Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Mei 10, 2013

MEMAHAMI BAPA SURGAWI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI – Sabtu, 11 Mei 2013)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28)

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10

Pada “perjamuan terakhir” dengan para murid-Nya, Yesus mencurahkan isi hati-Nya selagi Dia berbicara dengan mereka tentang sifat relasi-Nya dengan Bapa surgawi. Sejak awal waktu, Yesus senantiasa bersukacita dalam kasih dan kesatuan yang dialami-Nya bersama Bapa-Nya, dan sekarang Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka semua juga dapat mengenal dan mengalami Allah dan kasih-Nya dengan cara yang sama: “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh 16:24).

Mengapa begitu penting bagi Yesus bahwa para murid-Nya memahami Bapa surgawi? Mengapa Yesus sampai mengemukakan secara khusus pada perjamuan malam itu tentang pentingnya kasih yang bersifat pribadi dari Allah Bapa kepada mereka, dan kasih itu dapat diakses oleh mereka? Yesus mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. Ia mengetahui efek-efek apa saja yang akan terjadi atas diri masing-masing sahabat-Nya yang disebabkan oleh penangkapan dan penyaliban diri-Nya oleh para lawan. Yesus memahami bahwa sementara niat-niat para murid-Nya itu baik, mereka tetap akan tergoncang dan mengalami pencobaan berat. Ia ingin mendorong dan menyemangati mereka agar sungguh berakar dalam Allah dan tetap bertahan dalam kehadiran-Nya agar mereka dapat tetap ditopang oleh kasih Bapa surgawi bagi mereka.

Yesus berbicara kepada para murid-Nya dengan cara yang langsung tanpa menggunakan kalimat-kalimat yang berliku-liku. Dia ingin agar mereka memahami bahwa para murid dapat menjalin suatu relasi dengan Allah yang akan memimpin mereka melalui hari-hari yang penuh badai. Dia ingin agar mereka belajar berseru kepada Allah sebagai Bapa dan mengalami kuat-kuasa kasih-Nya untuk mengangkat mereka dari kesusahan-kesusahan sehari-hari. Yesus bersabda: “Bapa sendiri mengasihi kamu” (Yoh 16:27).

Yesus juga mengucapkan kata-kata yang sama ini kepada kita pada hari ini. Apakah kita (anda dan saya) telah sampai pada pengenalan akan kebenaran yang mampu mengubah kehidupan ini? Allah memelihara dan memperhatikan kita dengan kelemah-lembutan walaupun seringkali dengan rasa sakit karena “kebandelan” kita. Oleh karena itu, dalam doa-doa kita, baiklah kita membayangkan diri kita sebagai anak-anak kecil di hadapan “seorang” Bapa ilahi. Marilah kita merasakan tatapan mata-Nya yang mendalam – namun penuh kasih – kepada kita selagi kita melangkah tertatih-tertatih untuk menghadap hadirat-Nya. Marilah kita mendengarkan Dia mengucapkan kata-kata yang mendorong dan menyemangati selagi kita melangkah maju untuk sampai kepada-Nya yang sedang merentangkan tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna menyambut dan merangkul kita. Bayangkan diri kita digendong oleh-Nya dan diajak bermain dengan penuh gembira. Memang tidak mudahlah untuk membayangkan semua itu, namun inilah imaji (gambaran) dari Allah, Bapa kita semua, yang sungguh telah mengenal kita sebelum dunia dimulai.

DOA: Bapa surgawi, buatlah aku menjadi seorang anak kecil dan mengalami dengan sukacita kasih-Mu kepadaku. Tunjukkanlah kepadaku keindahan dari rangkulan-Mu yang penuh kehangatan. Tolonglah diriku agar mau dan mampu untuk syering kasih-Mu dengan setiap orang yang kujumpai, sehingga mereka pun dapat mengenal dan mengalami relasi yang akrab yang ingin Kaumiliki dengan semua anak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mei 07, 2013

HIDUP KITA TERJAMIN DI TANGAN-TANGAN ALLAH


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Jumat, 10 Mei 2013)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Kita sekarang sedang berada dalam masa istimewa antara “Hari Kenaikan Tuhan Yesus” pada hari Kamis kemarin dan “Hari Raya Pentakosta”. Selama hari-hari ini, marilah kita memusatkan perhatian kita pada penyambutan kedatangan Roh Kudus ke dalam hati kita dan ke dalam Gereja, karena Dia-lah satu-satunya pengharapan kita. Selama waktu kita hidup di dunia, seringkali kita “menangis dan meratap” (Yoh 16:20). Kita bergumul dengan dosa dan godaan, dengan rasa sakit dan penyakit dan kematian. Akan tetapi, pengharapan kita terletak pada Yesus, Penebus kita. Kedatangan Roh Kudus untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta adalah bukti bahwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah mendamaikan kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis.

Ketika Yesus mengucapkan “Selamat tinggal” kepada para murid-Nya, Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami dukacita, kesedihan dan rasa sakit di dalam dunia ini, namun mereka tidak boleh kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dunia ini dengan rasa sakit seorang perempuan pada waktu melahirkan anak, di mana sukacita karena kelahiran anak jauh melampaui pengalaman menyakitkan selama saat-saat mau melahirkan. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menanti-nantikan mereka yang percaya dan menaruh kepercayaan pada Allah.

Hidup kita terjamin di tangan-tangan Allah. Sebagaimana para murid Yesus yang awal, kita dapat berdukacita dan menangisi dosa-dosa kita dan kegelapan dalam dunia. Akan tetapi, pada saat bersamaan, kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang telah kita percayai, dan kita yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita hingga pada hari Tuhan (2Tim 1:12). Seperti seorang ibu yang mengantisipasikan kelahiran anaknya, kita pun dapat memandang ke depan, kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, apa pun situasi yang kita hadapi sekarang.

Yesus mengalahkan dosa, maut dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan harian dengan pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar oleh darah Juruselamat kita. Karena kita adalah milik Yesus, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat merampas diri kita dari pengharapan kita. Kegelapan dalam dunia dapat membuat kita merasa sedih, namun pengharapan kita dapat tetap kuat karena kuasa dan kasih Allah Bapa. Kita dapat menaruh kepercayaan bahwa apabila Yesus datang kembali, maka setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan akan berakhir.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyambut kedatangan-Mu ke dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan pengharapan agar aku dapat menanggung setiap pencobaan dan tetap menatap kedatangan sukacita abadi dalam kehadiran Allah pada Hari Akhir. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KENAIKAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?


(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN – Kamis, 9 Mei 2013)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dr Bologna

Aku meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kaya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu. (Ef 1:17-23)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3.6-9; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

Yesus telah bangkit dan telah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan takhta Allah Bapa. Ini adalah dasar dari pengharapan kita. Sesungguhnya, di luar dari semua ini kita tidak akan mempunyai pengharapan samasekali. Apabila Yesus tidak kembali kepada takhta-Nya, maka Roh Kudus tidak akan diberikan kepada kita. Dan jika Roh Kudus itu tidak dicurahkan ke dalam hati kita, maka kita tidak akan memiliki hikmat dan pernyataan yang kita perlu untuk terus bertumbuh dalam pengenalan kita akan Yesus. Kita tidak akan memperoleh “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14). Kita tidak akan memiliki kuat-kuasa Allah yang tak terbandingkan itu bekerja dalam diri kita – kuat-kuasa yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari alam maut. Namun Yesus telah naik ke surga, dengan demikian sesungguhnya kita memang adalah orang-orang yang paling terberkati!

Mengapa “kenaikan Yesus ke surga” begitu penting bagi kita? Yesus telah bangkit dan naik kepada Bapa-Nya di surga, dengan demikian kita berpotensial untuk menjalani kehidupan yang secara radikal berbeda dari sebelumnya. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dan menebus kita semua bagi diri-Nya. Sekarang, kita semua yang telah dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya juga akan duduk bersama Dia, jauh di atas setiap kuasa dalam dunia ini dan di dunia yang akan datang (Ef 1:17-22; 2:4-7).

Marilah kita mencoba untuk membayangkan keindahan kebenaran ini. Jika kita bersatu dengan Tuhan yang telah ditinggikan, maka sekarang kita ikut mengambil bagian dalam kemenangan-Nya atas dosa, Iblis, dan bahkan maut itu sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menggeser Yesus dari takhta-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat meyakinkan diri-Nya untuk membuang kasih perjanjian-Nya yang diperuntukkan bagi kita. Iman kita, relasi kita dengan Allah, dan keselamatan kita semua terjamin karena posisi Yesus di takhta surgawi juga terjamin!

Apakah semua ini seakan-akan terdengar too good to be true? Kita tidak perlu merasa khawatir karena semua itu dijamin oleh Allah sendiri. Dengan kenaikan-Nya ke surga, Yesus sesungguhnya telah membuka jalan kepada takhta Bapa-Nya, dan kita dapat pergi ke sana dengan berani guna menerima rahmat dan pertolongan pada saat kita membutuhkan (Ibr 4:16). Pada hari ini, sekarang juga, marilah kita memohon kepada Bapa surgawi untuk memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan, dengan penuh kepercayaan bahwa Dia akan mendengar dan menjawab doa kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan hidupku kepada-Mu, Tuhan surga dan bumi yang telah ditinggikan! Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku keyakinan tak tergoyahkan bahwa kuat-kuasa sama yang telah membangkitkan Engkau, hidup juga di dalam diriku. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah diriku untuk menjalani kehidupan yang membawa kehormatan dan kemuliaan bagi-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAN KITA BERADA PALING DEKAT DENGAN YESUS?


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 8 Mei 2013)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Yeremias dr Salakhia

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15)

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22-18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kita semua kadang-kadang berharap bahwa pada Perjamuan Terakhir Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita semua hal yang dijanjikan-Nya akan diceritakan Roh Kudus kepada kita setelah kepergian-Nya, bukankah begitu? Kita semua tentunya pernah mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan pengambilan keputusan yang besar, namun ketika menyelesaikan doa, kita tidak yakin apakah suara jawaban dalam pikiran kita itu sungguh dari Allah atau hanyalah imajinasi kita sendiri, bukankah begitu? Andaikan saja Roh Kudus akan berbicara sama jelasnya dengan Yesus yang berbicara kepada para murid-Nya dahulu! Andaikan saja Roh Kudus dapat menggunakan kata-kata yang sederhana, sehingga kita tidak perlu menebak-nebak!

Namun Yesus telah mengatakan kepada kita dengan kata-kata yang sederhana dan jelas, bahwa lebih baiklah bagi kita bila Dia kembali kepada Bapa-Nya di surga. Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita: untuk menguduskan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Kita bisa saja menginginkan agar kita semua mempunyai semua “manfaat” dari kedekatan Yesus dengan kita seperti yang dialami oleh para murid-Nya yang pertama. Namun kita juga harus mengingat bahwa mempunyai Yesus bersama mereka tidaklah menjamin bahwa mereka menjadi bebas dari rasa takut akan “nasib” mereka dan kemudian melarikan diri ketika Yesus ditangkap oleh para musuh-Nya. Kadang-kadang, hal yang kita inginkan malah merupakan hal yang justru menahan atau menghalangi kita untuk hidup dalam iman sejati dan keintiman dengan Tuhan.

Kapan kita berada paling dekat dengan Yesus? Apabila kita menerima-Nya dalam Komuni Kudus – setelah baru saja mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga selama Komuni Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita semua yang hadir dan menyentuh kita dengan kuat-kuasa penyembuhan-Nya, hikmat-Nya, dan kasih-Nya. Semua yang diminta Yesus dari kita adalah hati yang terbuka dan pikiran yang hening.

Oleh karena itu baiklah kita tidak membuang-buang waktu untuk menyatu secara mendalam dengan Allah, ketika “suara yang kecil dan perlahan” dari Roh-Nya (bdk. 2Raj 19-12) dapat terdengar secara paling jelas/jernih dalam hati kita. Kita bisa saja keluar dari Misa tidak dengan membawa sebuah dokumen yang dengan rinci menjelaskan tentang “takdir” kita. Akan tetapi kita akan membawa di dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, seakan baru saja mengalami radiasi yang membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuat-kuasa-Nya ke dalam bagian-bagian diri kita yang terdalam.

DOA: Tuhan Yesus, ucapkanlah sabda hidup kepadaku hari ini – sabda yang akan dalam-mengendap dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, kata-kata yang kuucapkan, dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mei 06, 2013

APAKAH ROH KUDUS BEKERJA DALAM HIDUP KITA?


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa 7 Mei 2013)

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11)

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

Tiga tahun lamanya para murid mengikuti Yesus ke mana-mana, dan kurun waktu tiga tahun itu bukanlah masa yang mudah bagi mereka. Mula-mula para murid menghadapi tantangan yang sungguh berat untuk mengenal siapa Yesus dan untuk mengikut Yesus mereka harus meninggalkan profesi lama mereka, malah dapat dikatakan segalanya. Lalu datanglah perjuangan pribadi untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Yesus dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sekarang mereka menghadapi tantangan terbesar, yaitu saat perpisahan dengan-Nya. Tidak mempunyai kepastian akan masa depan, mereka dipenuhi dengan dukacita (Yoh 16:6). Kita dapat membayangkan bahwa ketika mereka duduk mendengarkan pengajaran Yesus pada Perjamuan Terakhir, maka tahun-tahun yang telah mereka jalani bersama selama ini terasa sangat singkat. Kiranya mereka menyayangkan mengapa mereka tidak mengetahuinya atau memahaminya lebih awal. Kalau mereka mengetahuinya, tentunya mereka akan lebih menaruh perhatian pada ajaran-ajaran sang Rabi dari Nazaret itu. Mereka akan mengajukan lebih banyak pertanyaan, dan menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk berdoa bersama-Nya. Namun semuanya terasa “terlambatlah” sudah!

Akan tetapi, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa hanya apabila Dia pergi maka rencana Allah bagi para murid dapat terpenuhi. Hanya setelah kepergian Yesus maka Roh Kudus akan datang untuk memenuhi diri mereka, dan Roh Kudus inilah yang akan melanjutkan karya yang telah dimulai oleh Yesus dalam diri mereka (Yoh 16:7-8). Melalui Roh Kudus, mereka akan melanjutkan belajar tentang perbedaan antara dosa dan kebenaran; mereka akan terus bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan kasih Bapa; mereka akan menjadi lebih menyerupai Yesus dalam setiap hal. Semua hal yang sungguh terjadi ini dapat kita baca dan renungkan dari Kitab Suci Perjanjian Baru.

Memang tidak mudahlah untuk memahami bahwa kita tidak mengalami kerugian sedikit pun karena tidak mengenal Yesus sebagai seorang manusia yang hidup sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus bersabda: “Benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh 16:7). Dengan kehadiran Roh Kudus, kita dapat menjalin suatu relasi yang intim dengan Yesus sebagaimana yang dialami para murid-Nya ketika Dia masih hidup di muka bumi.

Sekarang, pertanyaan-pertanyaannya adalah: Apakah Roh Kudus bekerja dalam kehidupan kita (anda dan saya) pada hari ini? Apakah kita telah memperkenankan Dia untuk membawa kita ke dalam persekutuan dengan Yesus, atau apakah kita berdukacita seperti para murid Yesus yang pertama, karena prospek akan semakin jauh jarak antara Allah dan kita-manusia? Marilah kita mempercayai sabda Yesus tentang karunia-Nya bagi kita, yaitu Roh Kudus! Marilah kita percaya akan kehadiran Yesus pada hari ini, dan memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk menaungi kita secara lengkap.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kehadiran-Mu. Penuhilah diriku dan bergeraklah dalam diriku seturut kehendak-Mu. Perkenankanlah diriku mengalami sentuhan-Mu yang penuh kasih sekarang, selagi aku menyerahkan diriku kepada-Mu sekali lagi. Siapkanlah diriku untuk hari di mana aku akhirnya dapat berjumpa dengan Yesus Kristus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KEBENARAN YANG KELUAR DARI BAPA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 6 Mei 2013)

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Kehidupan orang-orang Kristiani yang pertama bukanlah suatu kehidupan yang mudah. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Yahudi yang telah merangkul Yesus sebagai sang Mesias, dan sebagai akibatnya mereka mengalami pengejaran dan penganiayaan dari mayoritas bangsa Yahudi.

“Dikeluarkan dari sinagoga” berarti bahwa para pemimpin Yahudi melarang orang-orang Kristiani untuk melakukan kebaktian dan persekutuan dengan orang-orang Yahudi yang lain. Marilah sekarang kita lihat apa yang tercatat dalam Injil Yohanes: “Para pemuka Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan” (Yoh 9:22). “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kesadaran berkomunitas orang-orang Yahudi pada abad pertama sangatlah tinggi. Dengan demikian “dikucilkan” dari komunitasnya merupakan suatu pengalaman yang sangat menyedihkan bagi orang-orang Kristiani yang pertama.

Namun demikian, Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para murid-Nya. Roh Kudus inilah yang akan melanjutkan menyatakan kepada mereka perihal kasih Yesus dan perlindungan-Nya (Yoh 15:26). Oleh kuat-kuasa Roh Kudus inilah orang-orang Kristiani yang pertama mampu dengan penuh kesabaran dan secara heroik menanggung penderitaan yang disebabkan oleh pengejaran dan penganiayaan para lawan umat Kristiani.

Ada sepucuk surat yang dinamakan “Surat kepada Diognetus”, sebuah epistola Kristiani kuno namun anonim. Surat ini menggambarkan hati dari umat Kristiani perdana: “Orang-orang Kristiani mengasihi semua orang; namun semua orang menganiaya mereka. Dihukum karena mereka tidak dapat dipahami, mereka dihukum mati, namun dibangkitkan kepada kehidupan lagi. Mereka hidup dalam kemiskinan; akan tetapi mereka memperkaya banyak orang. Mereka miskin-melarat secara total; namun memiliki suatu kelimpahan dari setiap hal. Mereka menderita karena ketiadaan kehormatan; namun itulah kemuliaan mereka. Mereka difitnah, namun nama baik mereka dipulihkan. Suatu berkat adalah jawaban mereka terhadap pelecehan terhadap diri mereka, rasa hormat adalah tanggapan mereka terhadap penghinaan. Sebagai balasan terhadap hal-hal baik yang mereka lakukan, mereka menerima hukuman karena dinilai melakukan tindakan melawan hukum, walaupun begitu mereka bersukacita, seakan menerima karunia kehidupan.”

Mudahlah bagi orang untuk melupakan bahwa pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani masih berlanjut sampai hari ini. Di banyak tempat di dunia kita mempunyai saudari dan saudara dalam Kristus yang menderita karena cintakasih mereka kepada Tuhan. Ada yang disiksa dan malah dibunuh sebagai martir oleh orang-orang yang pemerintah/penguasa yang anti Kristiani; ada pula yang dibuang dari kelompok etnis mereka sendiri. Ada juga yang menderita karena kesetiaan mereka kepada kebenaran bertentangan dengan ekspektasi dari keluarga atau rekan kerja.

Yesus memang benar ketika mengatakan bahwa siapa saja yang mengikut Dia dapat mengharapkan datangnya kesulitan dan pencobaan-pencobaan selagi mereka menjalani kehidupan seturut Injil Yesus Kristus. Akan tetapi, Yesus juga berjanji bahwa Roh Kudus akan ada bersama kita untuk menguatkan dan menghibur kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kita tidak sendiri! Kasih Allah di dalam diri kita dan antara kita satu sama lain adalah suatu sumber sukacita yang besar, suatu sukacita yang mengalahkan kesulitan.

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, April 30, 2013

BERDAMAI DENGAN ALLAH MELALUI IMAN KITA KEPADA YESUS


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 1 Mei 2013)
Peringatan: Santo Yusuf Pekerja

Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara seiman di situ, “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan persoalan itu.

Mereka diantara oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria dan menceritakan tentang pertobatan orang-orang bukan Yahudi. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara seiman di situ. Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Tetapi beberapa orang dari aliran Farisi, yang telah menjadi percaya, berdiri dan berkata, “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.” (Kis 15:1-6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5; Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Menurut adat-istiadat Yahudi, orang-orang Yahudi tidak diperbolehkan mengundang orang-orang non-Yahudi (kafir) masuk ke dalam rumah-rumah mereka, dan mereka pun tidak diperbolehkan untuk mengunjungi rumah-rumah orang non-Yahudi termaksud. Walaupun orang-orang Yahudi hidup di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi dan bertemu dengan mereka secara bebas di tempat-tempat umum, mereka tidak bersosialisasi dengan mereka, karena orang-orang non-Yahudi itu tidak mengikuti peraturan-peraturan Yahudi tentang kemurnian ritual seturut hukum Musa. Hal ini merupakan masalah riil yang dihadapi oleh Gereja perdana, yang terdiri dari campuran orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Bagaimana mereka dapat beribadat secara komunal atau berbagi roti dan anggur pada meja Tuhan atau mengasosiasikan diri satu sama lain sebagai anggota-anggota satu komunitas-kasih yang sama?

Di Antiokhia, banyak orang non-Yahudi telah menjadi Kristiani. Kemudian datanglah dari Yerusalem sejumlah orang Kristiani Yahudi yang mengajarkan bahwa kesatuan dan persatuan hanya dapat tercapai apabila umat Kristiani yang non-Yahudi menjadi Yahudi (disunat). Paulus dan Barnabas sangat menentang pandangan ini, karena jelas dengan demikian hukum Musa dinilai lebih penting daripada rahmat Kristus untuk terwujudnya relasi dengan Allah.

Kontroversi ini mungkin kelihatan “kuno” dan “tidak relevan” bagi kita yang hidup pada abad ke-21. Namun berita bahwa Allah secara bebas membuat hubungan kita dengan diri-Nya menjadi benar melalui iman-kepercayaan kita kepada Yesus sungguh merupakan sesuatu yang sama-sama mengejutkan dan tidak mudah diterima, baik oleh orang-orang pada zaman modern ini maupun oleh orang-orang yang hidup di Palestina 2.000 tahun lalu. Kenyataan bahwa Allah yang Mahakuasa mengampuni semua dosa kita hanya karena Putera-Nya mati di kayu salib sebagai tebusan bagi kita sungguh merupakan sebuah misteri yang tidak mudah diterima oleh akal kita. Kita tergoda untuk menambah sesuatu dari pihak kita sendiri, misalnya melakukan tindakan pertobatan (mati raga, laku tapa dlsb.) guna “membujuk” Allah agar mau berdamai dengan kita. Akan tetapi, kabar baiknya adalah Allah telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan agar kita dapat berdamai dengan diri-Nya …… cintakasih-Nya yang tanpa batas, rahmat-Nya yang berkelimpahan! Yang diminta oleh Allah dari kita hanyalah iman-kepercayaan akan karunia bebas cintakasih-Nya.

Sementara kita harus berjuang terus melawan dosa, pertempuran kita yang paling berat adalah dalam hal iman ini: Maukah kita mengandalkan diri pada apa yang dilakukan Yesus di bukit Kalvari? Dapatkah kita percaya bahwa di atas kayu salib Yesus telah menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalan kita untuk bertemu dengan Allah? Kita tidak perlu membujuk-bujuk Allah agar berbelas kasih terhadap kita. Kalau kita mencoba untuk melakukan hal seperti itu, maka kita sebenarnya mengurangi – malah meniadakan – arti dari pengorbanan yang dilakukan Yesus di kayu salib. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar memperluas pengalaman kita akan belas kasih Allah. Marilah kita mohon kepada-Nya agar meluluhkan hati kita dan menggerakkan kita untuk menaruh dosa-dosa kita di hadapan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang berbelas kasih, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk cintakasih–Mu yang penuh misteri kepada diri kami masing-masing. Engkau telah menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan untuk menyenangkan-Mu dalam Putera-Mu, Yesus Krsitus. Yesus adalah sumber kehidupan bagi semua orang yang mengasihi Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 29, 2013

DAMAI SEJAHTERA DARI YESUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 30 April 2013)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Benediktus dari Urbino

Ordo Santa Ursula: Peringatan Beata Maria dr Inkarnasi

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. (Yoh 14:27-31a)

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan dan gentar hatimu” (Yoh 14:27).

Selama hidup-Nya di muka bumi, Yesus menyatakan damai sejahtera dari Allah sendiri – suatu damai sejahtera yang melampaui segala pemahaman. Menjelang awal pelayanan-Nya, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia digoda oleh Iblis. Walaupun menghadapi serangan-serangan dari si Jahat, Yesus tetap teguh berpegang pada kasih dan kebenaran Bapa-Nya (Luk 4:1-13).

Seringkali Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan mendengarkan suara Bapa-Nya. Selama saat-saat yang istimewa ini, Yesus akan menerima rahmat dan damai-sejahtera yang dicurahkan oleh Bapa atas diri-Nya. Ketika bersama para murid/rasul-Nya di dalam perahu dan kemudian badai mengamuk dengan hebatnya, Yesus tetap tidur di buritan, seakan tak terganggu dengan apa yang terjadi. Ketika Dia dibangunkan oleh para murid yang sudah ketakutan itu, Yesus membentak angin itu agar menjadi reda dan tenang. Hal tersebut mengingatkan para murid pada Allah dan kuat-kuasa-Nya (Mrk 4:35-41).

Ke mana saja Yesus pergi, orang banyak berdesak-desakan mengikuti-Nya agar dapat menerima kesembuhan dan pelepasan/pembebasan dari kuasa roh-roh jahat, namun Yesus tidak pernah merasa kewalahan. Ia selalu kembali berpaling kepada Bapa-Nya, mengandalkan diri-Nya pada hikmat dan kekuatan Allah Bapa. Yesus menunjukkan ketaatan, memberi respons hanya seturut apa yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, maka Dia mampu untuk tetap berada dalam damai sejahtera Allah.

Hati Yesus penuh dengan kasih-Nya kepada Bapa, menaruh kepercayaan pada diri-Nya, dan mengandalkan sepenuhnya kepada kuat-kuasa-Nya. Bahkan ketika Dia meninggalkan/memberikan damai sejahtera-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengetahui bahwa saat-Nya Dia memanggul salib sudah semakin dekat.

Walaupun begitu, Yesus mendeklarasikan bahwa kebesaran/keagungan Bapa-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28); “Aku pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh 14:28); “Aku mengasihi Bapa” (Yoh 14:31).

Kita semua tentunya menghadapi pencobaan, mengalami kekecewaan-kekecewaan dan rasa takut. Namun ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27). Walaupun pada saat-saat kita tidak mengalami banyak kesusahan, Yesus terus saja mengucapkan kata-kata ini kepada kita. Dia ingin memenuhi hati kita dengan kehadiran-Nya. Dia rindu untuk menarik kita semua kepada Bapa sehingga kita dapat mengenal damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi-situasi di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Raja Damai. Datanglah memerintah dalam hati kami. Ingatkanlah kami akan kasih dan kerahiman sempurna Bapa. Roh Kudus, kuatkanlah rasa percaya kami akan Bapa surgawi, sehingga dengan demikian kami akan berjalan setiap hari dalam damai sejahtera dan kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 28, 2013

TETAP MAU DAN MAMPU UNTUK DIAJAR OLEH ALLAH


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan dan Pujangga Gereja – Senin, 29 April 2013)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis 14:5-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Bayangkanlah shock yang dialami Paulus ketika orang banyak di Listra berteriak-teriak menyerukan bahwa dirinya adalah dewa Hermes! Pada awalnya semuanya kelihatan begitu inosens. Paulus merasa bahwa orang yang lumpuh sejak lahir itu mempunyai iman untuk dapat disembuhkan, dengan demikian dia berbicara dengan berani dan memerintahkan orang lumpuh itu untuk berdiri tegak. Namun orang banyak yang melihat mukjizat itu tidak memahami bahwa mereka baru saja menyaksikan kuat-kuasa Yesus bekerja melalui diri Paulus. Mereka mengandaikan bahwa dewa-dewi Yunani-lah yang telah membuat mukjizat tersebut – dan bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa. Dua orang rasul ini pun tidak luput dari rasa heran: kesalahan apa yang kiranya telah mereka lakukan. Melalui situasi yang dapat dikatakan humoristis ini, Lukas menunjukkan kelemahan/kekurangan kita sebagai manusia. Hal yang tak disangka-sangka atau tak diharap-harapkan dapat terjadi, walaupun ketika kita sedang melakukan yang terbaik guna melayani Tuhan.

Paulus dan Barnabas bukanlah yang pertama membuat sebuah mukjizat dan kemudian mengalami diri mereka dipuji-puji secara berlebihan. Ketika Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang lumpuh sebelum masuk ke dalam Bait Allah, mereka juga mengalami hal serupa yang datang dari orang-orang banyak yang menyaksikan mukjizat tersebut. Orang-orang itu mengerumuni mereka di Serambi Salomo (Kis 3:1-11). Yesus juga harus menghindari orang banyak yang ingin membuat diri-Nya menjadi raja karena Dia telah membuat mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk makanan bagi ribuan orang (Yoh 6:1-15).

Sekarang, haruskah rasa takut akan hal yang tidak diharap-harapkan menghalangi upaya kita untuk mewartakan Injil? Samasekali tidak! Cerita-cerita di atas justru mengingatkan kita bahwa buah dari upaya-upaya kita senantiasa bersumberkan pada kuat-kuasa Allah sendiri. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari setiap pengalaman, betapa pun tidak diharap-harapkan. Dari pengalamannya seperti digambarkan dalam bacaan di atas, Paulus jelas belajar secara lebih mendalam lagi bagaimana mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus kepada orang-orang kafir, baik hal-hal yang boleh maupun tidak boleh. Kebaikan datang dari situasi, walaupun tidak tepat sama seperti yang direncanakan oleh Paulus.

Coba-coba (Inggris: trial and error) – bahkan “humor” – mempunyai tempat dalam upaya mengikuti jejak Yesus Kristus. Kita belajar banyak dalam Gereja, melalui pembacaan serta permenungan sabda Tuhan dalam Kitab Suci, dan dalam doa-doa. Namun kita tidak pernah boleh melupakan bahwa kita juga belajar selagi kita mendengarkan Roh Kudus dan mengambil risiko pergi ke luar untuk bertemu dengan orang-orang lain dalam nama Yesus. Allah tidak pernah menghukum kita gara-gara mencoba untuk melaksanakan amanat agung-Nya mewartakan Injil kepada orang-orang yang kita temui. Yang diminta oleh Allah adalah agar kita tetap mau dan mampu untuk diajar oleh-Nya. Dalam hal ini kita dapat mengandalkan diri pada janji Yesus sendiri yang sangat menghibur: “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).

DOA: Roh Kudus Allah, kami mengetahui bahwa kadang-kadang apa yang kami perkirakan akan terjadi malah tidak terjadi. Buatlah kami agar kami mau dan mampu mendekati situasi-situasi sedemikian dengan keterbukaan hati, dengan demikian kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai Injil Putera-Mu terkasih dapat membuat nama-Mu dipermuliakan di dalam dunia.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, April 27, 2013

SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V – 28 April 2013)


Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan dia juga dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi aku ada bersama kamu.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yoh 13:31-33a.34-35)

Bacaan pertama: Kis 14:21b-27; Mazmur tanggapan: Mzm 145:8-13; Bacaan kedua: Why 21:1-5a

“Saya tidak pernah mampu berterima kasih kepadanya secara pribadi, namun kami saling memandang – mata ketemu mata – sebelum ia dibawa pergi.” Perjumpaan yang dramatis pada bulan Juli 1941 ini adalah antara seorang tahanan politik di kamp konsentrasi Auschwitz (Polandia) yang berumur 40 tahun yang telah dijatuhi hukuman mati, dan seorang imam Fransiskan konventual yang sukarela untuk mati menggantikan sang terhukum. Sang terhukum bernama Francizek Gajowniczek, seorang sersan, dan sang imam adalah P. Maximilian Kolbe yang meninggal dua minggu kemudian pada usianya yang ke-47 tahun …… sebuah kematian yang tidak sia-sia!

Pada bulan Oktober 1982, sekitar 150.000 umat berkumpul di Piazza Santo Petrus untuk menyaksikan Paus Yohanes Paulus II (yang mengatakan bahwa panggilannya sendiri diinspirasikan oleh P. Maximilian Kolbe) mengkanonisasikan saudara sebangsanya sebagai orang kudus Gereja. Sri Paus pada kesempatan itu a.l. memetik dari Injil Yohanes sabda Yesus yang berikut ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Yesus sangat mengetahui arti dari kata-kata yang diucapkan-Nya itu, karena Dia sendiri pun akan melakukannya di bukit Kalvari, pada keesokan hari setelah mengucapkan kata-kata itu.

Dunia terpesona oleh tindakan heroik yang dilakukan oleh P. Maximilian Kolbe, namun apa yang telah dilakukannya sebenarnya juga diharapkan dari setiap orang Kristiani yang sungguh serius dalam sikap dan perilakunya terhadap sabda Yesus, Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes memproklamasikan cintakasih tanpa batas yang diajarkan oleh Yesus: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

Perintah itu baru dalam artian bahwa perintah itu “memanggil” (sekiranya kata “menuntut” dirasakan terlalu keras) seorang pribadi kepada suatu cintakasih universal dengan intensitas yang terdalam – cintakasih dengan mana Dia mengasihi kita. Perintah lama: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18) memang sangat menantang, namun tidak sebanyak tantangan yang diberikan oleh perintah yang baru dari Yesus ini. Misalnya kata “sesama” dapat dikatakan sedikit banyak terbatas dalam ruang lingkupnya dan orang-orang Yahudi berdebat terus tentang siapa saja yang termasuk dalam istilah “sesama”. Perintah baru untuk “saling mengasihi” tidak mempunyai batas. Intensitasnya pun berbeda. Perintah yang lama mengharapkan kita untuk mengasihi orang-orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Perintah yang baru mengatakan bahwa kita harus mengasihi orang-orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita. Kita tentu mengasihi diri kita secara intens, namun kasih Tuhan Yesus kepada kita jauh lebih intens.

Suatu bukti yang pasti dari cintakasih sejati adalah memberikan hidup kita sendiri bagi orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan di abad ke-20 oleh P. Maximilian Kolbe, OFMConv. Santo Petrus berbicara mengenai “siap mati” untuk Yesus sebelum penyaliban-Nya, namun ternyata itu “omong/pepesan kosong” belaka. Akan tetapi, kemudian setelah dia menjadi lebih dewasa dalam iman, Petrus memenuhi janjinya dan mati sebagai seorang martir Kristus yang sejati …… disalib terbalik dengan kepala di bawah, karena dia merasa tidak pantas untuk mati disalib seperti Yesus, Tuhan dan Juruselamatnya.

Dalam dunia yang penuh kekacauan, kebencian, kekerasan dan kekejaman yang tak terbayangkan, P. Maximilian Kolbe menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang murid Yesus sejati lewat sikap dan tindakannya; yaitu mengasihi sesamanya seturut perintah Yesus sendiri. Itu pulalah yang diharapkan dari kita semua, para murid Kristus di abad ke-21 ini.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk mengasihi orang-orang lain dengan kasih yang sama yang Kauberikan kepada kami. Kasih-Mu tanpa syarat, penuh dengan janji akan kehidupan baru, dan setia. Semoga kami menerima kasih-Mu melalui pencurahan Roh Kudus-Mu, kemudian melakukan segalanya yang kami dapat lakukan untuk membawa kasih ini kepada orang-orang lain. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, April 26, 2013

ORANG-ORANG YAHUDI BEREAKSI TERHADAP KHOTBAH PAULUS


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 27 April 2013)
Serikat Yesus: Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam dan Pujangga Gereja

Keluarga Besar Monfortan: Hari Raya S. Louis-Marie Grignion de Montfort, Imam

Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman
Tuhan. Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata, “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan Tuhan kepada kami, Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi” (Yes 49:6). Mendengar itu bergembiralah semua orang dari bangsa-bangsa lain dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disebarkan di seluruh daerah itu.

Namun orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu. Mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium. Murid-murid di Antiokhia tetap penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus. (Kis 13:44-52)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 14:7-14

“Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati” (Kis 13:45).

Hanya apabila kita dapat mengatasi kesulitan yang disebabkan oleh dua buah kesalahpahaman, maka reaksi “orang Yahudi” terhadap khotbah Paulus dapat memberikan kepada kita bahan yang diperlukan untuk pemikiran secara jernih.

Kesalahpahaman pertama menyangkut apa yang sesungguhnya terjadi. Mula-mula kedengarannya seakan-akan Paulus memutuskan untuk tidak lagi mewartakan Kabar Baik kepada semua orang Yahudi (Kis 13:46-47). Namun, apabila kita menelitinya lebih dalam, maka yang dimaksudkannya adalah, bahwa dia tidak akan berkhotbah kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia. Episode berikutnya membuat semuanya menjadi jelas. Di kota Ikonium Paulus sekali lagi mulai melakukan pelayanan di sinagoga (=tempat ibadah orang Yahudi; lihat Kis 14:1). Fakta menunjukkan bahwa sepanjang perjalanan misionernya, Paulus terus berkhotbah kepada orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, dan dalam kedua kelompok itu, ada yang menerima pesannya sementara ada juga yang tidak menerima.

Kesalahpahaman kedua menyangkut apa arti kata-kata “orang Yahudi” dalam bacaan ini bagi kita. Memang tidak sukar untuk memandang mereka sebagai musuh-musuh Kristus yang dapat kita coret ke luar dari daftar saja. Namun apabila kita melakukannya, kita akan kehilangan sebuah pelajaran berharga yang ingin diajarkan Allah kepada kita. Melalui Paulus, Allah mengirim sebuah pesan keselamatan kepada orang-orang Yahudi ini, namun mereka melihat pesan ini terlalu berat untuk diterima. Barangkali mereka tidak memahaminya. Barangkali hal itu menuntut suatu perubahan dalam hidup mereka yang mereka tidak ingin melakukannya. Barangkali mereka merasa harus mulai lagi berelasi dengan sebuah kelompok yang baru secara keseluruhan – orang-orang non Yahudi yang kafir dalam pandangan mereka – dan hal itu terlalu berat bagi mereka (Kis 13:45). Apa pun alasannya, mereka memutuskan untuk tidak meerangkul keselamatan yang ditawarkan oleh Allah melalui Paulus.

Kita masing-masing mungkin masih mengingat situasi-situasi di mana kita juga melakukan hal yang sama seperti ditunjukkan oleh orang-orang Yahudi itu. Orangtua kita, seorang guru, seorang pastor, seorang rekan kerja, seorang sahabat, bahkan seorang asing yang kita tidak kenal – mungkin telah menceritakan kepada kita sesuatu yang benar namun tidak mengenakkan bagi kita (membuat kita merasa tidak nyaman), dan kita pun menutup kedua telinga kita. Bacaan hari ini mengatakan kepada kita bahwa Allah menggunakan banyak sarana untuk berbicara dengan kita dan menolong kita mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan kita menuju kepada-Nya. Oleh karena itu marilah kita membuka mata dan telinga kita lebar-lebar: Siapa yang akan digunakan oleh-Nya untuk berbicara kepada kita? Dan apakah kita mau menerima kata-kata-Nya lewat orang itu dengan hati yang merendah dan terbuka?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku untuk membuat mataku terbuka dan hatiku menjadi lemah-lembut. Aku ingin merangkul sabda-Mu hari ini, apa pun biayanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, April 25, 2013

KHOTBAH PAULUS PERTAMA YANG DICATAT DALAM KITAB SUCI


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 26 April 2013)
Keluarga CM & PK: Peringatan S. Vincentius a Paulo

Hai Saudara-saudaraku, kamu yang termasuk keturunan Abraham dan juga kamu yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita. Penduduk Yerusalem dan pemimpin-peimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat. Meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namu mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. Setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang tertulis tentang Dia, mereka menurunkan dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Merekalah yang sekarang menjadi saksi-saksi-Nya bagi umat ini. Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah menjadi Bapa-Mu pada hari ini. (Kis 13:26-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11; Bacaan Injil: Yoh 14:1-6

Khotbah Paulus di sinagoga di Antiokhia di Pisidia (Kis 13:16-41) adalah khotbahnya yang pertama tercatat dalam Kitab Suci, dan merupakan satu-satunya khotbah Paulus yang dilaporkan oleh Luka secara mendetil. Oleh karena itu, khotbah ini bersifat signifikan karena berisikan pesan sentral dari Injil seperti yang dipahami oleh Paulus dan umat Kristiani perdana. Dengan mempelajari isi khotbah Paulus ini kita dapat sampai pada pemahaman tentang apa artinya bagi kita untuk berbicara mengenai “kabar baik Injil”.

Paulus mengawali khotbahnya dengan mengingatkan para pendengarnya bagaimana Allah memimpin para nenek moyang mereka ke luar dari perbudakan di Mesir untuk menerima Tanah Terjanji sebagai warisan mereka. Paulus juga berbicara mengenai Raja Daud dan janji yang dibuat Allah bahwa seorang Juruselamat akan lahir dari keturunannya. Akhirnya dia menunjukkan bahwa apa yang telah diramalkan dalam Kitab Suci Ibrani (=Kitab Suci Perjanjian Lama) sekarang telah digenapi dalam diri Kristus. Paulus menyimpulkan isi khotbahnya dengan meringkaskan keseluruhan pesannya: “Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus” (Kis 13:32-33).

Khotbah Paulus mungkin terdengar aneh di telinga mereka yang mendengarkan. Mereka dapat saja merasa terkejut berkaitan dengan kata-katanya tentang kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana peristiwa yang tidak biasa ini mewujudkan kesetiaan Allah pada janji-janji-Nya. Mereka percaya bahwa pada suatu hari Allah akan mengutus seorang Mesias, namun setiap Sabat mereka mendengar janji-janji ini dan tetap saja tidak melihat penggenapannya. Kemudian, ketika mendengar bahwa Mesias telah datang dan mati – hal ini sungguh terlalu berat bagi untuk mempercayainya …… that was too much to swallow!

Para pendengar khotbah Paulus juga dapat saja menjadi terkejut berkaitan dengan apa yang tidak dikatakan Paulus. Sebagai umat yang tunduk kepada Hukum, mereka tentunya mengharapkan Paulus berbicara tentang dosa-dosa yang spesifik, atau barangkali tentang rituale dan struktur, daripada sekadar memfokuskan perhatian sedemikian banyak atas belas kasih Allah yang begitu penuh kuat-kuasa. Sang Mesias tidak dimaksudkan untuk menghapuskan atau membatalkan Hukum, melainkan untuk menyempurnakannya!

Kabar baik dari Injil sama benarnya pada hari ini seperti ketika diproklamasikan oleh Yesus dan kemudian oleh Petrus, Paulus dan lain-lannya. Ini adalah Injil yang sama, yang telah mengubah hidup jutaan – kalau bukan miliaran – orang dari abad ke abad selama 2.000 tahun sejarah Gereja. Injil yang sama ini pula dapat mengubah hidup kita selagi kita merangkul kebenaran-kebenaran yang menakjubkan bahwa “KRISTUS TELAH WAFAT, KRISTUS TELAH BANGKIT, KRISTUS AKAN DATANG KEMBALI”.

DOA: Bapa surgawi, banyak orang hari ini tetap melanjutkan pewartaan Injil Yesus Kristus dengan penuh semangat dan kejelasan seperti telah ditunjukkan oleh
Santo Paulus. Berkatilah mereka dengan rasa nyaman-aman sejati, hikmat-kebijaksanaan, dan kekuatan, agar mereka dapat tetap setia dalam memproklamasikan kebenaran-kebenaran-Mu dalam nama Putera-Mu terkasih Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, April 23, 2013

KHUSUSKANLAH BARNABAS DAN SAULUS BAGI-KU UNTUK TUGAS YANG TELAH KUTENTUKAN BAGI MEREKA


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Rabu, 24 April 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

Sementara itu, firman Allah makin tersebar dan makin banyak didengar orang. Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirena, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setibanya di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka. (Kis 12:24-13:5)

Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Injil: Yoh 12:44-50

Kehebohan macam apa yang kiranya akan terjadi apabila pada sebuah Misa hari Minggu yang penuh sesak, setiap umat yang hadir mendengar suara nyaring-keras yang datang dari “atas”? Berapa orang kiranya yang akan lari pontang-panting ke luar gedung gereja karena merasa takut? Beberapa tahun lalu saya menjadi penerjemah dalam retret para imam di sebuah keuskupan. Pembimbing retret adalah seorang imam asing yang berbicara dalam bahasa Inggris. Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar suara yang sungguh menyeramkan yang ternyata disebabkan oleh ubin yang retak pecah-pecah beberapa meter panjangnya, mungkin karena perubahan cuaca. Ada yang mengira terjadi gempa, atau kapel tempat kami berkumpul itu mau rubuh. Yang jelas mayoritas para imam itu berhamburan keluar dari kapel, tetapi cukup banyak juga imam peserta retret yang tetap berdiam di tempat dalam keheningan.

Dalam bacaan pertama hari ini, panggilan Roh Kudus kepada Barnabas dan Saul (Kis 13:2) terdengar begitu mempesona: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis 13:2). Kita tahu hasil karya misioner hebat dari Barnabas dan Paulus, namun kita sungguh tidak mengetahui bagaimana Dia membuat kehendak-Nya diketahui dan dimengerti oleh umat di Antiokhia pada waktu itu.

Dari semua yang kita tidak ketahui tentang pertemuan itu, kita hanya mengetahui satu hal saja secara pasti: “Dipisahkan” atau “dikhususkan” oleh Roh Kudus bukanlah sesuatu yang hanya dimaksudkan untuk para pahlawan iman zaman dahulu. Sebaliknya, Allah telah “memisahkan” atau “mengkhususkan” setiap dan masing-masing kita. Allah mempunyai suatu peranan pelayanan yang spesifik, suatu panggilan yang spesifik, yang yang telah ditentukannya bagi kita masing-masing, pribadi demi pribadi. Dengan menjawab/menanggapi panggilan-Nya, kita memainkan sebuah peran vital dalam membangun Gereja. Tantangannya bagi kita adalah untuk menaruh kepercayaan bahwa tidak ada yang kita kerjakan bagi Tuhan itu bersifat biasa-biasa dan kecil-kecilan, selama kita mengundang Roh Kudus untuk bekerja melalui diri kita. Peristiwa-peristiwa kecil adalah kesempatan-kesempatan yang paling biasa bagi kuat-kuasa Allah untuk menghasilkan suatu hasil besar dan sungguh luarbiasa.

Banyak dari kita cenderung untuk melakukan kompartementalisasi. Kita memisahkan pekerjaan dari rumah, dan memisahkan rumah dari gereja. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa Roh Kudus telah menempatkan diri kita pada tempat di mana kita berada setiap saat – apakah di super market, di tengah jalan menuju tempat kerja, atau ketika berdiri di dekat pagar dan bercakap-cakap dengan seorang tetangga. Dalam setiap situasi, kita dapat menjadi suatu instrumen dari kasih Tuhan dan rahmat-Nya. Sepatah dua patah kata yang menyemangati petugas kasir di super market, menyapa dengan ramah ibu penjual sayur yang sedang menyiapkan lapaknya ketika kita sedang berjalan kaki menuju gereja di pagi hari, menawarkan diri mendoakan rosario untuk kepentingan seorang kawan yang sedang menghadapi masalah. Sikap seperti itu dapat menyentuh orang-orang yang dengan cara-cara yang kita sendiri tidak pernah tahu.

Allah menciptakan kita masing-masing untuk suatu tujuan tertentu, dan untuk kebanyakan dari kita tujuan itu muncul dalam hal-hal kecil dalam hidup kita. Marilah kita tidak meminimalisir dampak yang kita dapat hasilkan. Setiap saat adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk melayani-Nya dengan melayani orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mampu melihat kesempatan-kesempatan yang Engkau berikan kepadaku pada hari ini. Tolonglah aku agar dapat memberikan perhatian kepada-Mu selayaknya. Aku percaya bahwa Engkau ingin membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekelilingku. Pakailah aku, ya Tuhan Yesus! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS