Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Ahad, Mei 26, 2013

YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 27 Mei 2013)

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: Sir 17:24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7

Petikan bacaan Injil hari ini adalah sekitar “kemuridan” …… discipleship adalah kata kerennya. Seorang imam Fransiskan Kapusin dari Irlandia, Fr. Silvester O’Flynn OFMCap., dalam bukunya yang berjudul THE GOOD NEWS OF MARK’S YEAR, (Dublin, Ireland: The Columbia Press in association with Cathedral Books, 1990) kali ini melihatnya dari kacamata yang tidak biasa-biasanya, artinya agak berbeda. Yang disoroti olehnya adalah pandangan mata Yesus. Dalam permenungan kali ini saya mengambil beberapa pokok dari tulisan Pater Sylvester ini.

Pandangan Yesus yang pertama adalah kepada orang muda yang kaya itu. Markus menulis: “Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (Mrk 10:21). “Menaruh kasih kepadanya” …… ini hanya ada dalam Injil Markus; Matius dan Lukas dalam cerita padanannya sama sekali tidak memuat tiga kata ini. Pandangan Yesus kepada orang ini memiliki kuat-kuasa dan suatu daya tarik yang penuh kehangatan. Seakan Yesus membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna memeluknya seperti Dia menyambut anak-anak kecil (lihat Mrk 10:16).

Pandangan Yesus yang kedua ditujukan kepada para murid-Nya. Markus mencatat: “Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata …” (Mrk 10:23). Ini adalah pandangan Yesus sang Guru yang membuat eye-contact, “mata- ketemu-mata” dengan orang-orang lain sebelum menyampaikan pesan-Nya kepada mereka.

Pandangan ketiga dari Yesus lebih dalam lagi. Markus mencatat: “Yesus memandang mereka dan berkata …” (Mrk 10:27). Pandangan Yesus kali ini menembus hati para murid-Nya. Dia menyampaikan kasih Allah kepada mereka: menawarkan kemungkinan-kemungkinan ilahi guna mengatasi kelemahan manusiawi: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Sebuah pesan yang menguatkan serta sungguh menyemangati kita semua, seperti yang dikatakan oleh Malaikat Agung Gabriel kepada sang Perawan dari Nazaret: “… bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:38).

Nah, marilah sekarang kita masuk ke dalam suasana doa, menempatkan diri kita dalam cerita Injil di atas dan membiarkan imajinasi kita berkembang berdasarkan sabda Yesus yang terdapat dalam bacaan itu. Marilah kita memperkenankan Yesus memandang kita (anda dan saya) satu-persatu. Jauhkanlah rasa takut kita. Barangkali sudah terlalu lama kita menghindari pandangan mata-Nya. Kita merasa “aman” jika kita tetap berada agak jauh, … di tengah kerumunan orang banyak. “Aman”, namun ada kekurangannya. Sekarang, Yesus memandang kita. Dia menginginkan kita. Dia menginginkan sepasang mata kita yang tertuju kepada diri-Nya, juga hati kita yang terbuka lebar-lebar bagi-Nya.

Mungkin saja kita masih mau menolak untuk memandang diri-Nya. Kita seakan berkata: “Tuhan Yesus, tunggu sampai aku layak dan pantas. Tunggu sampai aku mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada-Mu.” Namun sebenarnya kita sudah mempunyai apa yang dapat diberikan kepada Yesus. Sesuatu yang memang diinginkan oleh-Nya. Dia menginginkan mata kita masing-masing, walaupun karena cacat kita hanya memiliki satu biji mata saja. Kalau kedua mata kita buta, marilah kita pandang Yesus dengan mata hati kita. Marilah kita memandang Yesus dan memperkenankan-Nya memandang diri kita. Oh, kan aku seorang pendosa. Aku tidak dapat memandang-Nya “mata-ketemu-mata” tanpa merasa seperti seorang yang sedang telanjang, ah membuat diriku serba salah, malu. …… Embarrased!

Akan tetapi, sepasang mata Yesus penuh dengan kasih. Kasih kepada kita masing-masing secara pribadi. Pandangan mata-Nya dengan tetap terus berlanjut sampai menyentuh kita. Kita tidak perlu takut akan sentuhan kasih-Nya. Yesus memang senantiasa mencari kita. Oleh karena itu mengapa kita harus melarikan diri daripada-Nya? Apakah karena kita terlalu sibuk? Terlalu kaya? Ataukah memang takut akan Allah dalam artiannya yang salah, yaitu takut untuk dikasihi oleh-Nya. Mengapa? Mengapa?

Saudari dan Saudaraku yang sungguh dikasihi Kristus, apabila kita sudah berada pada tahapan ini, dan kita tetap ingin berbalik meninggalkan Yesus, maka ujung-ujungnya semua itu hanyalah meninggalkan kesedihan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus tetap bertahan. Marilah kita mengambil waktu yang cukup untuk melakukan permenungan pribadi agar kita dapat mengetahui, mengenal dan mengalami bahwa kita ini sesungguhnya dikasihi oleh Yesus. Marilah kita memandang kehangatan pandangan-Nya. Pandangan dari sepasang mata Yesus terus saja menawarkan karunia (anugerah/pemberian gratis) dari Bapa surgawi. Hati manusiawi kita akan ditransformasikan oleh karunia Allah tersebut. Sementara itu marilah kita merasakan bangkitnya keberanian dalam diri kita. Kelemahan manusia tidak akan menahan-nahan kita lagi. Kemungkinan-kemungkinan besar mulai terbayang, semua hal yang kita rindukan sejak dahulu. Semua hal yang dahulu kita tidak miliki. Bahkan juga kekayaan dalam surga, hidup kekal! Memang segalanya mungkin bagi Allah!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah dan bagi-Mu segalanya adalah mungkin. Undanglah kami untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dalam jalan kami menuju kepenuhan hidup. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan