpikir. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN (YHWH) melihat hati” (1Sam 16:7). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus – kebanyakan dari mereka adalah “wong cilik”: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang-orang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahwa apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:26-29). Bahkan para rasul Kristus sendiri adalah orang-orang biasa yang hidup sehari-harinya adalah membuat seimbang antara karya dan keluarga (Kis 4:13).

Marilah kita melihat Santo Yusuf. Yusuf adalah seorang tukang kayu sederhana di Nazaret, namun dirinya dipanggil untuk selama sekian tahun mengurus Yesus adalah Putera Allah yang kekal! Bapa surgawi tidak memilih seorang rabi yang terkenal atau seorang anggota Sanhedrin (mirip dengan MUI dalam hal Indonesia dewasa ini). Allah melihat bahwa Yusuf-lah yang memiliki kualitas-kualitas pribadi yang diperlukan-Nya: kerendahan-hati dan ketaatan kepada Roh Kudus.

Ketaatan kepada Roh Kudus. Allah memanggil kita untuk menghasilkan buah Roh bagi-Nya. Apakah ada penghalang-penghalang yang merintangi kita untuk menghasilkan buah untuk Tuhan? Apakah kita merasa terlalu lemah dan berdosa? Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita pemahaman yang lebih mendalam mengenai belas kasih Allah. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita betapa dalamnya Bapa surgawi mengasihi kita. Kita memang tidak boleh puas dengan “pengalaman setengah-setengah” (mediocre experience) akan Allah. Juga janganlah kita cepat puas dengan visi setengah-setengah tentang bagaimana Roh Kudus mungkin menginginkan untuk menggunakan diri kita (anda dan saya). Yesus bersabda: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Ingatlah bahwa kebutuhan memang besar sekali, namun kuasa Tuhan jauh lebih besar lagi. Yang dibutuhkan-Nya adalah umat yang menyerahkan diri kepada-Nya, siap untuk dipakai oleh-Nya.

Bagaimana kiranya menurut kita Roh ingin memberdayakan kita dan menggunakan kita dalam memajukan Kerajaan-Nya? Di bawah ini ada beberapa contoh kemungkinan yang dapat kita pertimbangkan.

         Mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Lewat Paus Yohanes Paulus II, Roh Kudus telah memanggil Gereja kepada EVANGELISASI BARU. Kita tidak perlu dan tidak boleh membebani pelayanan ini sepenuhnya kepada para imam dan para biarawati-biarawan, karena evangelisasi adalah tugas setiap anggota tubuh Kristus. Evangelisasi tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar khotbah karena tidak semua orang dapat/diperbolehkan melakukannya, melainkan teristimewa melalui kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau tidak. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus-lah yang memegang peranan utama dalam evangelisasi. Kita hanyalah sarana untuk Roh Allah bekerja dalam evangelisasi.

         Melayani orang sakit. Apabila seseorang mengatakan kepada kita bahwa dirinya sedang menderita sakit, kita harus mencoba bertanya kepadanya apakah dapat berdoa bersama dengan dia untuk beberapa menit lamanya. Banyak orang yang berterima kasih penuh syukur atas tawaran kita itu. Selagi kita mendoakan sebuah doa penyembuhan sederhana kepada Tuhan, perkenankanlah Roh Kudus dalam diri kita untuk mengalir kepada orang tersebut. Baiklah kita menumpangkan tangan kita di pundaknya, atau memegang tangannya selagi kita berdoa. Apakah kita memiliki karunia istimewa sebagai seorang penyembuh atau tidak, kita akan melihat bahwa sedikit demi sedikit orang akan datang kepada kita untuk didoakan.

Sebuah catatan kecil: Jika kita sudah mengetahui benar bahwa kita tidak dianugerahkan karunia untuk menyembuhkan (1Kor 12:9), maka hal itu tidak berarti kita tidak boleh mendoakan seseorang yang sedang sakit dalam sebuah pertemuan yang secara relatif dihadiri banyak orang, namun janganlah ikut ramai-ramai menumpangkan tangan di atas pundak atau kepala si sakit. Berdirilah di bagian belakang ketika berdoa dan perkenankanlah saudari-saudara yang memiliki karunia istimewa tersebut yang menumpangi tangan.

         Doa syafaat (pengantaraan). Doa syafaat adalah pelayanan tersembunyi namun sangat berpotensi dalam tubuh Kristus. Dari sebutannya saja doa syafaat ini berarti bukanlah doa untuk diri sendiri. Kita dapat mengundang anggota keluarga kita atau anggota komunitas kita untuk berdoa bersama, misalnya seminggu sekali untuk intensi/ujud yang kita rasakan telah ditaruh Allah dalam hati kita, misalnya mendoakan agar tercipta suasana damai antara para rohaniwan dalam paroki kita masing-masing, agar Gereja Indonesia tetap tegar, teguh dan jujur dalam misi-Nya di tengah hiruk-pikuknya suasana sosial-politik negara kita, dlsb. Dalam hal ini ingatlah janji Yesus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situAku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

         Menjadi sarana Allah untuk melayani sesama kita berdasarkan kehendak-Nya. Seringkali kita merasakan bahwa Allah mengatakan sesuatu, namun kita mengabaikan atau menyepelekannya sebagai sesuatu yang bukan apa-apa, mungkin hanya sekadar khayalan. Ingatlah bahwa Allah mungkin sedang memberikan kepada kita kata-kata penghiburan bagi seseorang yang sedang kesepian dan sedih karena baru ditinggalkan pasangan hidupnya, atau sedang merasa sakit hati dlsb. Jadi, apabila kita merasakan adanya kata-kata yang tidak biasa dari diri kita sendiri, baiklah kita tulis dan mendengarkan dengan serius untuk melihat apakah Allah masih ingin mengatakan lebih banyak lagi kepada kita. Seringkali Roh Kudus berbicara dengan bisikan halus kepada kita (bdk. 1Raj 19:12). Akan tetapi semakin kita mencoba mempraktekkan apa yang kita dengar, maka kita akan mengalami bahwa suara Allah pun menjadi semakin jelas.

Semua yang disebutkan di atas adalah sekadar beberapa contoh untuk menunjukkan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing dengan segala variasinya.

Sebuah doa: Datanglah, Roh Kudus! Roh Kudus Allah, kami mempersembahkan diri kami, waktu kami dan karunia-karunia yang ada pada diri kami masing-masing. Dengan segala kerendahan hati kami memperkenankan Engkau untuk memimpin dan membimbing kami seturut kehendak-Mu, bukan kehendak kami sendiri. Kami menyerahkan setiap area dari kehidupan kami agar Engkau dapat menghasilkan buah di dalam dan melalui diri kami. Roh Allah yang kami sembah, kami tidak dapat hidup tanpa Engkau. Kami tidak dapat dapat ikut serta memajukan Kerajaan Surga apabila kami tidak patuh kepada-Mu. Teristimewa menjelang Hari Raya Pentakosta yang tinggal beberapa hari ini, sekali lagi kami berikrar bahwa kami dengan ikhlas memberikan segalanya kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS