Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, September 27, 2012

IA MEMBUAT SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 28 September 2012 )

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam-diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan brerjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pkh 3:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4; Bacaan Injil: Luk 9:19-22

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pkh 3:1).

Penulis Kitab Pengkhotbah (Ecclesiastes; Qoheleth) memiliki kepekaan mendalam terhadap siklus ritmis dari kehidupan, dan meditasinya atas simetri dari musim-musim (masa-masa), membuat dia mempunyai rasa ketiadaan kepenuhan. Turun-naiknya siklus yang memperkenankan adanya “waktu untuk tertawa” dan “waktu untuk menangis”, “waktu untuk mengasihi” dan “waktu untuk membenci” mempresentasikan suatu sistem tertutup yang tidak dapat dipecahkan (Pkh 3:4,8). Pengamatannya atas hal-hal fisik menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan tujuan spiritual: Mengapa harus ada suatu masa yang tepat untuk perang, untuk membunuh atau untuk meninggal dunia? Apakah tidak ada lagi yang eksis selain peristiwa-peristiwa yang terjadi secara acak? Bilamana siklus itu tidak dapat dihindari, kalau ketidakadilan dan kejahatan terjadi tanpa pandang bulu, maka pesan apakah yang ingin disampaikan oleh hal-hal itu tentang alam semesta atau tentang Allah?

Sebagai seorang pencari iman, penulis Kitab Pengkhotbah tidak mau begitu saja menerima penjelasan-penjelasan yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang provokatif, dan ketulusan dan kejujuran dirinya masih menimbulkan suatu tanggapan yang simpatik berabad-abad setelah itu. Meditasinya atas waktu dan eksistensi masih saja mempesona para pembaca pada zaman modern. Saya masih ingat, bahwa sekian tahun lalu saya – sebagai dosen tamu – menggunakan bacaan ini ketika berbicara mengenai peranan perubahan dalam penyusunan strategi perusahaan, dalam mata kuliah “Strategi Bisnis” yang ditangani seorang rekan-dosen di FISIP-UI. Ada juga lagu-lagu (Ingatkah anda akan lagu tahun 1960’an: “For everything there is a season!”), dan novel-novel populer yang menggemakan kata-kata sang penulis, dan kita semua merasakan adanya tarikan kekekalan dalam hati kita (Pkh 3:11).

Secara intuitif sang penulis mengetahui seharusnya ada sesuatu yang lebih berkaitan dengan eksistensi daripada sekadar siklus tanpa-akhir dari “mencari” dan “kehilangan”. Ia mengerti bahwa masa-masa kehidupan yang bersifat variabel selalu berada di bawah pengendalian ilahi. Pengamat yang terus-terang ini menyimpulkan bahwa Allah melakukan hal ini agar semua harus berdiri penuh takjub di hadapan hadirat-Nya (Pkb 3:14).

Perbandingan menarik dapat kita buat antara meditasi sang penulis dengan kata-kata yang ditulis oleh Santo Paulus: “… aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11-13). Seperti sang penulis, Paulus melihat adanya simetri kehidupan. Namun yang kelihatan sebagai siklus tertutup dari eksistensi makhluk hidup telah dicerai-beraikan oleh Allah yang menjadi manusia, Yesus Kristus. Paulus dapat “bersukacita senantiasa dalam Tuhan”, karena dia memiliki jaminan penuh berkat yang sekarang tersedia bagi semua orang yang percaya dalam Kristus (Flp 4:4).

DOA: Tuhan Allah, ajarlah kami agar dapat mengenali tangan-tangan-Mu dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kami. Buatlah kami kaya dengan hikmat-Mu selagi Engkau membimbing kami melalui berbagai pencobaan dan sukacita kami, dengan demikian membawa kami lebih dekat lagi kepada persatuan akhir dengan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan