Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, September 19, 2012

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU, PERGILAH DENGAN DAMAI!


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk., Martir-martir Korea – Kamis, 20 September 2012 )

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”
“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa” (Luk 7:39). Pertanyaan saya sehubungan dengan pikiran Simon orang Farisi seperti diungkapkan dalam ayat di atas adalah, “Koq Simon tahu ya, bahwa perempuan itu seorang pendosa, seorang WTS?” Namun marilah kita tinggalkan pertanyaan saya itu.

Kita memang tidak dapat menyangkal bahwa cerita tentang seorang perempuan berdosa ini adalah salah satu cerita yang paling populer dari cerita-cerita yang terdapat dalam keempat kitab Injil. Bayangkan sebuah botol pualam yang tidak murah dan dari dalamnya mengalirlah minyak narwastu yang sangat mahal yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. Sebelum itu kaki Yesus dibasahi dengan airmata seorang perempuan yang mestinya cantik-menawan dan diseka dengan rambutnya sendiri. Sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa, sebuah adegan yang menyentuh hati siapa saja yang telah melakukan pertobatan dan mengalami pengampunan-Nya, namun merupakan sebuah adegan yang menjijikan bagi mereka yang masih hidup dalam kemunafikan. Ide tentang seorang WTS yang berderai air mata pertobatan, sukacita, dan kasih karena telah mengalami perjumpaan dengan Yesus terasa begitu “abadi” karena masih memiliki kuat-kuasa untuk menggerakkan hati kita, bahkan pada hari ini, dua ribu tahun setelah untuk pertama kalinya cerita ini dicatat.

Tindakan-tindakan perempuan ini begitu memaksa kita untuk merenungkan pengungkapan cintakasih yang luarbiasa, berani, bahkan kelihatan tolol, sehingga kita pun mulai berpikir apakah kita dapat menemukan satu contoh lain yang serupa. Pada titik inilah kita merasa seakan tidak ada apapun yang dapat dibandingkan, ketika kita memperoleh kasih Yesus sendiri bagi kita masing-masing. Apa yang dilakukan oleh perempuan ini begitu dramatis, namun tidak dapat dibandingkan dengan kasih Yesus bagi kita yang begitu berlimpah. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia secara sukarela memberikan nyawa-Nya sendiri, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya bagi orang-orang yang banyak mengasihi – seperti perempuan berdosa dalam cerita Injil hari ini – melainkan juga bagi mereka yang memiliki hati dan pikiran sempit seperti Pak Simon orang Farisi itu.

Bagaimana kita dapat mencirikan cinta kasih sebagaimana yang diperagakan oleh perempuan berdosa tersebut? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang “pas” untuk mengungkapkan hasrat menggairahkan dari Yesus bagi kita masing-masing? Santo Alfonsus Liguori pernah menulis seperti berikut: “Allah mengasihi kita sejak kita belum eksis. Ia mengasihi kita lebih dahulu. Allah tidak menyelamatkan Putera-Nya yang tunggal justru agar dengan demikian Ia dapat menyelamatkan kita. Bagaimana Dia dapat gagal memberikan kepada kita dan Putera-Nya semua hal yang baik?”

Bukankah kita semua ingin mendengar Yesus berkata kepada kita bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Bukankah kita semua ingin Ia mengatakan kepada kita, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai”? Sekarang, marilah kita membayangkan Yesus sedang memandangi kita. Bayangkan kasih dan bela-rasa yang di wajah-Nya. Siapakah Yesus ini? Dialah Pribadi satu-satunya yang mengetahui dan mengenal kita luar-dalam. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengetahui secara menyeluruh segala perjuangan kita, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Dia turut ambil bagian dalam pengharapan dan sukacita kita, kerinduan kita dan mimpi kita. Dia mengampuni semua dosa kita. Kasih-Nya – personal dan intim – secara berkesinambungan mengalir ke luar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Seandainya kita tega meninggalkan ‘seorang’ Allah seperti ini, …… apa kata dunia?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja,OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan