Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, Ogos 14, 2013

HASRAT YESUS HANYALAH AGAR KITA MENERIMA BELAS KASIH BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 15 Agustus 2013)


Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yos 3:7-11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6

Kita hampir tidak dapat membayangkan kesedihan yang ditanggung oleh Yesus ketika mengetahui bahwa orang-orang yang membutuhkan-Nya justru adalah orang-orang yang menghukum diri-Nya sampai mati di kayu salib. Namun bukan hanya orang-orang Yahudi dan Romawi zaman dahulu yang bertanggung-jawab terhadap kematian-Nya. Yesus wafat untuk dosa-dosa seluruh umat manusia segala zaman. Selagi Dia memikul salib-Nya menuju bukit Kalvari, Yesus tidak tidak hanya merasakan betapa beratnya kayu salib yang menekan diri-Nya. Selagi diri-Nya tergantung di kayu salib dan kemudian wafat, tidak hanya tusukan paku dan duri di kepala-Nya yang menyebabkan rasa sakit luarbiasa. Yesus merasakan beratnya dosa dari setiap orang orang yang pernah lahir di dunia ini … tanpa kecuali.

Namun demikian, kasih Yesus begitu besar sehingga walaupun pada saat-saat Ia menanggung rasa sakit ini, Dia berdoa untuk pengampunan kita (Luk 23:34). Hasrat Yesus hanyalah agar kita menerima belas kasih Bapa-Nya yang hanya dapat datang kepada kita jika Dia menanggung hukuman yang pantas bagi kita.

Nah, apabila kita menerima belas kasih Allah sedemikian, bukankah kita harus saling menunjukkan belas kasih yang sama kepada sesama kita? Inilah pertanyaan dari perumpamaan tentang hamba yang tidak berterima kasih yang ditujukan kepada kita masing-masing. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus pertama-tama menyadari bahwa Yesus wafat untuk semua orang. Yesus tidak mengenal “anak emas” atau favorit! Kita diampuni secara sama, dikasihi oleh Allah secara sama, dan secara sama pula kita menjadi penerima Roh Kudus-Nya. Selagi kuat-kuasa kebenaran ini masuk menyerap ke dalam hati kita, maka kita akan memahami panggilan Yesus untuk menunjukkan kepada setiap orang bela rasa yang sama dan cintakasih yang sama seperti yang telah ditunjukkan oleh-Nya. Walaupun terdengar sangat menantang, biar bagaimana pun juga adalah suatu kebenaran, bahwa sampai di mana kita bersikap “selektif” (artinya pilih-pilih atau diskriminatif) dalam soal berbelas kasih kepada sesama, sampai di situ pula kita masih membutuhkan pemahaman tentang belas kasih yang kita terima dari diri-Nya.

Begitu banyak yang harus diampuni di mana-mana di seluruh dunia ini. Allah ingin membawa kasih-Nya menjadi sempurna dalam diri kita masing-masing agar kita memperlakukan setiap orang dengan respek dan bela rasa yang sama pula. Allah ingin memampukan kita untuk memandang setiap orang – bagaimana pun jauhnya mereka telah terbuang dari kebaikan – sebagai seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, yang dipilih oleh-Nya untuk menerima kasih yang sama seperti yang secara bebas telah diberikan-Nya kepada kita. Semoga Allah membuka mata kita terhadap belas-kasih-Nya agar supaya melalui kasih kita Dia dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau telah menunjukkan kepada diriku belas kasih-Mu. Berdayakanlah diriku agar mau dan mampu berbelas kasih kepada orang-orang lain di sekelilingku. Tolonglah aku agar dapat memandang setiap orang dengan penghargaan yang sama seperti Engkau telah lakukan. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Ogos 13, 2013

MENDASARKAN SEGALA RELASI KITA PADA BELAS KASIH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe – Rabu, 14 Agustus 2013)
Fransiskan Conventual: Pesta S. Maximilianus Maria Kolbe, Martir

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20)

Bacaan Pertama: Ul 34:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3,5,8,16-17

Dalam mengajar para murid-Nya bagaimana memberi tanggapan apabila dicurangi, disakiti, dijahati, didzolimi (dan sejenisnya) oleh seorang anggota lain dari gereja/jemaat, maka keprihatinan utama Yesus adalah untuk tidak menghukum, melainkan “mendapatkan kembali” orang yang berbuat dosa tersebut (Mat 18:15).

Pertama-tama, suatu upaya untuk rekonsiliasi harus dilakukan secara one-to-one, di bawah empat mata dahulu. Jika yang bersangkutan tidak mendengarkan, maka bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan lagi. Lalu, jika orang itu masih tidak mau mendengarkan mereka, maka perkaranya pun disampaikan kepada jemaat. Dalam setiap tahapan, belas kasih lah yang harus menonjol, bukan penghakiman. Juga harus disediakan ruangan bagi pelayanan penyembuhan Tuhan sendiri, “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Kita semua tahu bahwa ada kuat-kuasa yang besar dalam doa, hikmat-kebijaksanaan yang besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan yang kuat dalam ajaran Gereja. Akan tetapi, seringkali kita mengambil jalan rekonsiliasi hanya sebagai pilihan paling akhir. Mengapa harus begitu? Bukankah kita memahami bahwa panggilan Yesus untuk berbelas kasih juga merupakan suatu panggilan guna menyerahkan hasrat kita sendiri untuk membalas dendam dan menghakimi dengan keras?

Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan Allah bagi kita untuk mengasihi setiap orang sepenuhnya seperti Allah telah mengasihi diri kita sendiri – bahkan mengasihi orang-orang yang telah menyakiti kita …… musuh-musuh kita (lihat Mat 5:43-46). Bagian Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan sabda-sabda Yesus yang menekankan kasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita agar tidak memandang rendah “anak-anak kecil” Allah (Mat 18:10). Yesus kemudian mengajarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, di mana seorang gembala melakukan tindakan yang tidak logis namun penuh kasih sayang untuk menyelamatkan seekor dombanya yang hilang walaupun harus meninggalkan 99 ekor lainnya di pegunungan (Mat 18:12:14). Yesus malah mengajarkan mereka perumpamaan tentang pengampunan, bagaimana kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-35). Kemudian Yesus memberi ajaran-Nya yang sungguh keras tentang perceraian (Mat 19:1-12). Dalam ajaran-ajaran-Nya ini Yesus seakan meminta-minta kepada kita untuk mendasarkan segala relasi kita pada belas kasih yang dicurahkan Allah ketika Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk meresmikan sebuah Kerajaan Kasih yang baru.

Sebagai manusia kita memiliki kodrat yang cenderung untuk berdosa, dan kita tidak kebal terhadap berbagai godaan. Namun Yesus mengingatkan kita untuk menguji cara kita bereaksi dalam menghadapi situasi-situasi sedemikian. Apakah inklinasi kita yang pertama adalah untuk mencari hikmat dari Roh Kudus dan nasihat dari Gereja? Atau, apakah dengan cepat kita “menyerah” terhadap godaan-godaan itu sambil mempersenjatai diri kita dengan berbagai dalih guna membenarkan tindakan kita? Apakah kita membuang segala penghiburan dari doa dan Kitab Suci dan mengandalkan diri sepenuhnya pada trend terakhir dalam psikologi? Kita memang tidak boleh mengabaikan bantuan dari bidang hukum dan psikologi, namun kita tidak pernah boleh memandang rendah kuat-kuasa kasih Allah untuk mentransformasikan tragedi dosa menjadi suatu kesempatan bekerjanya penebusan ilahi.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, setiap kali aku dikepung oleh banyak masalah, jagalah diriku agar tetap teguh dalam iman selagi aku memandang ke depan pada kepenuhan penyelamatan-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Ogos 12, 2013

ALLAH BUKANLAH SEORANG TIRAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan BiasaXIX – Selasa, 13 Agustus 2013)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam


YESUS DAN ANAK-ANAK - JESUS AND CHILDRENPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14)

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4,7-9,12

Pada saat anak pertama dari pasutri tertentu itu dikandung, maka secara langsung mereka berdua menjadi orangtua. Namun setiap hari, selagi anak itu bertumbuh, pasutri tersebut belajar lebih banyak dan banyak lagi apa artinya menjadi orangtua. Dengan berjalannya waktu mereka bertumbuh semakin matang dalam menjalani peranan masing-masing sebagai bapak dan ibu.

Ada suatu dinamika serupa dalam proses menjadi anak-anak Allah. Kita menjadi anak-anak Allah karena kehendak-Nya dan rahmat-Nya – karena darah Yesus dan air baptisan. Hal ini adalah suatu karunia, dan kita tetap adalah anak-anak-Nya walaupun suka mbalelo, tidak taat dst. Pada saat yang sama, kita masing-masing harus belajar bagaimana berpikir dan bertindak sebagai anggota keluarga Allah. Kita harus menyesuaikan pandangan dan nilai-nilai kita dengan pandangan dan nilai-nilai Bapa surgawi agar dengan demikian kita memiliki keserupaan sebagai anggota keluarga-Nya. Di sinilah awal keseriusan upaya kita, yaitu ketika kita belajar, bahwa tergantung kita sendirilah, apakah kita mau (atau tidak mau) menempatkan diri kita di bawah otoritas Bapa surgawi.

Pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa dalam proses formasi ini, Bapa adalah memang untuk kita. Dia berada di pihak kita! Allah bukanlah “seorang tiran”. Ia adalah orangtua yang berbelas-kasih dan penuh pengertian. Seperti orangtua baik lainnya, Allah senang mengambil waktu untuk mengajar dan melatih anak-anak-Nya, bahkan menemukan cara untuk bergembira dengan mereka.

Orangtua mana yang sungguh menyusahkan anak-anak mereka untuk datang kepada mereka? Apakah mereka sungguh mencoba untuk menjadi kejam dan merasa curiga serta menjaga jarak? Tentu saja tidak! Bapa di surga jauh lebih baik dalam melakukian fungsi-Nya sebagai orangtua daripada manusia yang mana saja. Oleh karena itu marilah kita datang ke hadirat Bapa, dan mohon diberikan pengajaran dari Dia. Allah memiliki hikmat dan kuat-kuasa untuk menolong kita menjadi matang, dan Ia mengasihi kita dengan sempurna. Tidak ada urusan yang terlalu kecil dan juga tidak ada halangan yang terlalu besar bagi Allah!

Allah menciptakan kita karena kasih dan Ia ingin berbagi hidup-Nya sendiri dengan kita. Dia tidak memusatkan perhatian-Nya pada kesalahan-kesalahan kita, dan Ia tidak sekadar berharap bahwa kita akan tetap berjalan di atas rel yang benar sehingga kita tidak akan dilempar ke neraka. Allah ingin melihat kita mengembangkan semua talenta dan keterampilan yang kita miliki. Allah juga sangat senang melatih kita. Bayangkan: Walaupun ketika Allah mendisiplinkan kita, Dia mengasihi kita!

DOA: Bapa surgawi, tidak ada siapa pun yang kukenal seperti Engkau, ya Allahku. Engkau melihat segalanya yang terdapat dalam pikiranku, hatiku dan tindakanku, dan Engkau tetap mengasihiku secara lengkap-total. Aku menyerahkan diriku kepada tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Ajarlah aku hidup sebagai anak-Mu yang taat. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Ogos 09, 2013

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Sabtu, 10 Agustus 2013)

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26)

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Imaji tentang biji gandum tentunya berlaku untuk Santo Laurensius, seorang diakon Gereja awal yang dibunuh sebagai martir Kristus pada masa pengejaran Kaisar Valerian pada tahun 258 M. Memang ayat ini berlaku untuk para martir, namun tidak kurang berlakunya bagi kita semua.

Catatan-catatan tradisi abad ke-4 menceritakan tentang tanggapan berani dari Santo Laurensius terhadap permintaan antek-antek Valerian untuk memberikan harta-kekayaan Gereja. Keesokan harinya, Laurensius muncul dengan banyak sekali orang miskin dan cacat dari kota Roma – semua yang dilayani oleh diakon Laurensius. Di hadapan para pejabat kekaisaran, Laurensius menyatakan: “Inilah harta-kekayaan Gereja”. Untuk “keberanian” (kekurangajaran?) ini, Laurensius dibakar hidup-hidup.

Jika darah para martir merupakan benih bagi Gereja, di mana tempat kita sekarang? Tidak terlalu banyak dari kita akan dipanggil oleh-Nya untuk menumpahkan darah sebagai martir Kristus. Dengan demikian, bagaimana kita dapat membantu Gereja untuk berakar dan bertumbuh? Jawabannya: Dengan sukarela merangkul “kemartiran” kecil-kecilan sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Raniero Cantalamessa OFMCap. sekali menjelaskan begini: “Seorang ibu … pulang ke rumah dan memulai harinya yang terdiri dari seribu hal-hal kecil. Hidupnya praktis direduksi menjadi remah-remah, tetapi apa yang dilakukannya bukanlah hal yang kecil: Itu adalah Ekaristi bersama Yesus! Seorang biarawati … di pagi hari pergi untuk melakukan tugas pekerjaannya sehari-hari di tengah-tengah orang-orang tua, orang-orang sakit, dan anak-anak. Hidupnya juga kelihatan dapat dipecah-pecah oleh banyak hal yang kecil sehingga pada malam hari seakan tidak berbekas – terasa seperti satu hari lagi yang sia-sia. Akan tetapi hidup sang biarawati juga adalah Ekaristi; dia telah “menyelamatkan” hidupnya sendiri … Tidak ada seorang pun boleh mengatakan: “Apa gunanya hidupku ini? Kita ada di dunia untuk alasan yang paling agung, yaitu menjadi suatu kurban yang hidup. Artinya menjadi Ekaristi bersama Yesus.”

Apabila kita memilih untuk menyangkal atau mengesampingkan diri kita sendiri untuk menolong orang-orang lain, atau ketika kita memutuskan untuk berdiri tegak demi Injil Yesus Kristus, maka kita pun dapat dikatakan bergabung dengan para martir seperti Laurensius pada waktu kita ikut ambil bagian dalam kurban Yesus bagi dunia. Kita sungguh dapat berbuah bagi Kerajaan Allah!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mau dan mampu untuk memilih mengikuti Engkau dengan sepenuh hidupku. Aku ingin untuk mengosongkan diriku sendiri agar dengan demikian aku dapat melayani orang-orang lain. Aku mau berbuah banyak bagi Kerajaan-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Ogos 08, 2013

APAKAH GUNANYA SESEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Jumat, 9 Agustus 2013)

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28)

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:25). Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan rasa takut kita atau dapat juga menimbulkan penyangkalan, bahwa Yesus dalam hal ini tidak memaksudkan “kehilangan nyawa” secara harfiah. Hal itu cukup radikal dan kebanyakan dari kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki sekarang. Rumah, kendaraan roda empat maupun roda dua, pendidikan yang baik, pekerjaan/karir yang baik, dan makanan-minuman lezat yang dihidangkan di atas meja makan setiap hari. Sedikit saja dari kita yang memperoleh ini semua tanpa upaya, dan kebanyakan dari kita ingin “bertahan” pada apa yang kita telah miliki, lakukan dan kasihi.

Namun inilah justru apa yang dimaksudkan oleh Yesus. “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya” berarti “siapa saja menghasrati pembebasan – materiil, pembebasan dunia ini – dari bahaya, penderitaan, sakit-penyakit, dlsb., akan kehilangan semua itu. Hal itu berarti bahwa siapa saja yang hidup demi kenyamanan hidup, kepemilikan, dan capaian-capaian duniawi akan berakhir dengan kehilangan semua itu.

Akan tetapi … bukankah tidak salah untuk menginginkan hal-hal tersebut? Apakah salahnya dengan hidup yang nyaman, makmur-sejahtera, dan “sukses”? Sama sekali tidak salah! Pertanyaan yang harus ditimbulkan oleh kata-kata Yesus dalam diri kita adalah, apakah itu saja yang kita ingin capai secara mati-matian? Apakah kegairahan hidup kita? Allah menginginkan banyak lagi dari diri kita masing-masing daripada sekadar mempertahankan status quo atau membuat sedikit perbaikan di sana-sini dalam kehidupan kita. Allah mengetahui sekali apa yang kita butuhkan dan Dia akan memperhatikan serta memenuhi kebutuhan kita itu (Luk 12:22-34), dengan demikian membebaskan diri kita agar dapat mengurus diri kita sendiri dengan apa yang diinginkan-Nya – hidup untuk Kerajaan-Nya.

Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Pertama-tama kita dapat menggunakan pikiran kita. Marilah kita membuat daftar dari segala hal yang kita ketahui tentang Bapa surgawi, yang mahapengasih, mahatahu, mahakuasa, mahabijaksana, penuh bela rasa, penuh belas kasih dan mahapengampun. Apabila ingatan kita sudah mulai memudar, marilah kita membuka Kitab Suci untuk menemukan lebih banyak lagi. Kemudian, baiklah kita membuat daftar dari apa saja yang telah dilakukan oleh-Nya, misalnya menciptakan dunia dari ketiadaan, membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir dan membangkitkan Yesus dari alam maut. Lalu, marilah kita menggunakan hati kita. Kita menyediakan saat-saat tenang untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukan Allah bagi kita secara pribadi, dan kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita rasa syukur yang mendalam untuk semua itu. Kita harus seringkali mengingat-ingat tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa dalam kehidupan kita dan perkenankanlah semua itu menggerakan hati kita dengan kasih. Kita sungguh tidak dapat mengatakan bahwa terlalu seringlah kita mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Allah atas diri kita, dan marilah kita masing-masing sekarang juga mengatakan bahwa “untuk Dialah aku rela kehilangan nyawaku!”

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya pada kasih-Mu, kebaikan hati-Mu, dan hikmat-Mu bagiku. Ingatkanlah aku senantiasa siapa Engkau sebenarnya dan apa yang telah Kaulakukan untuk umat manusia. Aku ingin memberikan hidupku kepada-Mu, agar aku dapat memperoleh hidup kekal bersama-Mu. Amin.


Cilandak, 3 Agustus 2013

Rabu, Ogos 07, 2013

JAWABAN KITA TIDAK BOLEH BERUPA JAWABAN NETRAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri OP, Imam – Kamis, 8 Agustus 2013)
Keluarga OP: Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat
Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23)

Bacaan Pertama: Bil 20:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9

“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Mengapa Yesus ingin mengetahui apa yang dipikirkan para murid tentang diri-Nya? Kiranya Yesus ingin agar para murid-Nya menjadi sadar akan apa yang tersembunyi dalam pikiran dan hati mereka, kemudian mengucapkan dengan bibir mereka apa yang mereka yakini tersebut.

Yesus ingin agar kita menjadi sadar akan apa saja yang yang kita pikirkan dan yakini tentang diri-Nya. Dengan pertanyaan yang sederhana namun tajam ini, Yesus langsung merujuk kepada inti permasalahan. Seakan-akan Ia berkata: “Lupakan saja apa yang dikatakan orang-orang lain tentang diri-Ku. Aku ingin mendengar apa yang kamu katakan tentang diriku.”

Setiap hari kita menghadapi pertanyaan ini: Siapakah Yesus menurut kita (anda dan saya)? Apakah Dia seorang sahabat tempat kita curhat sehari-hari, tempat kita bersandar? Apakah Dia “seorang” Allah yang jauh di sana, yang mempunyai ekspektasi-ekspektasi begitu tinggi terhadap diri kita yang serasa tidak mungkin dapat kita penuhi? Apakah Dia. Apakah Dia sang Hakim Agung yang senantiasa mengamati kesalahan-kesalahan kita? Dst. dlsb.

Yang jelas, jawaban kita tidak boleh berupa “jawaban netral” karena pertanyaan tersebut datang dari hati Yesus sendiri. Dia yang membuka hati-Nya sendiri ingin agar orang yang berada dihadapan-Nya itu tidak menjawab dengan pikirannya saja. Pertanyaan yang datang dari hati Yesus seharusnya menggerakkan hati kita: Siapakah Aku bagimu? Apakah arti diri-Ku bagimu? Apakah kamu sungguh mengenal diri-Ku? Apakah kamu benar saksi-saksi-Ku? Apakah kamu mengasihi Aku?

Tanggapan pribadi kita itu memang penting, namun kita harus ingat bahwa keyakinan kita tidak datang hanya dari dalam diri kita sendiri, karena harus ditunjang oleh pernyataan dari Bapa yang ingin agar kita mengenal Putera-Nya (Mat 16:17). Pentinglah bagi iman kita dan relasi kita dengan Kristus untuk setiap hari membuat pengakuan sederhana seperti pengakuan Petrus: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Atau kita juga dapat berseru seperti rasul Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Pernyataan-pernyataan iman sederhana seperti ini dapat membantu mengakarkan iman kita kepada Kristus, juga membawa kuat-kuasa dan kehadiran Allah guna menunjang diri kita dalam setiap situasi yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah terang dunia, harapan bagi orang-orang yang tak berpengharapan, dan penghiburan bagi orang-orang yang sedang menderita kesepian. Bebaskanlah diriku dari pandangan-pandangan salah-keliru tentang Engkau dan lanjutkanlah pernyataan diri-Mu kepadaku. Yesus, seperti rasul Tomas, aku pun berseru kepada-Mu: “Ya Tuhan dan Allahku!” Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN YESUS, TOLONGLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 7 Agustus 2013)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat 15:21-28)

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25 – 14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidak menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28).

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga, tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Ogos 05, 2013

TRANSFIGURASI YESUS TIDAK KALAH PENTINGNYA BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA – Selasa, 6 Agustus 2013)

Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Lalu tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya, “Guru, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Lalu terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, tampaklah Yesus tinggal seorang diri. Murid-murid itu pun merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu. (Luk 9:28b-36)

Bacaan Pertama: Dan 7:9-10,13-14,21-23 atau 2Ptr 1:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,9

Yesus menyatakan kemuliaan-Nya kepada tiga orang murid-Nya yang termasuk “lingkaran dalam”, langsung setelah pemberitahuan pertama tentang penderitaan-Nya dan syarat-syarat mengikut Dia (Luk 9:22-23). Peristiwa transfigurasi Yesus ini pun juga terjadi tidak lama sebelum perjalanan-Nya ke Yerusalem di mana Dia akan dijatuhi hukuman mati dan disalibkan (Luk 9:21-27,51). Dengan memberikan kesempatan kepada ketiga murid-Nya untuk menyaksikan diri-Nya dalam kemuliaan, Yesus sesungguhnya berupaya untuk menguatkan mereka bagi peristiwa kematian-Nya kelak dan juga penyangkalan-diri dan konfrontasi mereka terhadap penderitaan.

Petrus, Yakobus dan Yohanes memperoleh privilese untuk menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus Kristus. Transfigurasi itu sendiri merupakan suatu tanda dari karunia yang Allah ingin berikan kepada kita masing-masing. Yesus menginginkan agar kita semua mengalami kemuliaan-Nya selagi kita semakin dekat kepada-Nya dalam doa dan ketaatan yang penuh kasih.

Transfigurasi Yesus juga tidak kalah pentingnya bagi kita semua, tidak hanya bagi ketiga murid inti itu. Mengapa? Karena kita hanya dapat melakoni jalan salib dalam kehidupan kita sebatas kita melihat kemuliaan Tuhan, walaupun sekilas. Pengharapan untuk dapat ikut ambil bagian dalam hidup kebangkitan Yesus memperkuat kita untuk mengesampingkan hal-hal duniawi dan menyingkirkan hasrat-hasrat diri kita yang cenderung berdosa. Tanpa pernah melihat sekilas kasih dan kemuliaan Yesus, baik melalui doa-doa pribadi kita maupun ketika kita berkumpul bersama umat yang lain untuk merayakan Ekaristi, maka kita tidak akan mampu bertahan dan akan menolak penderitaan yang merupakan suatu bagian alami dari kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Namun dengan Yesus, Tuhan bangkit yang senantiasa ada dalam hati kita, maka kita pun akan menemukan keberanian untuk berkonfrontasi dengan dosa-dosa kita, menerima penderitaan, dan mempasrahkan diri kita ke tangan-tangan Yesus yang penuh kasih.

Yesus Kristus telah bangkit dari alam maut. Dengan demikian iman kita tidaklah sia-sia! Yesus ingin meyakinkan kita mengenai kebenaran ini dan memberikan kepada kita kesempatan untuk “ikut ambil bagian” dalam pengalaman yang diberikan-Nya kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dalam Yesus kita akan menemukan rahmat yang memampukan kita untuk merangkul salib dan diyakinkan akan realitas kebangkitan.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau untuk kebangkitan-Mu! Dalam belas kasih-Mu, anugerahkanlah kepadaku suatu visi kemuliaan-Mu agar dapat menolong diriku melanjutkan perjalananku bersama Engkau. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Ogos 04, 2013

RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 5 Agustus 2013)


Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21)

Bacaan Pertama: Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17

Yesus ingin sekali memuaskan rasa lapar (fisik) orang banyak yang berjumlah lebih dari 5.000 orang yang diberi-Nya makan pada hari itu di Galilea, namun terlebih-lebih Ia juga ingin memberi makanan spiritual kepada orang banyak itu. Sejak abad-abad pertama sejarahnya, Gereja telah melihat dan mengartikan penggandaan roti dan ikan itu sebagai peristiwa yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Ekaristi, di mana Yesus memberi makan jutaan manuria setiap hari dengan tubuh dan darah-Nya.

Bayangkanlah rahmat yang tersedia bagi kita pada Misa Kudus, kalau saja kita mau mendengarkan suara-Nya. Apa lagi yang dapat lebih mengubah hidup kita daripada berkumpul bersama sedemikian banyak umat Allah dalam suatu doa pujian dan penyembahan? Apakah yang lebih penuh kuat-kuasa daripada menerima Yesus Kristus sendiri, dan memperkenankan tubuh dan darah-Nya bercampur dengan tubuh dan darah kita sendiri, dan memperkenankan Roh Kudus mengangkat roh kita sampai ke hadapan takhta surgawi? Konsili Vatikan II menyatakan: “Jadi dari Liturgi, terutama dalam Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

Namun demikian, kita semua mengetahui bahwa betapa mudahnya kita pergi ke gereja untuk menghadiri Misa Kudus tanpa mengharapkan diri kita diubah. Kita semua juga mengetahui bagaimana dengan cepatnya doa-doa dan bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa dapat menduduki tempat terbawah ketimbang pelanturan-pelanturan yang mengganggu kita, misalnya makan bersama keluarga di “Bakmi Gajah Mada” setelah Misa, kekhawatiran tentang masa lalu, mimpi akan masa depan, dst. Bagaimana kita melawan dan membalikkan tendensi ini? Dengan persiapan yang baik sebelum Misa.

Apa yang dimaksudkan dengan persiapan di sini? Kita meluangkan sedikit waktu untuk berada bersama Tuhan sebelum kita berangkat untuk mengikuti Misa. Kita mohon kepada-Nya agar memeriksa hati kita dan menunjukkan kepada kita dalam hal mana saja kita harus bertobat sehingga dalam “ritus tobat” dalam awal Misa kita dapat mengalami pertobatan. Kita juga meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa, sehingga ketika sabda Tuhan diproklamasikan dalam liturgi kita pun akan mendengar Yesus sendiri berbicara kepada kita secara pribadi. Baik sekali juga bagi kita apabila mengambil waktu sejenak untuk mengenang tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan untuk kita di atas kayu salib, dan kita berterima-kasih kepada-Nya dengan penuh syukur karena mengasihi kita – manusia – dengan begitu mendalam sampai mati di kayu salib.

Persiapan apa pun yang kita lakukan, kita harus senantiasa menyadari bahwa apabila kita mendatangi meja Tuhan dengan kerendahan hati yang tulus, hati yang bertobat, siap untuk diubah oleh Tuhan, maka Ekaristi dapat menjadi suatu pengalaman yang paling mempunyai kuat-kuasa atas hidup kita. Semoga kita semua datang ke Misa Kudus dan mengalami apa yang dikatakan oleh sang pemazmur: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN (YHWH) itu!” (Mzm 34:9).

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh takjub menyaksikan dan mengalami belarasa-Mu dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengurbankan hidup-Mu sendiri di atas altar salib agar aku mempunyai hidup-Mu dalam diriku. Terima kasih Yesus, Engkau memberi aku makan dengan tubuh-Mu sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu sendiri, tolonglah aku membuka diriku bagi kuat-kuasa kasih-Mu yang akan mentransformasikan diriku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAYA DI HADAPAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [Tahun C], 4 Agustus 2013)


Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk 12:13-21).

Bacaan Pertama: Pkh 1:2; 2:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Kol 3:1-5.9-11

Salah satu kerinduan yang dirasakan setiap orang adalah hasrat untuk mendapatkan rasa aman. Apabila kita melihat ke masa depan dan melihat tua-usia sedang mendatangi dengan langkah dan derap yang tetap sebagai suatu keniscayaan, dan takut barangkali tidak akan ada keamanan untuk hari tua kita, sungguh merupakan pikiran yang menakutkan. Bukanlah suatu surprise bahwa cepat atau lambat kita menghadapi kebutuhan akan perencanaan masa depan kita, mencoba untuk meyakinkan diri kita bahwa kita akan mempunyai rasa aman, teristimewa pada saat kita telah melampaui usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dengan penghasilan yang sepadan.

Yesus memahami sekali kerinduan kita akan rasa aman, dan dalam perumpamaan “orang kaya yang bodoh” Ia ingin menempatkan kerinduan kita itu dalam perspektif yang layak dan pantas. Orang kaya dalam perumpamaan itu bisa saja seorang petani jagung di Iowa atau petani gandum di Kansas. Dapat saja orang kaya ini adalah pengusaha kaya di mana saja, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia. Dengan terus menimbun persediaan hasil pertaniannya, orang kaya ini dapat memberi selamat kepada dirinya sendiri, karena kerja kerasnya berhasil dan rasa amannya pun terasa pasti. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah CEO yang efektif, organisator yang hebat, seorang perencana profesional, seorang pribadi yang sangat dihormati dalam komunitasnya. Tetapi …… Allah menyebutnya sebagai seorang bodoh! Sekali lagi: BODOH !!!

Apakah sebenarnya yang dilakukan oleh orang kaya itu? Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya adalah seorang yang tidak jujur atau dia telah menipu orang lain atau memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Jadi, apakah kesalahan orang kaya ini? Jawabannya: Dia serakah … tamak! Sebelum mengajar dengan menggunakan perumpamaan ini, Yesus telah mengingatkan para pendengarnya: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (Luk 12:15). Ketamakan menggiring seseorang untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada kepemilikan materiil guna mendapatkan rasa aman bagi dirinya. Inilah kesalahan dari “self-made man” yang mengira bahwa dirinyalah yang mengendalikan masa depannya. Dia menggantungkan diri pada dirinya sendiri guna mencapai rasa aman. Hal ini membuat dirinya “lupa akan Allah” walaupun bisa saja dia pergi ke gereja secara teratur setiap hari Minggu. Dia menginginkan keamanan di masa depan, namun dia tidak memandang cukup jauh ke masa depan yang melampaui kenyataan kematian yang tidak dapat dihindari, kepada suatu keamanan yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.

Ketamakan seperti ini tidak terbatas pada orang-orang kaya. Kita semua dapat bersalah karena ketamakan. Masyarakat kita (terutama di kota-kota besar seperti Jakarta) adalah sedemikian sehingga terasa hampir memaksa kita untuk terus sibuk dengan kebutuhan akan uang dan kepemilikan materiil, tidak peduli bagaimana pun kita melawan pengaruhnya. Perjuangan kita sehari-hari agar tetap survive sebagai orang benar di mata Allah dalam masyarakat yang begitu korup dan tidak berkeadilan sungguh tidak mudah. Tentu saja kita harus bekerja, menyimpan uang dslb., namun sangatlah salah apabila kita berpikir bahwa kepemilikan harta akan memberikan kepada kita rasa aman sejati yang sungguh kita butuhkan. Berapa besar pun kekayaan yang berhasil kita tumpuk, akan tiba waktunya Allah berkata kepada kita: “Pada malam ini nyawamu akan diambil”. The moment of truth telah tiba! Apa rasa aman apa yang kita miliki pada saat seperti itu?

Tulisan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua mengisi ajaran dalam Injil. Santo Paulus mengatakan, “Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2). Sebuah nasihat yang baik, namun bagaimana kita mempraktekkan hal ini di hadapan kebutuhan sehari-hari? Apakah kita harus berhenti mencari nafkah dan menabung untuk masa depan? Itu bukan jawabannya. Sikap kitalah yang membuat perbedaan. Ingatlah bahwa orang kaya dalam perumpamaan itu samasekali telah melupakan Allah dan makna sesungguhnya dari kehidupan. Satu-satunya tujuan yang ingin dicapai oleh si orang kaya adalah rasa aman dalam kehidupan di dunia ini. Dia tidak melihat cukup jauh ke masa depan untuk rasa amannya, yaitu kehidupan kekal.

Yesus ingin agar kita menanggapi naluri kita untuk memperoleh rasa aman. Namun Ia ingin agar kita menggunakannya untuk bekerja mencapai hidup kekal dengan menjadi “kaya di hadapan Allah”. Yesus ingin agar kita berdiri di hadapan Allah dan mengakui bahwa kita miskin dalam arti bahwa setiap hal baik berasal dari Dia, bahwa tanpa Allah kita praktis bangkrut secara spiritual. Salah satu hal yang paling penting tentang doa adalah mengatakan kepada Allah: “Aku tidak dapat berjalan sendiri. Tanpa Engkau, aku tidak dapat melakukan apa pun. Tolonglah aku.” Inilah yang kita ungkapkan dalam Doa Syukur Agung: “Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, dan sungguh wajarlah bahwa segala ciptaan memuji Dikau, sebab Engkaulah yang memberi hidup dan menyucikan segala sesuatu ……” (DSA III). Kita harus benar-benar memaknai kata-kata dalam doa syukur agung ini. Kita harus memohon kepada Allah agar memimpin kita melalui hidup sementara ini ke hidup yang kekal. Jadi, pada waktu menghadapi maut kita pun dapat mempunyai keyakinan bahwa Allah akan berkata, “Engkau sungguh bijaksana, karena engkau bertumbuh menjadi kaya di hadapanku.” Inilah yang dinamakan keamanan kekal-abadi.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah memasuki hidup kami dengan lebih penuh lagi. Ajarlah kami untuk menghargai kekayaan kerajaan Allah dan kemudian memilikinya. Jagalah agar kami senantiasa bekerja untuk mencapai hidup kekal dengan menjadi kaya dihadapan Allah. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Ogos 02, 2013

MERANGKUL YESUS DAN AJARAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 3 Agustus 2013)

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12)

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Yosefus Flavius [c. 37-100], sejarawan Yahudi, menyajikan cerita mengenai pertengkaran yang terjadi antara Aretas, raja Arabia Perea, dan Herodus Antipas (putera raja Herodus Agung). Herodus Antipas telah menikah dengan puteri raja Aretas, namun menceraikannya ketika dia jatuh cinta dengan Herodias, istri dari saudaranya Filipus. Aretas menggunakan peristiwa menyedihkan yang menimpa puterinya dan suatu konflik perbatasan sebagai alasan untuk membangun pasukan tentaranya guna melawan Herodus. Ketika berhadapan dalam pertempuran, seluruh pasukan Herodus berhasil dihancurkan. Yosefus menulis bahwa sejumlah orang Yahudi percaya bahwa pasukan tentara Herodus dihancurkan oleh Allah sebagai hukuman karena dia menyuruh pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis (Antiquities, 18.5.1-2).

Matius tidak membahas konsekuensi-konsekuensi politis dari kematian Yohanes Pembaptis, namun ia menceritakan kisah kematian Yohanes Pembaptis yang mengerikan dalam konteks kegiatan Yesus di Nazaret dan tempat-tempat yang terletak di sekitar Nazaret. Herodus mempunyai rasa ingin tahu tentang Yesus (seperti dia juga mempunyai rasa ingin tahu tentang Yohanes Pembaptis) dan malah bertanya-tanya dalam hatinya siapakah Yesus ini, jangan-jangan Ia adalah Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati (Mat 14:2).

Catatan dalam Injil Matius tentang pemenjaraan dan eksekusi atas diri Yohanes Pembaptis merupakan tanda pendahulu dari “nasib” serupa yang akan dialami oleh Yesus. Dua orang ini dinilai sebagai nabi-nabi oleh para pengikut/murid mereka. Dua orang ini ditahan atas dasar bukti yang tidak jelas dan dihukum mati karena kebejatan moral para pejabat pemerintahan dan lembaga keagamaan. Dua orang ini juga dikuburkan oleh para murid mereka dan kemudian dipercayai telah bangkit dari maut.

Selagi kita datang semakin dekat kepada Allah dan mempelajari jalan-jalan-Nya, maka kita pun menjadi semakin berkemungkinan untuk merangkul Yesus dan ajaran-Nya. Di lain pihak, Herodus (walaupun ia merasa kagum pada apa yang diajarkan oleh Yohanes Pembaptis) tidak memiliki hasrat yang cukup untuk mengikut jalan Allah dan taat kepada sabda-Nya.

Walaupun bukan satu-satunya, satu cara bagi kita untuk datang lebih dekat kepada Allah dan jalan-Nya adalah dengan melakukan hal-hal seperti diuraikan berikut ini:
         Kita menyediakan waktu paling sedikit 10 menit setiap hari untuk doa pribadi memuji-memuji dan menyembah Allah.
         Setiap hari kita melakukan pemeriksaan batin dan melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita, mohon kepada Roh Kudus untuk mengubah hati dan pikiran kita.
         Kita menyediakan waktu 10 menit atau lebih setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, mohon kepada Roh Kudus untuk menerangi pikiran dan hati kita tentang apa yang kita baca itu.
         Kita mempersiapkan sebuah rencana untuk pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan rohani dan partisipasi aktif dalam kehidupan Gereja.

Komitmen-komitmen mendasar ini menolong kita untuk mengingat Allah, memusatkan perhatian kita kepada-Nya dan memperkenankan Dia untuk memperkuat diri kita. Di samping itu, semua itu membantu kita bertumbuh dalam kemampuan kita untuk mengasihi dan melayani Allah dan untuk menjalani kehidupan kita sebagai para murid Yesus yang baik.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk hati dan pikiran kami agar senantiasa dapat bersikap dan berperilaku sebagai murid-murid Yesus yang baik, yang membawa kasih-Mu ke tengah-tengah dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Ogos 01, 2013

JANGANLAH KITA MEMBATASI KARYA YESUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 2 Agustus 2013)
Keluarga Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58)

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:3-6,10-11

Yesus mengajar orang-orang melalui kata-kata dan perbuatan, dan banyak orang mulai mengikuti-Nya. Sejumlah orang memberi tanggapan kepada-Nya secara positif selagi mereka mengalami kasih-Nya dan merangkul kebenaran yang diajarkan-Nya. Di sisi lain ada juga orang-orang yang kemudian meninggalkan diri-Nya karena mereka merasakan ajaran-ajaran-Nya terlalu berat bagi mereka. Inilah yang dihadapi oleh Yesus di tempat asal-Nya.

Nazaret adalah sebuah kota kecil yang terletak cukup jauh dari jalan yang biasanya ramai dilalui orang-orang yang melakukan perjalanan. Di kota kecil seperti itu, orang saling mengenal. Orang-orang Nazaret tergolong miskin dan harus bekerja keras untuk mencari nafkah agar dapat bertahan hidup. Ini adalah tempat di mana Yesus tinggal di masa kecil-Nya dan bertumbuh menjadi dewasa. Ia telah meninggalkan Nazaret untuk memulai karya pelayanan-Nya di depan publik. Ketika Dia kembali, ada dua hal yang terjadi – keduanya telah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Ia menunjukkan pengetahuan dan hikmat yang besar … dan Dia ditolak (Yes 11:2; 8:14).

Apa yang sesungguhnya terjadi? Tentunya orang-orang senang bertemu dengan Yesus, karena biar bagaimana pun juga mereka telah mengenal Dia bertahun-tahun lamanya. Mereka barangkali dipenuhi hasrat untuk mendengar Dia berbicara, dan memang pada awalnya mereka takjub mendengar kata-kata yang diucapkan-Nya. Namun, sayangnya ketakjuban mereka tidak mampu membuka hati mereka atau memimpin mereka kepada kepercayaan. Mereka seakan mengunci Yesus ke dalam kerangka pengetahuan dan pengenalan mereka sendiri tentang Dia dan, dengan melakukan hal seperti itu, mereka membatasi apa yang dapat dilakukan oleh-Nya di dalam hati mereka. Teman-teman-Nya dan keluarga-Nya mengenal diri-Nya dengan begitu baik (atau menurut pikiran mereka memang begitu), dan memandang diri-Nya terlalu seperti mereka sendiri sehingga sebenarnya tidak memperkenankan Yesus menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri mereka.

Cobalah renungkan sekarang, betapa sering kita melakukan hal yang sama; kita mengikat Yesus dengan pengetahuan/pengenalan dan pengalaman kita sendiri yang terbatas. Kita tidak memperkenankan Yesus memimpin kita ke dalam hidup baru untuk mana Dia memanggil kita. Sebaliknya, kita mencoba untuk mencocok-cocokkan (menyesuaikan) diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya ke dalam cara kita percaya. Bukannya kita menyerupakan diri kita dengan diri-Nya, kita malah mencoba untuk membuat diri-Nya menjadi serupa dengan kita. Walaupun demikian, kita tetap dapat mempunyai pengharapan: Bapa surgawi telah memberikan Roh Kudus kepada kita untuk mengajar kita kebenaran tentang siapa Yesus ini (lihat Yoh 15:26) dan memberdayakan serta memampukan kita agar dapat memperluas pandangan kita yang sempit tentang diri-Nya, sehingga dengan demikian hati kita pun akan terbuka lebar bagi sentuhan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah kami karena membatasi karya-Mu dalam diri kami masing-masing. Ampunilah kami untuk ketidakpedulian kami, prasangka kami, kebutaan kami yang membatasi keterbukaan kami bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, terangilah kegelapan pikiran kami dan ajarlah kami bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS