Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, September 05, 2012

MENJADI PENJALA MANUSIA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 6 September 2012 )

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:18-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Banyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Ketika melihat hasil tangkapan ikan yang berlimpah itu, Petrus sadar bahwa dirinya berada di hadapan hadirat Allah. Petrus pun sujud di depan Yesus sambil mengakui kedosaannya.

Kita juga dapat sampai kepada pengalaman serupa di mana kita mengakui kekudusan Allah, dan pada saat yang sama mengakui dosa-dosa kita. Berhadapan dengan tindakan Allah dalam kehidupan kita, kita dapat sampai kepada kesadaran akan ketidakpantasan kita. Sayangnya ada dari kita yang mempunyai kecenderungan untuk tetap berdiam dalam kedosaan kita. Rasa bersalah, rasa malu, berbagai emosi negatif dlsb. mengalir masuk layaknya terjangan ombak. Kalau saja semua itu dapat mengalir keluar sama cepatnya!

Perhatikanlah tanggapan Yesus kepada Petrus. Ia tidak menanggapi pengakuan Petrus secara langsung, melainkan mengatakan kepada Petrus tentang peranan baru Petrus yang besar yang ada dalam pikiran-Nya. Terhadap seruan pertobatan Petrus – “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” – Yesus menjawab dengan sebuah janji: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:8-10).

Inilah cara bagaimana Allah memandang kita: tidak sebagai para pendosa melainkan sebagai para hamba yang dipanggil-Nya untuk melakukan tugas pekerjaan yang penting. Allah mengetahui semua dosa kita. Namun apabila kita sungguh bertobat, maka Dia pun langsung mengampuni kita dan memanggil kita untuk bergerak maju lagi untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dalam artian tertentu, kita sesungguhnya tidak berhak untuk tetap berdiam dalam kedosaan yang telah disingkirkan oleh Allah.

Saudari dan Saudaraku, belas kasih Allah tidak mengenal batas! Allah sangat senang untuk menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kita semua. Allah tidak menahan kasih dan kerahiman-Nya bagi kita sebelum kita mengasihi-Nya. Dia tidak akan menolak kita! Santo Paulus menulis, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Oleh karena itu, marilah kita terus maju dalam melayani Tuhan, penuh keyakinan bahwa belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa kita, dan bahwa Dia akan membawa kita sampai ke surga kelak.

DOA: Tuhan Yesus, sungguh menakjubkan kasih-Mu kepadaku. Seperti Petrus, aku suka bekerja keras tanpa hasil, sampai Engkau memenuhi diriku secara berlimpah dengan hidup-Mu sendiri. Dalam kasih, Engkau tidak memandang kesalahan dan kegagalanku di masa lampau, melainkan menunjuk aku untuk melakukan tugas seturut rencana-Mu yang sempurna. Terima kasih, Tuhan Yesus, untuk belas kasih-Mu yang tanpa batas. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan