Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Jun 28, 2013

SEDIKIT CATATAN MENGENAI PETRUS DAN PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Sabtu, 29 Juni 2013)
www-St-Takla-org--Saint-Peter-n-St-Paul-03

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarangt tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Paling sedikit sejak tahun 354 hari ini sudah ditetapkan oleh Gereja untuk menghormati Santo Petrus dan Santo Paulus. Kenangan akan dua rasul agung ini dan rasa hormat kita terhadap karya rahmat dalam kehidupan mereka telah menggores hati umat beriman sejak saat itu. Dari semua orang yang pernah hidup, dua orang ini dipilih untuk menjadi rasul untuk orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi (baca: kafir).

Dalam diri Petrus kita melihat seorang nelayan tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan berdarah panas, yang kemudian ditransformasikan menjadi seorang pengkhotbah/ pewarta dan seorang pastor (gembala) yang berani serta mampu mengendalikan diri. Petrus sedemikian ditransformasikan oleh Roh Kudus sehingga dia mampu tidur nyenyak walaupun sedang menghadapi maut. Lukas menceritakan kepada kita sebuah insiden di mana Herodus menahan Petrus dengan maksud memenggal kepalanya (Kis 12:1-4). Rasa percaya Petrus kepada Allah dan penerimaannya akan rencana Allah itu sedemikian total dan lengkap sehingga dalam penjara – yang sebenarnya dapat menjadi malamnya yang terakhir – Petrus mampu tidur sebagai seorang bayi. Malaikat Tuhan yang diutus Allah untuk menyelamatkan Petrus harus menepuknya untuk membangunkannya (Kis 12:7).

Pada satu titik dalam jalan kehidupan-Nya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai minyak yang dicurahkan dalam upacara kurban bagi Tuhan (lihat Flp 2:17). Mantan Farisi ini yang sebelum pertobatannya giat mengejar dan menghukum mati para murid Yesus, begitu diubah sehingga dia dapat menerima kematiannya dan mempersembahkannya bagi Tuhan sebagai tindakan penyembahan (lihat 2Tim 4:6). Paulus rela menyerahkan hidupnya demi Injil Yesus Kristus yang diwartakannya. Ketika “nasib”-nya sudah pasti, Paulus tetap tenang, menerima dan terus menaruh kepercayaannya pada kesetiaan Allah.

Kuat-kuasa Allah untuk mentransformasikan kita – sebagaimana Dia mentransformasi-kan Petrus dan Paulus – adalah tidak terbatas. Jika dua orang ini mampu mengubah seluruh dunia, mengapa harus ada perbedaan dengan kita, anda dan saya? Allah senantiasa mengundang kita semua untuk ikut ambil bagian dalam panggilan sebagai rasul: untuk mengajar, menjadi saksi Injil, mengasihi dengan kasih Yesus, ikut serta dalam pertandingan sampai garis akhir seperti ditulis Paulus (lihat 2Tim 4:6-8).

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Marilah sekarang kita berdoa untuk Gereja, agar Allah membangkitkan kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Tuhanku dan Allahku, utuslah Roh-Mu untuk bekerja dalam hati kami masing-masing dan mentransformasikan diri kami seperti Engkau mentransformasikan Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pengkhotbah/pewarta seperti dua orang rasul-Mu yang agung itu agar dapat memproklamasikan Injil-Mu dan menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup di tengah dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Jun 27, 2013

KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Peringatan S. Ireneus, Uskup-Martir – Jumat, 28 Juni 2013)

Abraham_praying_C-434Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN (YHWH) menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat …”

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menami dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. (Kej 17:1,9-10,15-22)

Bacaan Pertama alternatif: 2Tim 2:22b-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Injil: Mat 8:1-4

Sungguh suatu momen sangat istimewa dalam kehidupan Abraham! TUHAN (YHWH), Allah, telah membuat perjanjian – suatu ikatan yang mendalam dan kekal – dengan Abraham di mana Dia menjanjikan turunan kepadanya dan tanah yang akan menjadi miliknya. Sekarang, Allah memberi perintah kepada Abraham: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej 17:1). Abraham mendapat kehormatan untuk hidup di hadapan hadirat Allah. Ia disenangi oleh Allah di atas orang-orang lain untuk menerima perwahyuan ini, yaitu bahwa hasrat penuh kasih Allah adalah agar manusia tinggal/berdiam bersama dengan diri-Nya.

Namun demikian, kelihatannya Abraham belum sepenuhnya memahami karunia Allah. Ketika Allah mendeklarasikan bahwa Dia akan menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan Sara – suatu karunia yang tentunya merupakan sebuah mukjizat apabila kita mempertimbangkan usia kedua orang itu – Abraham kelihatannya bersikap skeptis (lihat Kej 17:17). Ia mengatakan kepada Allah bahwa dirinya puas dengan Ismael, puteranya dari perkawinanannya dengan hamba perempuan Sara yang bernama Hagar (Kej 17:18; baca: Kej 16:1-16). Kelihatannya di sini Abraham memandang rendah kemampuan Allah untuk memenuhi janji-Nya akan seorang anak laki-laki melalui sarana ilahi. Abraham ternyata berhenti pada titik yang dimungkinkan pada tingkat pemikiran manusiawi saja.

Bukankah kita (anda dan saya) juga sering menunjukkan sikap yang sama? Kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang ditebus oleh Kristus, dipisahkan dari yang lain-lain oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Namun, melalui ketiadaan rasa percaya, sinisme, atau iman yang tidak maju-maju (stagnant), kita membatasi ekspektasi kita akan kasih dan kebaikan Allah yang tanpa batas itu sehingga dengan demikian menghilangkan identitas kita sebagai anak-anak-Nya. Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri: Ketika kita mendengar janji-janji Allah dalam Kitab Suci atau membaca tentang mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus, apakah kita bereaksi dengan mengatakan bahwa semua itu “bukan untuk aku”, atau “kalaupun untuk aku … bukan untuk hari ini”? Apabila Roh Kudus mengungkapkan pola-pola dosa yang sudah lama mengendap dalam diri kita atau memori-memori yang menyakitkan hati dan tentunya membutuhkan kesembuhan, apakah kita membiarkan diri kita tetap hidup dengan memendam akar kepahitan daripada pergi menghadap Kristus agar Ia menyembuhkan dan mengubah kita? Jikalau kita melihat anggota keluarga kita atau sahabat kita yang membutuhkan kesembuhan fisik atau spiritual, apakah kita menutup diri kita terhadap kemungkinan terjadinya mukjizat? Kita harus mengakui bahwa kelihatannya kita tidak jarang merasa puas untuk hidup kurang daripada yang Allah ingin lakukan bagi kita.

Kita tidak pernah boleh lupa bahwa Injil adalah pengumuman tentang kedatangan Allah yang penuh kuat-kuasa dan belas kasih. Yesus sendiri telah memenangkan pengampunan dan penebusan kita dari kuasa kejahatan (si jahat). Kita tidak lagi perlu ditindih oleh rasa bersalah atau rasa putus asa apabila menghadapi dosa atau penderitaan. Yesus telah mati dan bangkit guna menawarkan kepada kita penyembuhan, pelepasan (pembebasan), rekonsiliasi, kuat-kuasa, dan sukacita. Marilah kita tidak berpengharapan kurang dari semua itu.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah aku karena aku sering meminimalisir hidup yang Engkau telah janjikan kepadaku. Perkenankanlah aku berjalan di dalam kehadiran-Mu dan menerima rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan menjadi seorang saksi-Mu yang hidup bagi dunia di sekelilingku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Jun 26, 2013

DUA MACAM DASAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2012)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaknya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 25, 2013

YESUS ADALAH TUMPUAN HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2013)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 24, 2013

EVANGELISASI MENUNTUT ADANYA BIMBINGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2013)
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14)

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

Menjelang kedatangan milenium ketiga, almarhum Paus Yohanes Paulus II menyerukan umat Katolik agar milenium yang baru ini merupakan saatnya untuk kegiatan evangelisasi. Namun demikian, sampai hari ini masih banyak saja dari kita yang merasa ragu untuk mensyeringkan iman kita karena takut apa yang dipikirkan orang lain – dan karena kita merasa belum dipersiapkan untuk kegiatan evangelisasi ini. Memang benar bahwa evangelisasi memerlukan hikmat-kebijaksanaan. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk berhati-hati agar tidak memberikan “mutiara-mutiara” kepada “babi-babi” (Mat 7:6) bilamana mereka pergi ke luar untuk mewartakan Injil. Dengan kata-kata ini, Yesus tidak berkata bahwa orang-orang tidak lebih baik ketimbang babi-babi. Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah agar kita memilih dengan bijaksana saat-saat kapan kita mengkomunikasikan Injil kepada orang-orang lain.

Seperti juga hal-hal lainnya yang diajarkan Yesus, evangelisasi menuntut adanya bimbingan Roh Kudus. Apabila kita mencoba untuk mensyeringkan iman kita dengan orang-orang lain, memang crucial kalau kita terbuka bagi apa yang diinginkan oleh Roh Kudus untuk kita lakukan. Roh Kudus mengetahui benar keadaan hati setiap orang. Roh Kudus mengetahui siapa saja yang sudah siap untuk mendengar Injil dan siapa saja yang belum siap. Bilamana kita mencoba untuk menjelaskan iman kita kepada orang-orang lain yang belum siap, maka upaya-upaya kita tersebut dapat menjadi seperti bumerang, malah memprovokasi mereka untuk menolak “mutiara-mutiara” Injil.

Kita melihat ilustrasi yang sangat jelas dari hal ini dalam “Kisah para Rasul”. Melihat kuasa yang ada dalam diri Paulus ketika mewartakan Injil, putera-putera Imam Kepala Skewa mencoba untuk menggunakan nama Yesus juga. Namun karena mereka tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka, maka akibatnya adalah kekacauan. Roh-roh jahat menerpa, menguasai dan mengalahkan mereka (Kis 19:11-16).

Apabila kita dipimpin oleh Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita dan menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya kita katakan dan apa yang harus kita lakukan. Dengan demikian kita dibebaskan dari beban berat. Kita tidak perlu merasa susah tentang apa yang harus kita katakan atau kapan harus mengatakannya. Yang kita perlukan adalah berdoa memohon bimbingan Roh Kudus. Sesungguhnya lebih banyak yang dapat dicapai dalam satu jam doa daripada yang kita dapat harapkan untuk dicapai dalam satu minggu evangelisasi tanpa doa. Itulah gambarannya betapa dalamnya Allah ingin menarik orang-orang untuk hidup dalam iman kepada-Nya. Oleh karena itu marilah kita meng-komit diri kita supaya berdoa dalam segala hal, teristimewa menyangkut karya di mana kita mensyeringkan iman kita dengan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, kami mohon kepada-Mu agar Engkau mau melepaskan suatu banjir penginjilan di seluruh dunia. Penuhilah diri semua orang Kristiani di mana saja mereka berada dengan Roh Kudus-Mu, agar kami semua dapat menjadi terbuka bagi bimbingan dan ketaatan terhadap dorongan-dorongan-Nya. Semoga dalam milenium ketiga ini banyak jiwa dapat diubah oleh kuasa Injil. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 23, 2013

YOHANES PEMBAPTIS BELAJAR DARI ZAKHARIA DAN ELISABET

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Senin, 24 Juni 2013)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80)

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zaharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya.

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Nyanyian Pujian Zakharia: Luk 1:67-79). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Jun 14, 2013

INTEGRITAS KITA AKAN BERBICARA SENDIRI!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2013)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37)

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Standar-standar kebenaran yang ada dalam Injil untuk kita hayati sungguh dapat mengecilkan hati kita! Hal ini benar teristimewa dalam kasus “Khotbah di Bukit”. Ketika kita mendengar sabda Yesus berkaitan dengan memegang sumpah dan melanggar sumpah, kita dapat saja memandangnya sebagai suatu ketidakmungkinan untuk taat kepada apa yang dikatakan Yesus itu – dan hal ini benar jika kita mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri. Akan tetapi, Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal dalam diri kita, menguduskan kita, dan membuat kita semakin serupa dengan diri-Nya.

Selagi kita mengasihi Yesus dan tetap berada dekat dengan diri-Nya setiap hari, maka kita akan mengalami kasih Allah yang mempunyai daya untuk mentransformasikan diri kita. Hidup Yesus akan mengalir ke dalam diri kita dan melalui kita, dan “tuntutan-tuntutan” Yesus terhadap kita pun tidaklah akan kelihatan sedemikian tidak mungkinnya. Kita akan sampai pada titik di mana kita akan memahami dan percaya secara mendalam bahwa Yesus akan memberikan kita rahmat yang diperlukan untuk menghadapi segala macam situasi kehidupan. Jadi, kita tidak akan berputus-asa ketika mencoba – dengan jatuh-bangun – mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita.

Kita dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan Roh Kudus untuk memurnikan diri kita dari pikiran mendua, rasa curiga dan tipu-daya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun dapat menjadi begitu murni dalam hati sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk bersumpah. Integritas kita akan berbicara sendiri! Dapatkah kita membayangkan seseorang memerintahkan Ibu Teresa dari Kalkuta untuk bersumpah – teristimewa berkaitan dengan integritas karya pelayanannya?

Apakah Saudari-Saudara percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi atas diri anda? Apakah anda percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam hidup anda dengan tingkat kedalaman yang sama? Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seperti dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Jadi, selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan bertobat atas dosa-dosa kita, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah yang menyembuhkan. Hanya Dia yang dapat membentuk nurani kita sampai titik di mana kita secara naluriah dapat menghindarkan diri dari godaan-godaan untuk menipu orang-orang lain. Dan selagi terang kesaksian hidup kita menyinari orang-orang lain, mereka akan memuliakan Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita (lihat Mat 5:16).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “Amin” dari Allah (2Kor 1:15-22), satu-satunya pengharapan kami untuk kejujuran dan rasa percaya dalam dunia ini. Oleh Roh Kudus-Mu, bersihkanlah kami dari segala pikiran mendua. Buatlah kami menjadi mercu-mercu suar yang terang bercahaya dari kuat-kuasa Injil-Mu sehingga dengan demikian dunia dapat percaya kepada-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 10, 2013

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MEMBATASI VISI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Selasa, 11 Juni 2013)
KFS: HARI RAYA S. BARNABAS, RASUL – HARI JADI KONGREGASI

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Kabar tentang mereka itu terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas pergi ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat anugerah Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati serta kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Lalu banyak orang dibawa kepada Tuhan. Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Dia Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b-26;13:1-3)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13

“Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman” (Kis 11:24).

Deskripsi tentang Barnabas dapat berlaku untuk sejumlah orang, baik perempuan maupun laki-laki, baik dalam Alkitab maupun di dunia pada hari ini, bahkan dapat berlaku bagi kita juga. Allah telah mengundang kita masing-masing untuk menjadi anak-Nya dan melayani Dia dalam kasih.

Selagi kita merayakan kehidupan Santo Barnabas pada hari ini, kita harus mengingat bahwa dia – seperti kita juga – adalah seorang pribadi yang disentuh oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi hamba/pelayan. Kekudusan Barnabas bertumbuh dengan berjalannya waktu dan melalui cara dia bereaksi terhadap situasi kehidupan setiap hari. Pada saat Lukas memperkenalkan Barnabas untuk pertama kalinya, dia hanya menceritakan kepada kita bahwa Barnabas mendonasikan hasil penjualan sebagian tanahnya kepada para rasul untuk diberikan kepada orang-orang miskin (Kis 4:36-37). Itulah yang kita dengar untuk sementara. Barnabas hanyalah seorang pribadi biasa-biasa saja yang dengan murah-hati menanggapi seruan para rasul yang membutuhkan bantuan keuangan. Baru setelah cukup lama, nama Barnabas muncul kembali, dan kali ini sebagai seorang rasul yang bijak dan dapat dipercaya. Kita hanya dapat menebak-nebak bahwa pengambilan keputusan sehari-hari yang dibuatnya telah membuat dirinya menjadi salah seorang misionaris yang pertama dan terbesar dari Gereja perdana.

Allah tidak ingin sekadar menggunakan para kudus besar untuk membangun Kerajaan-Nya. Dia juga ingin menggunakan kita masing-masing. Ingatlah pula, bahwa orang-orang kudus besar pun memulai semuanya seperti kita sekarang. Kebesaran mereka terletak pada ketaatan mereka kepada Allah dan keterbukaan mereka terhadap rencana-Nya bagi kehidupan mereka. Perubahan dalam diri mereka dari “biasa-biasa” saja menjadi “luar biasa” datang selagi mereka menyerahkan kehendak mereka kepada Tuhan hari demi hari. Melalui Roh Kudus, hal yang sama dapat terjadi dengan diri kita.

Allah menginginkan kita masing-masing untuk menjadi seorang agen, melaluinya Dia membawa hidup-Nya ke dalam dunia. Dia mungkin memanggil kita untuk menjadi para pendoa syafaat, menjadi penginjil, pendamping bagi orang-orang miskin, para pendoa bagi kesembuhan orang-orang sakit, nabi-nabi bagi dunia di sekeliling kita. Jadi, kita tidak pernah boleh membatasi visi Allah. Kita juga harus memperkenankan-Nya meluaskan visi kita. Jika kita menempatkan diri kita pada tangan-tangan Tuhan, menyingkirkan rasa takut kita dan merangkul hasrat-hasrat-Nya bagi diri kita, maka lihatlah bagaimana kita dapat membawa efek yang baik kepada dunia.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memilih aku dalam Kristus untuk menjadi anak-Mu dan melengkapi diriku dengan Roh Kudus untuk membawa hidup-Mu kepada dunia ini. Bagaimana aku dapat berterima kasih kepada-Mu secara memadai untuk segala privilese yang Kauberikan kepadaku untuk melayani-Mu? Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 03, 2013

KEPADA ALLAH DAN WONG CILIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 4 Juni 2013)

Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Kulihat!” Mereka pun membawanya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia. (Mrk 12:13-17)

Bacaan Pertama: Tb 2:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 1112:1-2,7-9

Para pemimpin dan pemuka agama Yahudi di Yerusalem sudah melakukan “perlawanan” terhadap Yesus untuk beberapa waktu lamanya. Sekarang, Yesus sudah berada di kota suci Yerusalem. Rencana jahat untuk melawan Yesus semakin memanas dalam hati dan kepala orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi yang pada dasarnya menentang pemerintahan/penjajah Romawi dan para pendukung Herodes (kaum Herodian) yang adalah para kolaborator pemerintahan Roma, justru kali ini bergabung bersama untuk melawan Yesus, “musuh bersama” mereka.

Pada awalnya mereka “memuji-muji” Yesus, sang Rabi dari Nazaret: “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah” (Mrk 12:14). Pertanyaan ini adalah untuk menjebak Yesus. Lalu barulah pertanyaan kedua (pertanyaan penjebak sesungguhnya) dilontarkan oleh mereka kepada Yesus: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak” (Mrk 12:14). Jika Yesus menjawab “ya”, hal itu akan mendiskredit diri-Nya sendiri di depan publik yang pada umumnya menentang penjajahan Romawi. Sebaliknya, apabila Yesus menjawab “tidak”, maka cepat atau lambat Dia akan akan berada dalam posisi sulit berhadapan dengan penjajah Romawi.

Namun, Yesus bukanlah Yesus jika Dia sampai terjebak! Sebaliknya ...... Dia menggiring pembicaraan mereka ke luar dari dari ranah politik dan meletakkannya di ranah iman. Yesus mengakui otoritas sipil Kaisar untuk menarik pajak, namun Yesus juga dengan jelas mengungkapkan kenyataan misi-Nya bahwa Dia bukan datang untuk mendirikan sebuah kerajaan dunia sebagaimana diharapkan banyak orang dari sang Mesias.

Yesus membedakan antara pajak yang diberikan kepada Kaisar dan apa yang menjadi hak Allah dalam bentuk devosi atau sembah-bakti, ketaatan, dan kasih. Uang logam kekaisaran Roma memuat gambar Kaisar, sedangkan kita manusia yang percaya adalah gambaran Allah sendiri. Gambaran seperti inilah yang memprihatinkan Yesus di atas segalanya yang lain. Ia mengetahui bahwa apabila kita menghormati gambaran-Nya dalam diri kita dan berupaya untuk mengembangkan keserupaan kita dengan diri-Nya, maka segalanya yang lain akan menjadi beres.

Uang memang diperlukan untuk menghidupi keluarga-keluarga kita dan untuk menolong orang-orang lain. Akan tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak melihat segala sesuatu sekadar dari sudut keuangan. Memang kita harus menjadi pengurus (Inggris: stewards) dari berbagai sumber daya yang kita miliki, namun kita juga harus memberikan hati kita sendiri – siapa diri kita sebenarnya – kepada Allah. Yesus ingin agar kita memandang segala masalah melampaui urusan-urusan dunia dan mengembangkan kemurahan-hati penuh rasa syukur, baik kepada Allah maupun kepada “wong cilik”. Selagi kita bertumbuh dalam mencurahkan hati kita dalam kasih dan pelayanan kepada Allah, maka damai-sejahtera-Nya akan menggantikan rasa letih-lesu kita. Masalah-masalah yang tadinya menjadi beban berat terasa mulai berkurang. Kita pun akan menemukan energi dan hasrat untuk senantisa menyenangkan Allah yang kita tidak pernah pikir kita dapat melakukannya.

DOA: Yesus, aku memberikan hidupku kepada Engkau saja, Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku menghormati dan memuliakan Engkau dengan memenuhi tanggung-jawabku untuk senantiasa setia kepada-Mu serta perintah-perintah-Mu. Ajarlah aku untuk menggunakan kehidupanku di atas muka bumi ini seperti Engkau sendiri lakukan, yaitu untuk melayani kedatangan Kerajaan Allah. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mei 26, 2013

YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 27 Mei 2013)

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: Sir 17:24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7

Petikan bacaan Injil hari ini adalah sekitar “kemuridan” …… discipleship adalah kata kerennya. Seorang imam Fransiskan Kapusin dari Irlandia, Fr. Silvester O’Flynn OFMCap., dalam bukunya yang berjudul THE GOOD NEWS OF MARK’S YEAR, (Dublin, Ireland: The Columbia Press in association with Cathedral Books, 1990) kali ini melihatnya dari kacamata yang tidak biasa-biasanya, artinya agak berbeda. Yang disoroti olehnya adalah pandangan mata Yesus. Dalam permenungan kali ini saya mengambil beberapa pokok dari tulisan Pater Sylvester ini.

Pandangan Yesus yang pertama adalah kepada orang muda yang kaya itu. Markus menulis: “Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (Mrk 10:21). “Menaruh kasih kepadanya” …… ini hanya ada dalam Injil Markus; Matius dan Lukas dalam cerita padanannya sama sekali tidak memuat tiga kata ini. Pandangan Yesus kepada orang ini memiliki kuat-kuasa dan suatu daya tarik yang penuh kehangatan. Seakan Yesus membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna memeluknya seperti Dia menyambut anak-anak kecil (lihat Mrk 10:16).

Pandangan Yesus yang kedua ditujukan kepada para murid-Nya. Markus mencatat: “Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata …” (Mrk 10:23). Ini adalah pandangan Yesus sang Guru yang membuat eye-contact, “mata- ketemu-mata” dengan orang-orang lain sebelum menyampaikan pesan-Nya kepada mereka.

Pandangan ketiga dari Yesus lebih dalam lagi. Markus mencatat: “Yesus memandang mereka dan berkata …” (Mrk 10:27). Pandangan Yesus kali ini menembus hati para murid-Nya. Dia menyampaikan kasih Allah kepada mereka: menawarkan kemungkinan-kemungkinan ilahi guna mengatasi kelemahan manusiawi: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Sebuah pesan yang menguatkan serta sungguh menyemangati kita semua, seperti yang dikatakan oleh Malaikat Agung Gabriel kepada sang Perawan dari Nazaret: “… bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:38).

Nah, marilah sekarang kita masuk ke dalam suasana doa, menempatkan diri kita dalam cerita Injil di atas dan membiarkan imajinasi kita berkembang berdasarkan sabda Yesus yang terdapat dalam bacaan itu. Marilah kita memperkenankan Yesus memandang kita (anda dan saya) satu-persatu. Jauhkanlah rasa takut kita. Barangkali sudah terlalu lama kita menghindari pandangan mata-Nya. Kita merasa “aman” jika kita tetap berada agak jauh, … di tengah kerumunan orang banyak. “Aman”, namun ada kekurangannya. Sekarang, Yesus memandang kita. Dia menginginkan kita. Dia menginginkan sepasang mata kita yang tertuju kepada diri-Nya, juga hati kita yang terbuka lebar-lebar bagi-Nya.

Mungkin saja kita masih mau menolak untuk memandang diri-Nya. Kita seakan berkata: “Tuhan Yesus, tunggu sampai aku layak dan pantas. Tunggu sampai aku mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada-Mu.” Namun sebenarnya kita sudah mempunyai apa yang dapat diberikan kepada Yesus. Sesuatu yang memang diinginkan oleh-Nya. Dia menginginkan mata kita masing-masing, walaupun karena cacat kita hanya memiliki satu biji mata saja. Kalau kedua mata kita buta, marilah kita pandang Yesus dengan mata hati kita. Marilah kita memandang Yesus dan memperkenankan-Nya memandang diri kita. Oh, kan aku seorang pendosa. Aku tidak dapat memandang-Nya “mata-ketemu-mata” tanpa merasa seperti seorang yang sedang telanjang, ah membuat diriku serba salah, malu. …… Embarrased!

Akan tetapi, sepasang mata Yesus penuh dengan kasih. Kasih kepada kita masing-masing secara pribadi. Pandangan mata-Nya dengan tetap terus berlanjut sampai menyentuh kita. Kita tidak perlu takut akan sentuhan kasih-Nya. Yesus memang senantiasa mencari kita. Oleh karena itu mengapa kita harus melarikan diri daripada-Nya? Apakah karena kita terlalu sibuk? Terlalu kaya? Ataukah memang takut akan Allah dalam artiannya yang salah, yaitu takut untuk dikasihi oleh-Nya. Mengapa? Mengapa?

Saudari dan Saudaraku yang sungguh dikasihi Kristus, apabila kita sudah berada pada tahapan ini, dan kita tetap ingin berbalik meninggalkan Yesus, maka ujung-ujungnya semua itu hanyalah meninggalkan kesedihan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus tetap bertahan. Marilah kita mengambil waktu yang cukup untuk melakukan permenungan pribadi agar kita dapat mengetahui, mengenal dan mengalami bahwa kita ini sesungguhnya dikasihi oleh Yesus. Marilah kita memandang kehangatan pandangan-Nya. Pandangan dari sepasang mata Yesus terus saja menawarkan karunia (anugerah/pemberian gratis) dari Bapa surgawi. Hati manusiawi kita akan ditransformasikan oleh karunia Allah tersebut. Sementara itu marilah kita merasakan bangkitnya keberanian dalam diri kita. Kelemahan manusia tidak akan menahan-nahan kita lagi. Kemungkinan-kemungkinan besar mulai terbayang, semua hal yang kita rindukan sejak dahulu. Semua hal yang dahulu kita tidak miliki. Bahkan juga kekayaan dalam surga, hidup kekal! Memang segalanya mungkin bagi Allah!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah dan bagi-Mu segalanya adalah mungkin. Undanglah kami untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dalam jalan kami menuju kepenuhan hidup. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mei 25, 2013

TRITUNGGAL MAHAKUDUS ADALAH KEBENARAN YANG HIDUP

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS – Minggu, 26 Mei 2013)
Kongregasi OSF: Pelindung Provinsi Indonesia

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15)

Bacaan Pertama: Ams 8:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 8: 4-9; Bacaan Kedua: Rm 5:1-5

Yesus memberikan kepada para murid-Nya (termasuk kita pada abad ke-21 ini) suatu gambaran sekilas lintas ke dalam relasi antara Pribadi-Pribadi dalam Tritunggal Mahakudus ketika Dia mengatakan: “Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku” dan ketika Dia menggambarkan Roh Kudus (Roh Kebenaran) sebagai Dia yang akan menyatakan semua yang benar dan mulia tentang Allah kepada hati kita (Yoh 16:15). Keindahan Allah yang Mahakasih adalah bahwa Dia syering setiap hal dengan kita. Tidak ada yang ditahan-tahan oleh-Nya, malah dengan penuh bahagia Dia mengundang orang-orang berdosa untuk ikut ambil bagian dalam kesempurnaan hidup ilahi.

Kitab Suci menceritakan kepada kita bahwa Bapa dan Putera memberikan kepada kita Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam segala kebenaran dengan menyatakan misteri-misteri Injil kepada hati kita. Jadi, Tritunggal Mahakudus adalah suatu misteri yang kita masing-masing harus mengalaminya. Inilah kebenaran yang diungkapkan dengan indah oleh Paulus pada akhir sepucuk suratnya: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:13).

Seorang pengkhotbah besar pernah berkata bahwa misteri yang riil dari Tritunggal Mahakudus bukanlah pertanyaan tentang bagaimana dapat ada tiga Pribadi dalam satu Allah, melainkan pertanyaan bagaimana Allah yang sempurna dan mandiri dapat begitu mengasihi kita. Kasih yang sungguh menakjubkan, bahwa Bapa akan mengorbankan Putera-Nya untuk memulihkan warisan kita sebagai anak-anak Allah! Kasih yang sungguh menakjubkan, bahwa Roh Kudus akan datang untuk hidup dalam diri kita sebagai Penghibur dan Guru! Kita telah menerima penebusan dan belas-kasih dari Allah yang Mahakuasa! Sekarang kita dapat hidup sebagaimana dimaksudkan bagi kita sebelum dunia dijadikan.

Pada hari ini kita tidak merayakan suatu kebenaran abstrak, melainkan suatu kebenaran yang hidup. Allah ingin agar kita mengalami kasih-Nya, untuk disembuhkan oleh kemenangan Yesus atas kejahatan (si Jahat), dan untuk ditransformasikan oleh pernyataan kebenaran-Nya melalui Roh Kudus. Kita mempunyai “seorang” Allah yang mempribadi, yang memperhatikan setiap detil hidup kita. Oleh karena itu marilah kita meningkatkan ekspektasi kita guna mengalami kehadiran-Nya dan kuasa-Nya pada hari ini. Kita harus menjaga agar hati dan mata kita tetap terbuka. Allah akan menyatakan diri-Nya kepada kita, mungkin saja dalam cara-cara yang kita tidak pernah harap-harapkan.

DOA: Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin. [S. Fransiskus dari Assisi, SurOr 50-52]


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mei 23, 2013

YESUS TIDAK AKAN TINGGAL DIAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 24 Mei 2013)

Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laiki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12)

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Seperti bacaan Injil kemarin (Mrk 9:41-50), kata-kata Yesus dalam Injil hari ini juga terdengar begitu mutlak tanpa kompromi. Kata-kata Yesus ini juga terdengar sangat keras, teristimewa bagi kita yang telah mengalami serta melalui proses perceraian, atau apabila seorang anggota keluarga kita dan/atau seorang sahabat kita menderita karena kegagalan dalam perkawinannya. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus dapat menyembuhkan bahkan perkawinan yang paling sulit sekali pun. Di sisi lain, pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian adalah suatu realitas traumatis yang dapat meninggalkan luka mendalam dan relatif lama untuk sembuh.

Pikirkanlah tentang luka yang diderita/dirasakan oleh pasangan-pasangan yang bercerai, Suatu relasi yang diawali dengan cita-cita setinggi langit, sukacita, dan optimisme telah merosot menjadi ketidakpercayaan satu sama lain, kemarahan, penolakan, dan self-pity. Yang dahulu “satu daging” telah dirobek-robek. Bagaimana mungkin Yesus dapat duduk tanpa belas kasih menyaksikan mereka yang mengalami trauma perceraian? Yesus tidak akan tinggal diam! Allah tidak mengutus Putera-Nya ke dalam dunia untuk menghakimi/menghukum melainkan untuk menyelamatkan (Yoh 3:17). Yesus tidak ingin menghancurkan orang sekadar dengan menyatakan kesalahan mereka. Dia ingin bertemu dengan kita semua di mana saja kita berada dalam perjalanan hidup kita dan menawarkan kepada kita kesembuhan dan pemulihan.

Jika status kita (anda dan saya) adalah “bercerai”, maka kita harus menyadari bahwa Yesus tetap mengasihi diri kita … tidak sedikit pun berkurang dari sebelumnya. Dia bahkan menderita bersama kita. Renungkanlah perjumpamaan-Nya dengan perempuan Samaria di sumur Yakub di Sikhar (Yoh 4:1-42). Yesus tidak menghukum atau menuduh perempuan itu, walaupun ia telah kawin lima kali dan saat itu sedang “kumpul-kebo” dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus menggiringnya ke dalam pertobatan, menyembuhkannya, dan mengutusnya kembali ke desanya untuk bercerita tentang Yesus kepada orang-orang lain (katakanlah: melakukan evangelisasi).

Apakah status kita menikah, bercerai atau bujangan, kita semua perlu mengenal dan mengalami penyembuhan ilahi. Allah ingin membalut luka-luka dalam setiap perkawinan dan juga luka-luka dari pribadi-pribadi yang terkena dampak dari perceraian. Ia ingin mendamaikan kita, mentransformir kita, dan menggunakan kita untuk memproklamasikan Kerajaan-Nya – apa pun yang telah perbuat di masa lampau. Marilah kita tanpa rasa takut pergi menghadap Dia, apa pun status kita. Perkenankanlah Dia memeluk kita dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas kita Ia memberkati kita (bdk. Mrk 10:16).

DOA: Tuhan Yesus, curahkanlah rahmat-Mu atas setiap keluarga yang telah mengalami pedihnya perceraian. Sembuhkanlah mereka dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar dari diri kami kepada orang-orang yang kami jumpai, sehingga kami benar-benar menjadi saksi-saksi-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Mei 22, 2013

CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 23 Mei 2013)


Sesunguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50)

Bacaan Pertama: Sir 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Apakah Yesus memaksudkan kita secara harfiah harus memotong satu tangan kita atau mencungkil satu mata kita untuk menghindari kedosaan? Yang jelas, berbagai bacaan dalam Perjanjian Baru tidak mencatat adanya mutilasi-mutilasi yang dilakukan oleh para pengikut Kristus yang awal. Mereka yang mendengar kata-kata Yesus ini jelas memahami kata-kata itu sebagai suatu “hiperbola”, yang dengan sengaja Yesus nyatakan secara berlebihan guna menyampaikan pesan yang ingin disampaikan-Nya. Pada kenyataannya, cara berbicara sedemikian merupakan sesuatu yang biasa di kalangan orang Yahudi abad pertama.

Kalau begitu, apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Dosa mempunyai kekuatan untuk menyeret kita sampai terjatuh, dan bahwa kita harus melakukan hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Dosa menumpulkan kita dan merupakan penghinaan terhadap hidup Allah dalam diri kita. Lebih buruk lagi, dosa mendilusi kemampuan kita untuk menerima kuat-kuasa dan buah-buah Roh Kudus dalam diri kita, menyebabkan kita kehilangan “rasa asin” kita (Mrk 9:50).

Tentunya kita mengetahui bahwa seandainya pun kita jatuh ke dalam dosa, maka kita hanya perlu berbalik kepada Allah, bertobat, dan menerima pengampunan dari Dia (Sir 5:7). Akan tetapi pertobatan adalah apa yang kita lakukan setelah kita berdosa. Apa yang harus kita lakukan sebelumnya sehingga kita tidak terlibat dalam kedosaan? Inilah isu yang diketengahkan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini: upaya-upaya praktis yang perlu kita lakukan guna menghindari dosa. Titik tolak yang baik adalah untuk mengetahui apa yang menyebabkan kita sampai terjatuh dalam dosa, hal mana berarti memeriksa dengan teliti disposisi batin kita setiap hari. Semakin baik kita mengenal diri sendiri, semakin jelas kita akan mengetahui ke mana kita akan melangkah.

Di Dublin, Irlandia pernah hidup seseorang pecandu alkohol (selama 15 tahun) yang bernama Matt (Matthew) Talbot [1856-1925]. Ia menghadapi kelemahan-kelemahan dirinya dengan cara yang praktis. Salah satu strateginya adalah untuk tidak pernah membawa uang dalam sakunya selagi dia berjalan pergi/pulang ke/dari tempat kerjanya. Tanpa uang ia tidak dapat membeli “miras”, jadi dia “memotong” apa yang tadinya telah menjadi kebiasaan buruknya sehari-hari. Ia bergabung dengan Ordo III Sekular S. Fransiskus (OFS), melakukan pertobatan dengan keras, banyak berdoa, menghadiri Misa Kudus setiap hari dan melakukan devosi kepada Santa Perawan Maria dengan benar. Pada tanggal 3 Oktober 1975, Paus Paulus VI mendeklarasikan Matt Talbot sebagai Hamba Allah (Venerabilis), satu tahapan sebelum Beato.

Kita masing-masing dapat menemukan cara-cara praktis sedemikian guna memerangi dosa. Jika suatu strategi yang bersifat praktis tidak dapat kita bayangkan dengan jelas, maka sepatutnyalah kita memohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita. Allah sungguh menginginkan agar kita bebas dari perbudakan dosa. Allah ingin agar kita menjaga garam agar tetap terasa asin dalam diri kita. Dengan demikian, Allah sungguh berkomitmen untuk menolong kita menemukan keseimbangan yang benar antara mengandalkan diri sepenuhnya pada kekuatan kita sendiri dan secara pasif menunggu saja mukjizat pembebasan ilahi dari Allah. Allah akan memberikan kepada kita rahmat-Nya yang bersifat supernatural selagi kita membuat sebuah rencana dan berjuang untuk mengimplementasikannya.

DOA: Roh Kudus Allah, aku sungguh ingin mematahkan hubunganku dengan dosa dalam hidupku. Tolonglah aku menemukan cara-cara yang praktis untuk memotong apa saja yang menyebabkan aku menyakiti hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi garam yang tidak hambar dalam Kerajaan Allah. Amin.

Sdr. F.X. Indrapadja, OFS