Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Januari 03, 2013

SIAPA YANG MELAKUKAN KEBENARAN ADALAH BENAR


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 4 Januari 2013)
Keluarga Fransiskan: Beata Angela dari Foligno, Ordo III Sekular

Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Siapa yang melakukan kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab sejak semula Iblis terus-menerus berbuat dosa. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis.

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus menerus berbuat dosa; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: Setiap orang yang tidak melakukan kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga siapa saja yang tidak mengasihi saudara seimannya. (1Yoh 3:7-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9; Bacaan Injil: Yoh 1:35-42

Jelas ada suatu pertempuran spiritual yang berlangsung terus-menerus antara kekuatan-kekuatan baik dan kekuatan-kekuatan jahat, yang juga melibatkan kita. Walaupun begitu, pertempuran ini boleh dikatakan bukanlah pertempuran yang seimbang. Yesus Kristus yang sudah datang sebagai seorang anak manusia, sudah mengalahkan musuh-Nya. Kita akan memahami realitas dosa dan Iblis bilamana kita memusatkan pandangan mata kita pada Dia yang telah mengalahkan dosa dan Iblis. Sementara kita menerima rahmat Allah, maka kita melihat dosa sebagai apa adanya – suatu penyalahgunaan kebebasan yang diberikan Allah kepada kita.

Putera Allah datang untuk menghancurkan kerja si Iblis (lihat 1Yoh 3:8). Pekerjaan Iblis yang paling merusak terjadi pada awal sejarah manusia, ketika dia berhasil membujuk manusia untuk menolak Allah dan berdiri melawan kehendak-Nya. Nah, Putera Allah menyerang tipu-daya dan desepsi Iblis ini dan segala konsekuensinya. Yesus mengalahkan Iblis melalui pengorbanan hidup-Nya dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati oleh kuasa Allah.

Dengan mengalahkan kekuatan Iblis atas ciptaan – yaitu kematian – Yesus membuat Iblis menjadi impoten. Namun Iblis masih terus menggoda kita, karena Allah telah memberikan kebebasan pribadi (kehendak bebas) kepada kita masing-masing untuk membuat pilihan. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki kebangkitan Yesus hidup dalam diri mereka melalui baptisan dan iman yang hidup kepada Dia mempunyai otoritas atas Iblis dan “tidak terus menerus berbuat dosa, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1Yoh 3:9).

Benih iman yang ditanam pada saat baptisan bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kuasa Allah dalam kehidupan kita. Tindakan-tindakan kita yang benar memberi kesaksian tentang apa yang telah dilakukan Allah atas diri kita. Kita diciptakan oleh Allah untuk memiliki hati yang terbukti murni oleh tindakan-tindakan kita. Bahkan Putera Allah yang menjadi manusia, walaupun Ia tidak berdosa – membuktikan kemurnian kasih-Nya kepada Bapa surgawi melalui ketaatan-Nya dalam bertindak. Tindakan benar untuk mana kita dipanggil adalah untuk mengasihi satu sama lain setiap saat, tidak hanya pada waktu “salam damai” dalam Misa Kudus.

Karena Putera Allah telah mengalahkan kejahatan yang paling besar, maka kita memiliki keyakinan bahwa Dia memegang kendali atas kejahatan yang masih ada dalam dunia, termasuk godaan terhadap hati kita sehari-hari. Oleh karena itu pengharapan kita dalam kehidupan ini datang melalui kehadiran Kristus yang bekerja dalam hati kita dan hati siapa saja yang mau menerima Dia.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan kami dari kegelapan dosa melalui tindakan kasih-Mu. Jagalah kami, ya Yesus, agar kami tetap mengasihi-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Lindungilah kami selalu dari si Jahat, dan pakailah kami sebagai instrumen-instrumen kebaikan-Mu yang penuh kasih sampai saat Engkau datang kembali kelak dalam kemuliaan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OF

Rabu, Januari 02, 2013

KARUNIA UNTUK MEMBEDA-BEDAKAN ROH


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 3 Januari 2013)
Keluarga Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29—3:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6

Apakah kiranya kesamaan dari yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis dan nabi Samuel? Paling sedikit ada satu, yaitu karunia membeda-bedakan roh (discernment; lihat 1Kor 12:10). Pada saat Samuel bertemu dengan Isai dan anak-anaknya di Betlehem untuk mengurapi salah seorang anak Isai yang telah dipilih TUHAN (YHWH) sebagai raja guna menggantikan Saul, dia dapat mengatakan bahwa hanya satu – Daud – yang cocok. Hal itu berhasil dilakukannya karena dia senantiasa mendengarkan suara YHWH untuk mengetahui kehendak-Nya (1Sam 16:6-12). Berabad-abad kemudian, Yohanes sedang membaptis orang banyak di sungai Yordan ketika Yesus datang mendatanginya. Melihat Dia, Yohanes berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:29).

Discernment adalah sebuah karunia spiritual (karunia Roh) yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang telah dibaptis ke dalam Kristus. Artinya kita semua! Allah ingin kita terus memelihara karunia ini dan belajar bagaimana menggunakannya. Bagaimana kita dapat mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita dan kehendak-Nya dalam berbagai situasi yang kita hadapi sehari-harinya, apabila kita tidak belajar bagaimana melatih/mempraktekkan karunia yang sangat berharga ini?

Pada tingkat tertentu, kita semua memiliki kemampuan dasar untuk membeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk, juga antara kebenaran dan dosa. Akan tetapi, pada tingkat yang lebih mendalam, kita mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan antara benar dan salah terkadang dapat menjadi tidak jelas. Untuk “daerah abu-abu” ini kita harus lebih berhati-hati. Pertama, tama, kita perlu membawa isu yang kita hadapi dalam doa dan mohon Allah untuk memperoleh kejelasan. Lalu, kita pun perlu memeriksa hati/batin kita. Apakah yang memotivasi kita? Bagaimana alternatif-alternatif pilihan yang sedang kita pertimbangkan itu, apabila kita menggunakan perintah-perintah Allah dan ajaran-ajaran Gereja sebagai tolok ukur? Bagaimana alternatif-alternatif pilihan kita itu, apabila kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui tentang karakter Allah dan niat-niat-Nya bagi diri kita? Kemudian, dengan kemampuan yang kita miliki, kita harus mengambil keputusan.

Yohanes Pembaptis mampu untuk melakukan discernment bagaimana dia harus hidup karena dia senantiasa berada dekat dengan Roh Kudus. Demikian pula dengan Samuel yang senantiasa mendengarkan suara YHWH. Bagi dua orang pilihan Allah ini, karunia membeda-bedakan roh ini tidak hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup mereka sendiri, melainkan juga memampukan mereka membaca hati orang-orang lain dan mendeteksi gerakan-gerakan Roh Kudus di dunia sekeliling mereka. Bagi mereka – dan juga bagi kita – discernment tidak kurang daripada wawasan ke dalam pikiran dan hati Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa spiritual discernment lebih daripada sekadar pemikiran rasional yang baik. Yang sangat menentukan dalam suatu proses discernment ini adalah penyerahan diri kepada Allah.

DOA: Bapa surgawi, terangilah kegelapan hatiku dan berikanlah kepadaku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Berikanlah juga kepadaku, ya Tuhan Allahku, perasaan yang peka dan akal-budi yang cerah, sehingga aku dapat membuat keputusan-keputusan dalam kehidupanku – baik besar maupun kecil – seturut kehendak-Mu, dengan cara yang memberikan kehormatan dan kemuliaan bagi-Mu saja. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TINGGAL DI DALAM KRISTUS


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Rabu, 2 Januari 2013)

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1Yoh 2:22-28)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28

Rasul Yohanes telah hidup bersama Yesus sejak awal-awal Yesus muncul di depan umum sebagai seorang rabi. Ia diam bersama-Nya selama tiga tahun penuh dan bahkan berdiri di dekat salib Kristus ketika wafat. Apa yang membuat Yohanes begitu setia sebagai murid-Nya? Karena dia memperkenankan ajaran Yesus dan diri-Nya berdiam dalam dirinya (lihat Yoh 15:1-11). Yohanes percaya bahwa dengan tinggal dalam Yesus, maka dia akan mampu untuk menghasilkan banyak buah dalam Kerajaan Allah.

Di tahun-tahun setelah kematian Yesus, Yohanes tentunya sering sekali melakukan permenungan atas sabda Yesus. Ia tentunya mengingat dan mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) sambil juga mencatat pengalaman-pengalamannya. Maka, dengan berjalannya waktu, ajaran-ajaran Yesus tentang tinggal/berdiam dalam diri-Nya menjadi sebuah kenyataan selagi Yohanes berdoa, belajar dan bereksperimen dengan cara-cara yang berbeda-beda dalam meneladan sang Guru.

Seiring dengan bertumbuh-kembangnya komunitas-komunitas Kristiani awal, mereka pun mulai mengalami benturan-benturan budaya antara berbagai falsafah/filsafat dunia dan ajaran-ajaran Yesus. Bagaimanakah kiranya umat Kristiani yang masih muda usia berurusan dengan masalah-masalah abadi dari cinta dunia, nafsu kedagingan, dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:12-17)? Dalam suratnya, Yohanes menggunakan segala hal yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun untuk mendorong dan menyemangati komunitasnya agar tinggal/berdiam dalam Kristus: “Apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu” (1Yoh 2:24). Yohanes juga mengajak umatnya untuk senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus telah dicurahkan atas diri mereka untuk mengajar mereka dan menolong mereka mengatasi berbagai halangan yang mereka hadapi (lihat 1Yoh 2:27).

Demikian pulalah dengan diri kita masing-masing pada hari ini. Kita terus dibombardir dengan ide-ide duniawi (misalnya lewat berbagai macam iklan), dorongan-dorongan kedagingan kita sendiri, dan rancangan-rancangan jahat dari Iblis. Siapa yang akan menyelamatkan kita? Yesus Kristus, Tuhan kita! Setiap hari, kita dapat mengisi pikiran kita dengan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap hari kita dapat mencari kehadiran-Nya dalam doa. Setiap hari kita dapat mempraktekkan seni berdiam dalam Kristus. Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan diri kita. Dengan demikian yang perlu kita lakukan adalah memperkenankan Dia membimbing/menuntun pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita. Apabila kita melakukannya, maka kita akan memiliki rasa yakin-percaya. Kita akan diyakinkan bahwa Yesus telah mengalahkan dunia dan kita pun dapat mengalahkan dunia, karena kita berdiam/tinggal dalam Kristus dan Ia tinggal dalam kita.

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tinggal dalam kehadiran-Mu sepanjang hari-hari aku hidup di dunia ini. Tolonglah aku untuk menghayati kehidupan yang bertumpu pada sabda-Mu. Ajarlah aku melalui bacaan-bacaan Kitab Suci bagaimana semestinya menghayati kehidupan yang penuh kasih dan syukur. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 27, 2012

PANGGILAN UNTUK MENGASIHI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Sabtu, 29 Desember 2012)
Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Siapa yang berkata, “Aku mengenal Dia”, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia. Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (1Yoh 2:3-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6; Bacaan Injil: Luk 1:22-35

“Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1Yoh 2:10).

Kata-kata Yohanes di sini dimaksudkan untuk mengingatkan para pembacanya agar waspada terhadap suatu bahaya dalam kehidupan spiritual, yaitu terjebak dalam analisis demi analisis atas bacaan Kitab Suci sampai-sampai malah kehilangan minat sama sekali atas karakter dari ceritanya sendiri. Dalam begitu banyak situasi, kata-kata yang diucapkan Yesus cukup sederhana dan jelas, namun kita tidak jarang tergoda untuk mempertanyakan “makna sebenarnya” dari kata-kata Yesus itu. Kita cenderung memakai otak kita lebih daripada hati kita. Bukankah begitu halnya dengan pertemuan-pertemuan pendalaman Kitab Suci yang sering kita alami?

Sepanjang “Surat Yohanes Yang Pertama”, panggilan untuk mengasihi terus menerus terdengar selagi penatua Gereja ini mendesak umat-Nya untuk melaksanakan praktek-praktek yang akan menjamin kesatuan dan persatuan mereka sebagai jemaat/Gereja. Seakan-akan Yohanes berkata, “Apakah anda ingin bertumbuh menjadi semakin dekat pada kesempurnaan dalam Kristus? Jawabannya sederhana: Melangkahlah dan kasihilah.”

Bukankah ini menunjukkan bagaimana Yesus menjalani kehidupan-Nya? Salah satu dari hal-hal terakhir yang dilakukan-Nya sebelum wafat di kayu salib adalah membasuh kaki para murid-Nya (Yoh 13:1 dsj.) dan memerintahkan mereka untuk saling membasuh kaki satu sama lain. Yesus menunjukkan satu dari jalan-jalan utama kita dapat saling mengasihi sehingga dengan demikian menjadi semakin menyerupai diri-Nya: melalui tindakan melayani.

Yesus juga menunjukkan kasih-Nya melalui kemauan penuh kerelaan untuk mengampuni – secara terus-menerus dan tetap. Yesus juga memanggil kita untuk mengampuni yang bersalah kepada kita secara penuh pula. Ini berarti mengampuni sesuatu yang kecil sekalipun seperti komentar tidak mengenakkan dari orang lain, dan juga mengampuni sesuatu yang serius, misalnya ketidaksetiaan pasangan suami atau istri kita.

Secara tetap Yesus mendorong, menyemangati dan mengangkat para murid-Nya: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33). Bagaimana dengan seorang sahabat yang sedang sakit atau seorang saudara sepupu yang sedang mengalami depresi? Telponlah mereka dan berikanlah kepada mereka penghiburan yang menyemangati. Tunjukkanlah kepada mereka kasih Kristus melalui kebaikan kita.

Yang menakjubkan mengenai Yesus adalah bahwa diri-Nya sempurna melalui kasih yang dipraktekkannya dalam setiap keadaan/situasi yang dihadapi. Tindakan-tindakan kasih yang sama akan membawa kita lebih dekat kepada Yesus karena melalui praktek mengasihi ini kita sebenarnya meneladan Dia.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kusampaikan kepada-Mu karena Engkau terus membimbing dan mengasihi diriku. Ajarlah aku terus dan lebih lagi mengasihi sesamaku agar dapat menjadi semakin serupa dengan Yesus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA SAMPAI BUTA SEPERTI HERODES

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Oktaf Natal- Jumat, 28 Desember 2012)

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18)
[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana berbedanya orang-orang menanggapi peristiwa yang terjadi atau orang tertentu? Orang-orang yang berbeda-beda dapat memberikan reaksi-reaksi yang sangat berbeda satu sama lain atas suatu peristiwa yang terjadi, bahkan juga atas seorang pribadi, baik seorang tokoh masyarakat maupun seorang biasa-biasa saja. Ketika kita berkumpul dalam sebuah pertemuan reuni misalnya, ucapkan saja tiga huruf latin, misalnya SBY, maka bermacam-macam reaksi akan bermunculan. Yang satu akan berkomentar “begini”, dan yang lain akan berkomentar “begitu”. Lihat berbagai “pemilukada” di banyak tempat di Indonesia: Begitu seorang calon terpilih menjadi bupati, maka banyak pemilih yang mendukungnya akan bergembira, namun mereka yang menjagokan calon yang lain akan menjadi tidak puas, malah ketidakpuasan tersebut dapat saja diungkapkan dalam berbagai macam aksi kekerasan.

Kelahiran Yesus – inkarnasi Putera Allah – adalah peristiwa paling indah dalam sejarah umat manusia. Walaupun demikian, orang-orang yang berbeda memberikan tanggapan yang berbeda-beda pula atas peristiwa agung tersebut. Maria menanggapi “misteri inkarnasi” ini dengan kerendahan hati dan ketaatan; para malaikat dan gembala di padang Efrata menanggapi peristiwa agung ini dengan penuh rasa takjub dan sukacita. Akan tetapi, Raja Herodes Agung melihat peristiwa indah ini dengan kacamata yang berbeda. Walaupun kedatangan Yesus membawa janji besar bagi dirinya dan bagi semua orang, raja tua ini menanggapinya dengan rasa takut, iri dan kemurkaan. Seorang pengkhotbah dalam Gereja kuno – Santo Quodvultdeus (+ 453), Uskup Kartago [Tunisia] – mengatakan: “Mengapa engkau takut, hai Herodus, ketika engkau mendengar tentang kelahiran seorang raja? Ia datang bukan untuk mendepak engkau, melainkan untuk mengalahkan Iblis. Namun karena engkau tidak memahami hal ini maka engkau merasa terganggu dan menjadi murka, dan untuk menghancurkan seorang anak yang engkau cari-cari, engkau menunjukkan kekejamanmu yang mengakibatkan kematian begitu banyak anak-anak … Engkau menghancurkan mereka yang kecil dalam tubuh karena engkau takut menghancurkan hatimu sendiri.”

Herodes merasa terancam oleh pemikiran bahwa Yesus akan menjadi Raja Israel. Rasa takut ini dan hasrat untuk melindungi dirinya sendiri telah menggiring raja tua ini kepada perbuatan sangat jahat dalam bentuk pembunuhan anak-anak kecil yang tak berdaya. Herodes telah dibutakan sehingga luput melihat siapa Yesus itu dan rencana agung Allah untuk setiap orang pada saat kedatangan-Nya. Sayang sekali, rasa takut Herodes dan pikiran yang cupat-sempit menjadi penghalang yang begitu besar, sehingga dia tidak dapat menerima hidup baru dari Allah yang dibawa oleh Yesus ke tengah dunia.

Sesungguhnya, Allah itu senantiasa dekat dengan kita …. artinya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, dst. Allah menunggu kita untuk datang kepada-Nya dan dikasihi oleh-Nya, dihibur oleh-Nya dan ditolong oleh-Nya. Yesus yang datang ke tengah dunia sebagai seorang bayi tak berdaya telah naik ke surga. Walaupun demikian, Ia tetap hadir dalam sakramen-sakramen dan Ia berdiam dalam diri kita melalui Roh Kudus. Pada hari yang penuh kenangan ini, marilah kita menghadapi berbagai tantangan berupa rintangan-rintangan seperti rasa takut, luka batin, pikiran sempit dlsb. – berbagai rintangan yang menghalangi diri kita untuk menerima semuanya yang Allah ingin berikan kepada kita. Apabila kita melihat rintangan-rintangan ini, baiklah kita menanggapi semua itu dengan berpaling kepada Allah dan dengan rendah hati memohon pertolongan-Nya. Dia yang sang mengasihi kita semua tentunya tidak akan menolak permohonan kita.

DOA: Tuhan Yesus, dengan tulus dan rendah hati aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bebaskanlah aku dari setiap hasrat yang akan membutakan diriku sehingga tidak dapat melihat-Mu. Yesus, Engkau adalah raja hatiku, penguasa atas segala pemikiran dan tindakanku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 26, 2012

BAGI YOHANES, YESUS ADALAH HIKMAT ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Oktaf Natal – Kamis, 27 Desember 2012)

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya sukacita kami menjadi sempurna. (1Yoh 1:1-4)

Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12; Bacaan Injil: Yoh 20:2-8

Tiga ayat pertama dalam surat pertama Santo Yohanes ini menggambarkan rencana Allah bagi kita – bahwa kita semua akan ikut ambil bagian dalam suatu persekutuan kasih yang akrab/intim dengan Allah, Bapa dan Putera-Nya, Yesus Kristus. Pada hari ini Gereja merayakan pesta Santo Yohanes Rasul-Penulis Injil. Orang kudus ini mengetahui sesuatu tentang kasih Allah yang begitu besar bagi kita – malah dia sendiri telah mengalaminya.

Yohanes mengenal sekali Yesus dan mengasihi-Nya dengan sangat mendalam. Ia telah mendengar Yesus mengajar orang banyak tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, sambil membuat banyak mukjizat. Ia menyaksikan sendiri Yesus membangkitkan puteri Yairus dari kematian (lihat Mrk 5:22-24,35-42). Di atas gunung Transfigurasi (catatan: Injil tidak menyebut gunung Tabor), bersama Petrus dan Yakobus, Yohanes menyaksikan Yesus dimuliakan (Mat 17:1-2). Pada perjamuan terakhir, Yohanes – yang menyamakan dirinya dengan murid yang dikasihi-Nya – mendapat privilese untuk duduk di sebelah Yesus dan bersandar pada dada Yesus (Yoh 13:23). Akhirnya, murid yang dikasihi Yesus ini adalah satu-satunya dari ke dua belas rasul/murid Yesus – bersama Ibu Maria, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena – yang hadir di bawah salib Yesus pada saat wafat-Nya (Yoh 19:25-27).

Selagi Yohanes berada dekat dengan Yesus, dia belajar bahwa Yesus adalah Hikmat Allah, Sabda Allah yang disampaikan/diucapkan kepada umat manusia (Yoh 1:1-5,14). Melalui permenungan dalam suasana doa atas kata-kata dan perbuatan-perbuatan Yesus, Yohanes belajar bahwa Yesus sudah ada sejak sediakala, … sejak kekal. Yesus adalah “hidup” yang dimanifestasikan dalam ruang dan waktu penyelamatan kita (1Yoh 1:2). Yohanes belajar bahwa Yesus adalah “jalan” ke kehidupan kekal dengan Allah (Yoh 14:6) – suatu kehidupan yang dinyatakan pertama-tama kepada para murid-Nya yang awal, kemudian kepada semua orang.

Yesus mengundang kita masing-masing untuk mengalami kasih dan keintiman yang sama sebagaimana yang dikenal dan dialami oleh Yohanes. Yesus telah memberikan kepada kita karunia-karunia doa dan Kitab Suci untuk memperkuat kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dia telah memberikan kepada kita karunia persaudaraan satu sama lain dalam Gereja sebagai dukungan dan dorongan. Akhirnya Yesus telah memberikan kepada kita diri-Nya sendiri dalam Ekaristi – roti kehidupan dan cawan/piala keselamatan kekal. Dalam pekan oktaf Natal ini, marilah kita menghadap hadirat-Nya dengan segala kerendahan hati dan memperkenankan kasih-Nya masuk semakin mendalam dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami sampaikan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan kasih Allah Bapa kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami agar mau dan mampu untuk menerima kasih ini selagi kami datang kepada-Mu dengan hati dan pikiran yang terbuka bagi karunia hidup kekal dari-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 25, 2012

HIDUP YANG SENANTIASA DIPENUHI DAN DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS


(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Rabu, 26 Desember 2012)

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Pada hari ini, hanya satu hari setelah Hari Raya Natal, kita menghormati Santo Stefanus, murid Yesus pertama yang mati sebagai martir-Nya. Stefanus adalah salah satu dari 7 (tujuh) orang diakon pertama dalam Gereja awal, yang ditugaskan untuk melayani distribusi keperluan sehari-hari kepada umat sebagian umat Gereja Yerusalem, yaitu para janda yang berasal dari orang-orang Yahudi yang berbicara dalam bahasa Yunani (Kis 6:1-6). Apakah job qualification bagi Stefanus dan enam orang lainnya untuk menjadi diakon dalam Gereja? “Terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat” (Kis 6:3). Tentang Stefanus, “Kisah para Rasul” mencatat: “… mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus …” (Kis 6:5). Stefanus begitu dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga dengan penuh keberanian berkhotbah di jalan-jalan dan membuat mukjizat-mukjizat sebagaimana telah diperbuat oleh Yesus.

Ketika Stefanus ditangkap dan dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, Roh Kudus memberikan kepadanya kata-kata pembelaan diri untuk diucapkan, seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus kepada setiap murid-Nya: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan” (Luk 12:11-12; bdk. Mat 10:19-20). Bahkan ketika dia sedang ditimpuki batu oleh para penganiayanya, sesaat sebelum kematiannya, Stefanus masih mampu (dimampukan) untuk berbicara kebenaran dan memberitakan belas kasih Allah terhadap para musuhnya: “Tuhan, janganlah tanggung dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

Kata-kata terakhir yang diserukan oleh Stefanus ini tidak datang kepadanya secara ajaib. Kata-kata ini adalah ekspresi terakhir dari seseorang yang hidupnya secara total bergantung pada Roh Kudus, dan kata-kata itu adalah suatu pencerminan dari apa yang Roh Kudus ingin lakukan untuk kita. Roh Kudus ingin mentransformir kita ke dalam keserupaan dengan Yesus. Selagi kita belajar untuk menyerahkan mindsets kita, asumsi-asumsi kita, rencana-rencana kita, bahkan afeksi-afeksi kita pada Tuhan, kita pun akan dibentuk dan diubah oleh Roh Kudus-Nya. Kita akan menemukan kuat-kuasa yang kita perlukan untuk dapat ke luar dalam kasih dan berjumpa dengan orang-orang lain, bahkan para “musuh” kita, yang mendzolomi kita, yang membenci kita.

Yesus datang ke tengah dunia untuk mengundang kita ke dalam hidup yang senantiasa dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus (Inggris: A Spirit filled and Spirit led life). Sesungguhnya kita sudah memiliki potensi untuk hal ini dalam hati kita. Allah yang hidup berdiam dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus. Ia telah ada di sana, menantikan kita untuk berbalik kepada-Nya dan menerima kuat-kuasa-Nya. Hadiah Natal apa lagi yang lebih baik yang mungkin kita terima?

Setiap pagi, baiklah kita memberikan hati kita kepada Roh Kudus. Dan dengan berjalannya hari, kita tidak boleh lengah mendengarkan bisikan-bisikan Roh Kudus, kata-kata-Nya yang penuh kasih, bimbingan-Nya dan koreksi-koreksi-Nya atas berbagai kesalahan/dosa kita. Selagi kita melakukan semua ini, kita pun akan melihat terjadinya perubahan dalam diri kita. Kita menjadi lebih sabar, berbicara dengan lebih lemah lembut, membuang sikap yang suka menghakimi orang lain, bahkan dimampukan untuk mengasihi mereka yang mendzolomi diri kita, yang tidak memahami kita, yang membenci kita – semua ini dimungkinkan karena kita telah mendengarkan suara Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau adalah sumber kekuatanku, pengharapanku, dan kasihku. Lebarkanlah pintu gerbang hatiku sehingga sang Raja Damai dapat masuk ke dalamnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:17-22), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN DIBENCI SEMUA ORANG OLEH KARENA NAMA-KU” (bacaan tanggal 26-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.

Cilandak, 18 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ERTI NATAL


ERTI Natal adalah, bahwa di dalam Kanak-kanak yang bertumbuh menjadi laki-laki dewasa, terdapatlah kunci kepada sumber kehidupan. Apa yang kita saksikan di dalam diri Yesus mengungkapkan kepada kita lebih banyak arti dunia daripada apapun juga.

Dari kenyataan peristiwa-peristiwa yang terjadi, pada dasarnya kita dapat menyaksikan bahwa cintakasih yang paling luhur ini merupakan hal yang paling nyata dan paling kuasa di dunia.

Hal ini menuntut iman yang luarbiasa besarnya, sehingga kita tidak sanggup menimbulkan iman itu, andaikata melalui Kristus kita tidak dapat melihat kenyataan yang paling hakiki, yakni Allah sendiri.

Inilah yang mau diberikan oleh pesta Natal kepada kita, yaitu bahwa Yesus dari Nazaret yang dianugerahkan kepada kita memungkinkan kita menyelami segala sesuatu secara mendalam. Sebab dalam Dia kita berdiri di atas wadas, yakni wadas cintakasih yang menjadi fondasi dan dasar pembangunan dan pembaharuan seluruh dunia.

Kristus adalah puncak sejarah, suatu pertemuan antara masa lama dan masa baru. Banyak orang beranggapan, bahwa Allah ada “di atas” atau “di sana”. Suatu pikiran bahwa ada makhluk surgawi yang mengutus putera-Nya ke dunia, amat mudah diterima, dan orang-orang sungguh yakin bahwa dewa-dewa mengunjungi dunia ini.

Kalau memang berguna untuk mengatakan, bahwa Yesus “mendobrak” kenyataan, sebagai ganti bahwa “Ia turun ke dunia”, marilah kita mengungkapkannya demikian. Maka hal-hal yang berkilau-kilauan di dalam kisah Natal seperti bintang, dan malaikat-malaikat dan paduan suara surgawi, tidak mempunyai arti yang sungguh-sungguh lagi, kecuali bertugas untuk menciptakan suasana yang meriah.

Kebenaran-kebenaran ini memang paling sukar untuk dimengerti. Kebenaran ini tidak ubahnya seperti kupu-kupu, kalau kita menangkapnya dan menusuknya dengan peniti untuk disimpan di dalam kotak, maka ia akan mati.

Oleh karena itu arti terdalam dari perayaan Natal, hanya dapat diungkapkan dalam bentuk suatu cerita, dengan puisi-puisi nyanyian para malaikat dan dengan bintang para Majus. Semoga pesta Natal yang meriah disertai arti yang sebenarnya dari peristiwa-peristiwa itu meresapi hati kita sekalian.

Sumber: J. Robinson, “Maar dat kan ik niet geloven”, Ten Have, Amsterdam: Carillon Paperback, 1968. Digubah dari Frater Timotheus, HIDUP DARI SABDA JILID III, Ende – Flores: Penerbitan Nusa Indah – Percetakan Arnoldus, 1972.

SELAMAT NATAL 2012 & SELAMAT TAHUN BARU 2013

Cilandak, 25 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENYAMBUT SAUDARA KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus siang, Hari Raya Natal – Selasa, 25 Desember 2012)

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Ucapan “Selamat Natal!” terdengar di mana-mana pada hari ini, baik diucapkan keras-keras maupun dengan suara yang lemah lembut disertai cipika-cipiki; dapat juga lewat telpon, lewat sms, bbm, e-mail, kartu Natal dlsb. Namun begitu mudahnya kita mengucapkan “Selamat Natal” ini secara rutin dan mekanistis, maklumlah orang-orang kota besar yang selalu sibuk (busy-busy) …… senantiasa on the move! Pada hari yang sangat penting seperti Hari Raya Natal ini, Allah ingin agar kita merenungkan “misteri agung” yang kita rayakan ini – sebuah misteri yang kedalamannya sangat mengherankan dan sekaligus membuat kita merasa takjub. Injil Yohanes mengingatkan serta menghibur hati kita yang berbeban berat, bahwa Allah melakukan segalanya yang mungkin agar kita diselamatkan, berapa pun biayanya.

Dalam diri Yesus, Allah Bapa mengutus “Yang Sulung” dari umat manusia (Rm 8:29; 1Kor 15:20,23; Kol 1:15,18, Ibr 1:6). “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Yesus itu bagaikan tangan Allah guna menyelamatkan manusia dari kedalaman lembah kedosaan kita, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam relasi yang hidup dengan Dia.

Sabda dan Terang Allah. Yesus adalah sang Sabda (Firman) yang berkata bahwa Allah rela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal daripada tidak dapat mengumpulkan bersama seluruh keluarga-Nya. Yesus adalah sang Sabda yang mengatakan kepada kita, bahwa Bapa di surga tidak ingin kehidupan kekal tanpa keberadaan kita, sebagai anak-anak-Nya. Dia juga berkata, bahwa kita bukanlah sekadar debu dan abu. Kedatangan Yesus ke tengah-tengah kita di dunia mengungkapkan kasih Allah yang tidak menghitung-hitung biaya untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Hal itu mengatakan kepada kita, bahwa kita sungguh berarti bagi-Nya, bahwa Allah mengasihi kita dengan sangat mendalam, bahkan kita memberikan sukacita kepada-Nya dengan menjadi anak-anak-Nya yang baik.

Kasih mendalam dari Allah Bapa dinyatakan dalam diri Yesus Kristus – “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14). Oleh karena itu sepantasnyalah apabila kita menyambut Dia dengan penuh hasrat pada hari ini, mengakuti diri-Nya sebagai seorang “Saudara” yang menderita karena ditolak oleh ciptaan-Nya sendiri: “Ia datang kepada milik-Nya, tetapi milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Walaupun Saudara kita ini sejak awal ada bersama-sama Allah dan Dia adalah Allah, dan segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (Yoh 1:2-3), Dia datang ke tengah dunia untuk hidup bersama-sama dengan kita-manusia, …… ke dalam sejarah kehidupan manusia yang dibatasi ruang dan waktu.

Marilah kita membayangkan Yesus bersama Bapa pada saat penciptaan: “TUHAN (YHWH) telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu daripada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu daratan yang pertama. Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.” (Am 8:22-31). Seperti tokoh Hikmat yang baru digambarkan tadi, Yesus bergembira dalam kita sejak awal. Sekarang Ia telah datang untuk menunjukkan kepada kita kesenangan-Nya kepada kita secara pribadi.

Yesus adalah “Terang yang bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh 1:5). Ia datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan si Jahat, yang hanya dapat melawan rancangan-rancangan Allah saja. “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Sebagai Allah, dan juga sebagai Dia yang ikut ambil bagian dalam kondisi manusiawi kita yang dina, Yesus bertemu dengan musuh-Nya dan mengalahkan dia dengan biaya darah-Nya sendiri.

Tuhan dan Saudara kita. Apa tolok ukur dari seorang sahabat yang sejati? Seseorang yang berdiri di samping kita, bahkan ketika kita tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya. Sahabat-sahabat sejati duduk dalam ruangan di rumah sakit menemani kita pada saat-saat kita sakit, menolong kita membangun rumah kita, menghibur kita pada saat-saat kita mengalami kegelapan dan kehilangan. Kita mengetahui bahwa para sahabat ini mengasihi diri kita karena yang mereka lakukan mengandung biaya. Bagi Yesus – yang paling sejati dari para sahabat – biaya mengasihi kita adalah nyawa-Nya sendiri – biaya yang dengan gembira dibayar oleh-Nya.

Memang sulitlah bagi kita untuk membayangkan kenyataan bahwa Allah Bapa dan Putera sangat senang dengan kita. Namun demikian, biarlah kebenaran ini mengendap, dan janganlah sampai dibuang. Apa yang dipikirkan Allah tentang kita lebih penting daripada apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain. Jadi, bagaimana pun “tak masuk akal”-nya hal itu di mata kita, Allah mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya dan melihat Putera-Nya sendiri, “Terang manusia”, berdiam dalam diri kita masing-masing (Yoh 1:4). Allah adalah bagi kita dan telah merencanakan bahwa kita harus mengenal-Nya. Dia ingin membuat suatu kejutan – surprise – bagi kita dengan pengetahuan bahwa kita adalah milik-Nya, walaupun kita merasa bukan milik siapa pun dalam dunia ini.

Pada hari ini, biarlah Bapa surgawi mengatakan kepada kita betapa dalam Ia mengasihi kita. Kalau dimungkinkan, baiklah kita menyediakan waktu untuk memandang “kandang Natal” dalam keheningan. Pada saat itu, baiklah kita merenungkan keagungan rancangan Allah untuk menjadi satu dengan kita anak-anak-Nya. Marilah kita menyambut kedatangan Yesus ke tengah dunia dan ke dalam hati kita dengan cara baru pada hari ini, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena sudi menjadi seorang Saudara kita ……, seorang Saudara yang sangat mengasihi kita masing-masing, bagaimana pun tidak sempurnanya kita.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Saudaraku, perkenankanlah aku memandang Engkau, teristimewa pandangan mata-Mu. Engkau turun dari tempat yang tinggi untuk menemukan diriku. Engkau membayar biaya yang begitu besar untuk membawa aku kembali kepada Bapa surgawi. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin senantiasa bersama-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Disember 23, 2012

MEMPERKENANKAN JANJI ALLAH MEMENUHI DIRI KITA


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 24 Desember 2012)

Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN (YHWH) telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab YHWH menyertai engkau.”

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman YHWH kepada Natan, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan YHWH kepadamu: YHWH akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya.” (2Sam 7:1-5,8-12,16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Injil: Luk 1:67-79

Allah menjanjikan sesuatu yang indah kepada Daud, yaitu bahwa Dia akan membangun bagi Daud sebuah “keturunan” (2Sam 7:11). Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Salomo, salah seorang putera Daud, membangun Bait Suci yang pada awalnya ingin dibangun oleh Daud. Akan tetapi kita dapat melihat bahwa “keturunan” yang dibangun Allah untuk Daud – dinastinya, warisannya, tempatnya dalam sejarah penyelamatan – adalah jauh lebih besar. Di sini Allah berbicara mengenai garis keturunan Daud, yang akan mencapai klimaks dalam diri Yesus Kristus, Anak Daud yang sejati.

Sebagai umat Kristiani, kita sekarang percaya bahwa melalui Yesus, garis keturunan Daud secara spiritual berlanjut di dalam Gereja – Tubuh Kristus – yang mengumpulkan orang-orang yang ditebus. Marilah kita merenung sejenak: Secara kolektif dan individual, masing-masing kita adalah bait Roh Kudus (1Kor 3:16; 6:19), sebuah tempat suci di mana Allah berdiam di atas bumi ini.

Menjadi “rumah” Allah tidak terjadi secara ajaib begitu saja dengan diri kita pada waktu kita dibaptis. Kita tidak menjadi bait-bait yang sempurna dalam sekejab, memancarkan cahaya Kristus secara lengkap ke dunia di sekeliling kita. Dari hari ke hari Allah ingin melanjutkan proyek pembangunan-Nya dalam diri kita. Dia ingin membuang fondasi-fondasi apa saja yang salah dalam hidup kita, sehingga dengan demikian kita dapat bertumpu pada kebenaran-Nya dan kasih-Nya saja. Allah ingin menghadirkan diri-Nya pada kedalaman hati kita masing-masing, sehingga apabila kita berkumpul dalam nama-Nya – apakah untuk melakukan penyembahan kepada-Nya atau pergi ke tengah-tengah dunia – maka Dia dapat bergerak dengan lebih penuh kuat-kuasa di tengah kita dan melalui kita masing-masing.

Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan janji Allah memenuhi diri kita. Bayangkanlah apa kiranya yang ada dalam pikiran Daud ketika dia mendengar janji Allah kepadanya, bagaimana hatinya begitu tergetar membayangkan betapa agung janji tersebut. Lalu, bayangkanlah Allah mengatakan hal yang sama kepada diri kita, bahwa Dia sangat mengasihi kita dan ingin berdiam dalam diri kita selamanya. Pada Malam Natal ini, marilah kita bersembah sujud di hadapan Yesus, batu penjuru (Kis 4:11; 1Ptr 2:7; bdk. Mzm 118:22; lihat juga Mat 21:42; Mrk 12:10; Luk 20:17) dan pembangun “rumah” kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di hadapan-Mu. Aku menyambut Engkau ke dalam hatiku, dan merasa takjub bahwa Engkau akan memperhitungkan diriku sebagai salah seorang yang dapat menjadi tempat kediaman-Mu. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berdiamlah dalam diriku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Disember 22, 2012

DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV – 23 Desember 2012)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19, Bacaan Kedua: Ibr 10:5-10

Peristiwa “Maria mengunjungi Elisabet” adalah sebuah cerita yang sangat indah. Dalam cerita ini ditunjukkan bagaimana iman akan janji-janji Allah membawa sukacita dan berkat bagi hidup kita. Lukas menggambarkan suatu “reaksi berantai” dari sukacita yang diakibatkan oleh kunjungan Maria kepada Elisabet. Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus, bahkan sebelum kelahirannya (Luk 1:15), mengenali kehadiran Yesus dalam sapaan/salam Maria kepada Elisabet, dan ia pun melonjak kegirangan dalam rahim ibunya. Elisabet yang juga dipenuhi oleh Roh Kudus, memaklumkan dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:41,42). Melihat Elisabet yang membawa seorang anak dalam rahimnya, Maria pun dipenuhi dengan sukacita. Maria melihat rencana penyelamatan Allah bekerja di hadapan dirinya. Semua ini diungkapkan oleh Maria dalam “Kidung Pujian Magnificat”-nya yang terkenal itu (Luk 1:46-55).

Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan karena Yohanes Pembaptis, Elisabet dan Maria, semua mengungkapkan sukacita mereka yang besar sebagai akibat kepercayaan mereka pada Allah. Dalam diri Maria, Allah memenuhi janji-Nya (Mi 5:1-4). Maria percaya bahwa Allah akan setia pada janji-Nya, baik kepada umat-Nya maupun kepada dirinya sendiri, dengan demikian ia pun dipenuhi dengan sukacita melihat apa yang sedang dilakukan oleh Allah. Karena dia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah, maka pikiran Maria “diangkat” agar dapat melihat rencana Allah dalam suatu terang ilahi. Dia mengetahui dan memahami bahwa dalam kerja-Nya, Allah “menerobos” masuk ke tengah dunia dengan cara yang sama sekali baru.

Allah memang telah “menerobos” ke tengah dunia dan sudah bersama dengan kita dalam diri Yesus Kristus, yang meruntuhkan tembok pemisah dosa yang sudah sedemikian lama memisahkan kita dengan Allah, dan memberikan kembali warisan kita sebagai anak-anak-Nya. Sekarang kita dapat mengenal dan mengalami damai sejahtera, kasih, sukacita dan kehadiran Allah hari demi hari. Kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Allah menaruh hidup kita dalam telapak tangan-Nya.

Pada hari-hari menjelang “Hari Raya Natal” ini, marilah kita memohon kepada Allah untuk menolong kita menyadari bahwa dalam Yesus semua yang telah dijanjikan oleh Allah telah tiba dan bahwa janji-janji-Nya itu adalah milik kita. Apabila kita memohon kepada Allah untuk menerangi pikiran kita selagi kita membaca janji-janji-Nya dalam Kitab Suci dan mendengar semua yang diwartakan dalam liturgi, kita akan memahami keagungan dari apa yang telah diperbuat oleh Yesus bagi kita. Seperti Yohanes Pembaptis, kita akan dipenuhi dengan rasa syukur yang begitu mendalam sehingga hati kita pun dapat melonjak kegirangan. Pada hari ini, marilah kita menggabungkan suara kita dengan seluruh Gereja dalam suasana penantian yang penuh pengharapan akan kedatangan sang Juruselamat: “Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Dialah yang dinubuatkan dalam pewartaan para nabi, dan dengan penuh kasih sayang dikandung oleh Santa Perawan Maria. Dialah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis ketika Ia akan datang, dan diperkenalkan kepada orang banyak tatkala Ia muncul di hadapan umum. Dialah pula yang sekarang menganugerahi kami kesempatan mempersiapkan diri untuk menyambut misteri agung kelahiran-Nya dengan senang hati, supaya kami nanti didapati-Nya tekun berdoa serta bersukaria memuji Dia” (Prefasi Adven III – Kristus Dinantikan Dahulu dan Sekarang, TATA PERAYAAN EKARISTI, hal. 48).

DOA: Aku bergembira dalam Engkau, ya Yesus Tuhan dan Juruselamatku! Transformasikanlah dan buatlah hatiku menjadi seperti hati Maria, yang rendah hati dan penuh syukur. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 21, 2012

ORANG KRISTIANI YANG PERTAMA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 22 Desember 2012)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8

Dua orang imam bersaudara anggota Ordo Salib Suci (OSC), P. Bernard C. Mischke OSC dan P. Fritz Mischke OSC (dalam Pray today’s Gospel, hal. 25), benar sekali ketika mengatakan bahwa Maria, Ibunda Kristus, adalah yang pertama dan terbaik dari orang-orang Kristiani. Maria adalah orang pertama yang menerima panggilan Allah berkaitan dengan penebusan umat manusia dalam Putera-Nya, dan tanggapannya terhadap panggilan itu dipenuhi sukacita dan lengkap. Bahkan Maria menghayati panggilan Allah sepanjang hidupnya di dunia.

Maria adalah model Kristiani berkaitan dengan tanggapannya yang sepenuh hati terhadap sabda Allah. Itulah sebabnya mengapa kita memohon pertolongannya dan menjawab panggilan untuk hidup dalam Kristus. Karena kemauan Maria untuk menjawab panggilan Allah, maka kita pun sekarang memperoleh privilese diundang untuk ikut ambil bagian dalam kekayaan Allah.

Maria menjawab panggilan Allah dengan penuh sukacita: dia menyanyikan kidung pujian dan syukurnya yang dikenal sebagai MAGNIFICAT (Luk 1:46-55), “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Sepantasnyalah apabila kita memohon kepada Allah agar dapat ikut ambil bagian dalam “optimisme” Maria, sukacitanya yang seharusnya merupakan sukacita semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita semua. Setiap hari di seluruh dunia, dalam Ibadat Sore, para puteri dan puteranya dalam Gereja menyanyikan “Kidung Maria” ini. Dengan berputarnya bumi ini, praktis kidung pujian dan syukur Maria berkumandang dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari biara yang satu ke biara yang lain, dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain, dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain……. tanpa henti sampai akhir zaman.

Maria adalah pribadi Kristiani pertama yang menerima Kristus. Tidak seorang pun telah mengenal dan mengasihi sang Juruselamat seperti Maria. Peranannya adalah menuntun kita kepada Kasih yang sama; teladannya memberi inspirasi kepada kita untuk memiliki hasrat yang sama untuk mendengarkan, dan mentaati, dan mengasihi. Ketika seorang perempuan yang sedang mendengarkan khotbah Yesus berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27), maka Yesus menjawab, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Kata-kata ini melipatgandakan pujian perempuan itu bagi Maria. Mengapa? Karena bagi semua orang yang pernah mendengar atau akan mendengar sabda/firman Allah dan memeliharanya, Maria adalah yang terbesar.

Maria adalah guru Kristiani besar yang pertama. Dalam kehidupan bangsa Yahudi, orangtua lah yang menjadi guru-guru utama. Jadi, Maria dan Yusuf adalah guru-guru dari siapa Yesus menerima hikmat manusia dan pembelajaran awal. Anak laki-laki Yahudi dianggap dewasa secara keagamaan pada usia 13 tahun. Mulai usia itu ia harus hidup penuh tanggung jawa. Setelah mencapai usia 12 tahun, remaja pria dididik langsung oleh ayahnya, agar setahun kemudian ia mampu tampil sebagai orang dewasa (Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, hal. 101). Ketika Maria berkata “Ya” terhadap rencana Allah, sesungguhnya dia setuju untuk menjadi ibu dan guru dari Yesus Kristus, sang Juruselamat. Itulah pentingnya peranan Maria dalam sejarah penyelamatan Allah.

Bersama Elisabet, marilah kita menyambut Maria dengan berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. …… Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42, 45).

DOA: Tuhan Yesus, beberapa hari lagi kami akan merayakan kelahiran-Mu di Betlehem. Kami percaya bahwa Engkau samasekali tidak berkeberatan apabila pada saat-saat ini kami mengenang jasa bunda-Mu dan bunda kami semua, Maria, sebagai guru-Mu tatkala masih seorang anak dan pada saat yang sama juga murid-Mu yang paling setia, yang senantiasa patut kami teladani. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 20, 2012

MELONJAK KEGIRANGAN


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 21 Desember 2012)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditunjukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS