Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, Oktober 05, 2013

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2013)

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk 17:5-10)

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

Kerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Oktober 02, 2013

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Kamis, 3 Oktober 2013)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12)

Bacaan Pertama: Neh 8:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Yesus menginginkan agar semua orang diselamatkan. Ini senantiasa menjadi hasrat hati-Nya yang terdalam, dan inilah alasan mengapa Dia mengutus para murid-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lukas merupakan satu-satunya pengarang Injil yang mencatat perjalanan misioner 70 (atau 72) orang murid Yesus ini. Kelihatannya Lukas ingin mengingatkan para pembaca Injilnya akan sifat misioner dari Gereja yang akan digambarkannya secara lebih lengkap dalam “Kisah Para Rasul”.

Malah ada sejumlah pakar Kitab Suci yang melihat adanya suatu keterkaitan antara jumlah murid yang diutus dan jumlah bangsa yang ada dalam dunia seturut ajaran para rabi abad pertama. Dalam “Kisah Para Rasul” tercatat bahwa sesaat sebelum Yesus diangkat ke surga, Dia mengatakan bahwa dengan kuasa Roh Kudus para murid-Nya akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan ‘sampai ke ujung bumi’” (Kis 1:8). Dengan demikian para murid akan mewartakan Injil kepada suatu perwakilan dari seluruh dunia.

Dalam hati-Nya, Yesus sangat mengetahui bahwa tuaian memang banyak, akan tetapi waktunya sangatlah singkat. Ada begitu banyak orang yang harus diperhatikan, begitu banyak yang perlu melihat tanda-tanda Kerajaan yang akan datang, sehingga Yesus mengutus para “duta”-Nya untuk mempersiapkan orang-orang agar dapat menerima karunia salib. Mereka tidak perlu meyakinkan orang-orang dengan berbagai argumen yang rumit-jelimet atau spekulasi yang tinggi-tinggi. Sebaliknya, mereka diminta untuk – dalam nama-Nya – menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Luk 10:17), dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Luk 10:9). Dengan demikian, tergantung pada setiap orang untuk memutuskan apakah menerima Yesus atau menolak-Nya.

Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam menjalankan misi mereka, mereka akan menghadapi perlawanan secara diam-diam dan/atau terang-terangan. Yesus mengutus mereka seperti “anak-anak domba ke tengah-tengah serigala” (lihat Luk 10:3). Akan tetapi, walaupun di tengah-tengah oposisi, pengejaran dan penganiayaan, mereka harus mendekati orang-orang dengan sebuah pengharapan yang didasarkan pada iman akan kebesaran tak-tertandingi dari kuat-kuasa Allah.

Bahkan pada hari ini, sementara kita menantikan tuaian akhir, Yesus masih saja memanggil kita untuk mewartakan Injil ke tengah-tengah dunia. Dengan kasih kita satu sama lain, dengan ketaatan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan dengan kata-kata yang kita ucapkan, kita dapat ikut ambil bagian dalam peranan murid-murid Yesus yang pertama sebagai duta-duta-Nya. Kita juga merupakan “pekerja-pekerja” yang ingin diutus oleh Yesus untuk menuai. Karena Kerajaan-Nya sedemikian berharga, marilah kita mengkomit diri kita untuk bekerja bagi Tuhan seturut panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata (hati) kami agar dapat melihat bahwa tuaian memang banyak. Utuslah kami, ya Tuhan, sebagai pekerja-pekerja-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, September 13, 2013

PESTA SALIB SUCI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Sabtu, 14 September 2013)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Pertama Alternatif: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

Pada Pesta Salib Suci ini, marilah kita bersukacita atas karya salib Kristus dan dengan penuh keyakinan masuk ke dalamnya. Salib Kristus masih memiliki kuat-kuasa bagi kita pada hari ini, dan Allah memaksudkan salib itu agar membawa hidup dan pertolongan bagi kita.

Karya salib Kristus adalah dasar kebenaran di atas mana Gereja dan setiap orang yang dibaptis “dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” (Mat 28:19) berdiri. Seluruh hidup Yesus diarahkan kepada salib (Mrk 8:31); kematian-Nya pada kayu salib adalah bagian dari rencana Allah bagi umat-Nya (Kis 13:28-30). Salib Kristus membebaskan kita dari dosa (Rm 8:3) dan merekonsiliasikan kita dengan Allah (Kol 1:20). Salib Kristus membangun kembali damai-sejahtera dan merupakan sumber kehidupan kita (Yoh 3:14-15). Efek salib Kristus bersifat abadi dan universal.

Keajaiban salib Kristus adalah bahwa salib itu juga menjangkau kehidupan kita sehari-hari. Seperti para kudus di surga yang mengenal serta mengalami kemenangan salib Kristus (Why 12:10-11), demikian juga Allah ingin agar kehidupan sehari-hari para anggota Gereja-Nya memanifestasikan kemenangan dan kuat-kuasa salib Kristus. Karena kemenangan salib Kristus, maka segenap ciptaan menjadi subjek dari otoritas Yesus: “Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11).

Gereja dengan kokoh berdiri dalam suatu posisi mulia penuh kemenangan atas kegelapan yang mengelilinginya karena darah Kristus yang dicurahkan bagi kita di atas kayu salib. Kita perlu percaya akan kebenaran ini dan bertindak dalam iman atasnya. Konflik-konflik dalam hidup perkawinan, perpecahan dalam keluarga, sikap masa bodoh terhadap Kristus dan Gereja-Nya dlsb.: semua ini adalah masalah-masalah yang harus dihadapi oleh keluarga-keluarga Kristiani. Dikumpulkan bersama, masalah-masalah seperti ini bersama-sama dengan banyak masalah lain membentuk apa yang kelihatan hampir seperti kegelapan yang menyelimuti Gereja.

Namun kita tidak boleh bergetar menghadapi semua masalah itu. Sebaliknya, kita harus memproklamasikan kebenaran: Darah salib Kristus telah mengalahkan semua kejahatan! Bahaya riil yang dihadapi Gereja adalah bahwa kita tidak lagi percaya bahwa salib Kristus telah berkemenangan. Namun apakah kita mengakuinya atau tidak, kebenarannya adalah bahwa Kristus – melalui salib-Nya – telah mengalahkan kejahatan dan kita perlu memeluk karya salib Kristus dalam iman.

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, September 12, 2013

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 13 September 2013)

Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1,2,5,7-8,11

Terutama dalam masa ketidakpastian seperti sekarang ini, tidak mengherankanlah apabila jumlah “guru-guru kebijaksanaan”, “guru-guru spiritual” dan teristimewa para “motivator” menjadi semakin banyak saja yang beroperasi dalam masyarakat kita untuk menawarkan jasa-jasa “baik” dan mengajarkan “kiat-kiat” menuju “sukses” kehidupan, menurut versi mereka masing-masing tentunya. Di Pulau Dewata, misalnya, ada seorang guru spiritual yang berasal dari India yang mengajar dan mempunyai sekelompok murid.

Di lain pihak, ada juga iklan-iklan di TV dan media massa lainnya dan tulisan-tulisan dalam berbagai surat-kabar yang mencoba mempengaruhi kita, tidak hanya berkaitan dengan barang/jasa apa yang harus kita beli melainkan juga bagaimana seharusnya kita berpikir, memilih dan berelasi satu sama lain. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti ini siapakah yang dapat kita percayai? Di manakah kita dapat menemukan bimbingan spiritual yang sejati? Guru manakah yang sungguh qualified? Yesus melontarkan sebuah pertanyaan sangat relevan yang harus membuat kita berpikir dan menanggapinya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk 6:39).

Dalam hal ini Santo Paulus memberikan sebuah petunjuk penting. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah” (1Tim 1:1), namun kualifikasi dirinya yang ditulisnya untuk pelayanannya sebagai rasul mengejutkan juga. Bukannya suatu “litani” dari berbagai gelar akademis yang berhasil diraihnya dan juga berbagai capaian lainnya selama hidupnya, Paulus memberi gelar kepada dirinya sebagai seorang penghujat, penganiaya dan ganas yang telah menerima belas kasih dan rahmat dari Tuhan (1Tim 1:13-14). Sebagaimana Paulus melihatnya, satu-satunya orang yang qualified sebagai seorang pengurus (steward) dari belas kasih Allah adalah orang yang telah mengalami belas kasih itu. Pengalaman akan Allah/Yesus (experience of God/Jesus) memang merupakan suatu hal yang bersifat hakiki dalam hidup Kekristenan yang sejati. Lihatlah riwayat hidup para kudus seperti S. Augustinus dari Hippo [354-430], S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226], S. Bonaventura [1221-1274], S. Thomas More [1478-1535], S. Ignatius dari Loyola [1491-1556], S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] dan begitu banyak lagi para kudus lainnya.

Hal-hal yang membuat orang banyak merasa tertarik kepada Paulus adalah dedikasinya, kejujurannya, integritasnya, dan kemampuannya untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Bukankah pembimbing spiritual seperti ini yang menarik dan sungguh kita butuhkan? Bukannya mereka yang pergi ke sana ke mari hanya untuk tebar pesona dan membingungkan kita dengan rupa-rupa gelar akademis serta janji-janji yang tidak realistis, atau menyerang orang-orang lain dengan kata-kata tajam yang tidak membangun. Kita ditarik untuk mendekat kepada mereka yang berjalan bersama-sama dalam perjalanan kita, mereka yang menyemangati dan mendorong kita untuk bertekun, dan mengatakan kepada kita bagaimana sang Gembala Baik telah mendampingi mereka melalui “lembah-lembah kekelaman” (lihat Mzm 23). Pemberian semangat dan dorongan positif ini lebih meyakinkan lagi, teristimewa jika Allah juga belum selesai dengan perkara mereka sendiri, namun mereka sangat menyadari bahwa Allah belum menyerah dalam perkara mereka dan terus menyembuhkan, mengampuni dan mentransformasikan mereka dalam Kristus. Inilah orang-orang yang dinamakan oleh P. Henri Nouwen sebagai wounded healer, “penyembuh yang terluka”.

Orang-orang seperti ini tidak akan banyak berbicara mengenai kelemahan-kelemahan kita (“serpihan kayu”; Luk 6:41-42). Sebaliknya, mereka akan banyak syering tentang bagaimana Allah sedang bekerja mengampuni dan mengatasi “balok-balok” dalam hidup mereka. Mereka tidak menunjuk-nunjuk dosa kita, melainkan dengan lemah lembut berbicara berkaitan dengan hal-hal yang berada di bawah permukaan, yaitu rasa haus dan lapar kita akan Allah, kerinduan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat, pengampunan-Nya, serta suatu awal yang baru dan menyegarkan. Orang-orang itu adalah pemimpin-pemimpin sejati dalam Tubuh Kristus, dan pemimpin-pemimpin seperti itulah yang menjadi murid-murid Kristus “yang sama dengan Gurunya” (lihat Luk 6:40).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Kami telah menerima bela-rasa dan pengampunan dari-Mu. Buatlah kami kembali menjadi seturut citra-Mu. Apabila kami tergoda untuk mengkritisi atau menghakimi orang-orang lain, bukalah mata kami agar mampu melihat kedalaman cintakasih-Mu – bagi mereka dan bagi kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, September 06, 2013

KETEKUNAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu, 7 September 2013)

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya. (Kol 1:21-23)

Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8; Bacaan Injil: Luk 6:1-5

“Kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil” (Kol 1:23).

Ketekunan praktis harus dimiliki oleh setiap orang, apakah dia seorang inventor, seorang mahasiswa atau akademisi, seorang usahawan, seorang rohaniwan, seorang biarawati atau biarawan, seorang ayah, seorang ibu, dlsb. Untuk berhasil mencapai tujuan kita – walaupun menghadapi banyak rintangan – ketekunan sangat dibutuhkan.

Melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, semua dosa kita telah diampuni, dan persahabatan penuh dengan Allah telah dipulihkan pula. Sekarang, Yesus berjanji bahwa Dia akan mempersatukan kita dengan diri-Nya sendiri di surga. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita “bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang dan tidak mau digeser dari pengharapan Injil” (Kol 1:23). Dengan perkataan lain, Yesus ingin agar kita bertekun. Ia ingin agar kita tidak pernah menyerah dan membuang Dia.

Ketekunan dapat merupakan keutamaan yang paling menantang. Namun ketekunan itulah yang membuat perbedaan! Lihatlah misalnya peran orangtua dalam keluarga. Membangun suatu lingkungan rumah tangga yang memberikan rasa aman-nyaman dan penuh kasih bagi anak-anak mereka menyangkut kerja keras dan banyak pengorbanan. Sayangnya ada orangtua yang tidak bertekun. Mereka kemudian meninggalkan tanggungjawab mereka dan hal sedemikian berakibat negatif pada diri mereka sendiri dan anak-anak mereka. Pada zaman modern – teristimewa di dunia barat – kelihatan adanya peningkatan dalam angka perceraian yang terjadi dalam masa ekonomi sulit. Dalam situasi sulit seperti itu, kesaksian para pasutri yang tetap hidup bersama dengan setia dan menikmati ganjaran dari komitmen mereka sungguh menyentuh hati.

Kristus yang berdiam dalam diri kitalah yang memberdayakan kita untuk melanjutkan hidup iman kita dan bertekun dalam melakukan tugas-tugas kita. Jika kita pernah berhenti menggantungkan diri pada-Nya, maka banyak tujuan kita akan menjadi beban yang sangat berat dan tidak mungkin lagi sanggup terpikul. Akan tetapi apabila kita menempatkan pengharapan kita dalam kasih Allah bagi kita dalam Kristus, maka tidak hanya kegigihan atau keuletan kita saja yang mendukung kita, melainkan juga kuasa kehidupan yang tak dapat dihancurkan dari Yesus sendiri. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Allah tidak sekadar memberi ganjaran atas ketekunan kita dengan memberikan kita Roh Kudus-Nya. Dia juga memberikan kepadakita Roh Kudus-Nya agar kita dapat bertekun. Dan dengan Roh-Nya di dalam hati kita, bagaimana mungkin kita gagal?

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tetap teguh berdiri di atas pengharapan Injil. Tolonglah aku agar dapat mengerjakan sampai tuntas segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku untuk kulakukan dalam hidup ini, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal dan mengalami berkat-berkat secara penuh dari penebusan yang telah Engkau menangkan bagi diriku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP HARI ALLAH MENAWARKAN ANGGUR BARU KEPADA KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 6 September 2012)

Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: Kol 1:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Lewi, seorang pemungut cukai sedang duduk di “kantor”-nya (tempat pemungutan cukai) ketika Yesus memanggilnya (Luk 5:27-28). Lewi langsung bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia sebagai murid-Nya. Entusiasme Lewi begitu besar sehingga dia mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain diundangnya juga agar dapat berjumpa dengan Dia serta turut makan bersama-sama dengan-Nya (lihat Luk 5:29). Ini adalah setting dari perjumpaan Yesus dengan orang-orang Farisi yang kita baca dalam Injil hari ini

Yesus makan bersama dengan para pemungut pajak dan “orang-orang berdosa” lainnya, jenis-jenis orang yang justru dihindari oleh orang-orang Farisi. Mereka mencoba menjebak Yesus dengan melontarkan pertanyaan kepada para murid-Nya sambil bersungut-sungut: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Luk 5:30). Yesus langsung menjawab mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:31-32).

Lalu orang-orang Farisi itu melontarkan lagi pertanyaan-jebakan yang berkaitan dengan puasa dan doa, bahkan dengan membanding-bandingkan para murid-Nya dengan murid-murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid orang Farisi sendiri: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum” (Luk 5:33). Yesus menjawab bahwa waktu ini adalah waktu untuk bergembira karena Allah baru saja mendatangkan suatu kunjungan baru kuasa-Nya, rahmat-Nya, dan kasih-pemeliharaan-Nya bagi Lewi dan kawan-kawannya. Yesus tidak datang untuk menghancurkan hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang berlaku. Berpuasa dan berdoa memang suatu keharusan, namun Yesus – sang mempelai laki-laki – sedang berada bersama mereka. Ini adalah waktu untuk bergembira penuh sukacita dalam kehadiran-Nya dan merangkul segala berkat yang diberikan oleh-Nya.

Kenyataan bahwa Lewi menerima Yesus menunjukkan bahwa untuk minum anggur baru yang ditawarkan Yesus, kita perlu memiliki hati yang baru. Kita perlu berjalan melalui suatu perubahan dalam pemikiran dan tindakan kita. Mengapa bagi orang-orang Farisi kelihatannya begitu sulit untuk mengalami perubahan seperti yang dialami Lewi? Memang sulit, karena kita dapat dengan mudah merasa nyaman dalam cara-cara kita melakukan segala sesuatu, bahkan dalam cara kita mengikuti Yesus. Memang sedih kalau kita memikirkan bahwa ada banyak orang yang bahkan mencicipi anggur baru saja mereka tidak mau, karena mereka mengatakan “anggur yang lama” sudah cukup baik.

Setiap hari Allah menawarkan “anggur baru” kepada kita melalui kehadiran Roh Kudus-Nya dalam hati kita masing-masing. Setiap hari Roh Kudus memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan atau peluang-peluang yang segar kepada kita agar kita dapat bertumbuh dalam pemahaman dan devosi kita kepada Allah. Pada hari ini, marilah kita mencari Yesus dengan segenap hati kita dan percaya pada kehadiran Roh Kudus dalam diri kita. Selagi kita melakukannya, maka pernyataan kasih Allah bagi kita akan menjadi suatu realitas yang hidup. Kita akan menjadi seperti kantong anggur baru yang diisi dengan anggur baru, yang dapat semakin matang menjadi anggur yang istimewa dan sungguh menyenangkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku masuk melalui pintu gerbang-Mu dengan nyanyian syukur (Mzm 100:4)! Penuhi diriku dengan anggur baru dari kuasa-Mu dan kehadiran-Mu sehingga dengan demikian aku dapat mengikuti jejak Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, dengan lebih setia lagi. Terima kasih untuk kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu dalam kehidupanku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, September 04, 2013

YESUS MEMANGGIL KITA MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 5 September 2013)

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

“Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk 5:8).

Pernahkah anda merasa seperti yang dirasakan Simon Petrus, yaitu anda merasa tidak tahan ketika menyadari Allah memandang anda seperti apa adanya dirimu sendiri? Seringkali memang justru ketika kita melihat siapakah Allah sesungguhnya, maka kita juga melihat kondisi penuh dosa dari diri kita sendiri, dan kita pun merasa mau mati saja karena rasa malu yang begitu mendalam. Dari waktu ke waktu, kita semua merasakan sakitnya kedosaan kita, dan kita dapat mulai bertanya-tanya dalam hati apakah masih mungkin Yesus mengasihi kita dalam keadaan tidak karuan seperti itu? Inilah yang membuat bacaan Injil hari ini menjadi istimewa penting bagi kita.

Pada saat Petrus meminta kepada Yesus agar pergi meninggalkan dirinya karena dia adalah seorang berdosa, maka Yesus menanggapi permintaan Petrus itu dengan sederhana sekali, “Jangan takut” (Luk 5:8,10). Yesus sangat mengetahui segala kedosaan Petrus, namun kelihatannya Dia samasekali tidak berminat untuk membicarakan hal itu. Sebaliknya, Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa murid-Nya ini sekarang akan menjadi penjala manusia, artinya seseorang yang ikut ambil bagian dalam misi Yesus di dunia. Secara sederhana, Yesus kurang peduli dengan masa lalu Petrus ketimbang masa depannya. Dan Yesus juga lebih berprihatin terhadap masa depan kita juga.

Kita dapat membuang-buang banyak waktu “menikmati” rasa bersalah kita dan juga merasa bahwa diri kita tidak berharga samasekali, dan kita berpikir bahwa tidak mungkinlah bagi Yesus untuk mengampuni diri kita. Namun Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Dia telah mengambil keputusan untuk mengampuni setiap dosa yang telah kita komit, lewat pikiran kita, perkataan yang kita ucapkan, perbuatan kita dan juga kelalaian kita. Keprihatinan Yesus sekarang adalah terlebih-lebih dalam hal mencabut rasa takut kita terhadap diri-Nya dan memberikan kepada kita penerangan atas tujuan dan panggilan diri-Nya bagi kehidupan kita.

Yesus ingin membuat Petrus menjadi pemimpin kelompok murid pilihan-Nya dan juga misionaris-misionaris-Nya di masa depan. Sekarang, apa yang ingin dilakukan-Nya dengan kita (anda dan saya)? Apakah Yesus mencoba untuk memberikan kepada kita damai-sejahtera-Nya sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi-Nya? Apakah Dia memimpin kita untuk mengunjungi mereka yang sedang sakit atau sedang meringkuk di dalam penjara? Apakah Dia ingin menganugerahkan kepada kita karunia-karunia baru, misalnya agar kita dapat menjadi orangtua yang lebih baik, seorang istri atau suami yang lebih baik, atau seorang sahabat yang lebih setia?

Apapun panggilan anda, maka ketahuilah bahwa Yesus memandang anda dengan pandangan kasih tanpa pamrih, tak bersyarat, dan Ia melihat potensi anda yang begitu luarbiasa. Jikalau anda membuka hati anda bagi Yesus dan menaruh kepercayaan dalam kasih-Nya, maka Dia akan menunjukkan kepada anda hal-hal yang agung dan indah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengampuni diriku bahkan sebelum aku berpaling kepada-Mu. Aku percaya, ya Tuhan, bahwa Engkau ingin menunjukkan kepadaku rencana-Mu yang sempurna bagi hidupku. Bukalah hatiku agar dapat menerima pengampunan-Mu dan kasih-Mu, dan pimpinlah aku dalam melayani-Mu lewat pelayananku kepada orang-orang lain. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Ogos 31, 2013

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII – 1 September 2013)

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1.7-14)

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24

“Besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati” (Sir 3:20).

Di mana pun tidak ada bukti yang lebih jelas tentang pengungkapan kebesaran Allah, kecuali dalam SALIB KRISTUS. Yesus, Raja Alam Ciptaan (lihat Yoh 1:3), yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal mengambil “jalan menurun” untuk masuk ke dalam dunia ciptaan-Nya sendiri sebagai seorang anak manusia. Bukankah terasa ironis namun menakjubkan bahwa inilah cara bagaimana Yesus memuliakan Allah Bapa? Bukankah menakjubkan bilamana kita menyadari bahwa karena perendahan diri Yesus itu, maka Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya NAMA di atas segala nama? …… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (lihat Flp 2:6-11).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, setiap kali kita menghadiri Misa Kudus, sebenarnya kita memperingati dua hal: “perendahan diri” (kedinaan) Yesus Kristus dan pada saat yang sama “kemuliaan”-Nya. Kita diundang untuk datang ke meja perjamuan Tuhan dengan segala kerendahan hati untuk melambungkan puji-pujian bagi nama-Nya – dan dalam prosesnya kita sendiri pun diangkat ke surga. Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” dan …… Ia memberi tempat tinggal-Nya sendiri kepada orang-orang yang sebatang kara. Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia …” (Mzm 68:6,7); bagi kita hal ini dapat diartikan mencapai kebebasan suatu hidup baru dalam Kristus.

Allah kita adalah Allah yang sangat menakjubkan. Allah kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung yang menyemburkan api yang menyala-nyala disertai angin badai, bunyi suara sangkakala yang menakutkan (lihat Ibr 12:18-19). Namun demikian Allah memanggil kita yang lemah dan berdosa ini ke dalam hati-Nya. Dalam Misa Kudus kita dapat menghadap hadirat-Nya, bergabung dengan para malaikat yang sangat banyak, yang memuji-muji kemuliaan Allah dan bersuka-ria dalam kasih-Nya – semua karena Dia merendahkan diri-Nya dan menawarkan kepada kita bagian dari warisan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Kerajaan Allah, dalam segala kemuliaan dan kuasanya itu hadir pada setiap perayaan Ekaristi? Hidup-Nya, rahmat-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya, semuanya terkandung dalam hosti kudus yang kita sambut. Bagaimana kemuliaan ilahi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata itu dapat terkandung dalam roti yang begitu sederhana, baik dalam bentuk maupun substansi fisiknya? Apa lagi yang dapat dihasrati oleh kita selain Yesus yang berdiam dalam diri kita dan mengangkat kita bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Ogos 30, 2013

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2013)

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9

Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk syering dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Ogos 27, 2013

SAMA SEPERTI KUBURAN YANG DICAT PUTIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup-Pujangga Gereja – Rabu, 28 Agustus 2013)

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32)

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12

Kita semua memiliki pandangan-pandangan atau gambaran-gambaran tertentu tentang seorang “pribadi yang baik” dan kita cenderung untuk menilai satu sama lain seturut pandangan-pandangan atau gambaran-gambaran termaksud. Akan tetapi, seringkali kita tidak berhenti sejenak untuk berpikir tentang dari mana datangnya ide kita itu: misalnya dari para sahabat, dari acara-acara radio/televisi, dari keluarga, atau dari guru-guru kita, dlsb. Beberapa pandangan malah datang/berasal dari bagaimana kita berpikir mengenai diri kita sendiri! Kita harus bersyukur bahwa Allah memandang kita dan menilai kita dengan kejernihan hati yang sempurna, dan penilaian-Nya tak akan mampu digoyahkan oleh angin badai sekali pun.

Nah, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat dipandang sebagai “orang-orang baik” dan terhormat dalam masyarakat Yahudi. Namun Yesus berulang kali mengoreksi dan bahkan menegur mereka dengan keras. Memang secara lahiriah terlihat-mata, mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah, namun secara batiniah mereka tidak lebih daripada orang-orang yang senantiasa menganggap diri mereka sendirilah yang paling benar dan orang-orang lain yang “tidak sama” dengan diri mereka sebagai orang-orang “tidak benar”. Mereka tidak memiliki cintakasih dan belarasa. Mereka lebih mementingkan bagaimana penampilan diri mereka di tengah publik. (Pada abad ke-21 ini pun orang-orang seperti ini masih sangat banyak berkeliaran dalam masyarakat di segenap penjuru dunia). Mereka munafik, “sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran” (Mat 23:27). Ketika Yesus mengkonfrontir mereka, bukannya mereka menghadapi kebenaran dan bertobat, mereka malah menjadi marah dan berniat untuk menghancurkan Yesus.

Tentunya kita semua ingin mempunyai perasaan baik dan nyaman tentang diri kita sendiri. Kita akan mencari jalan untuk membenarkan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan kita. Ketika kita dikonfrontir dengan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita, kita bahkan mencoba mengimbangi hal-hal negatif itu dengan melakukan perbuatan “baik” atau paling sedikit mencoba untuk tampil “kurang berdosa” atau “lebih baik sedikit” ketimbang orang-orang berdosa. Dengan perkataan lain, kita mencoba “membeli” kasih Allah dan respek dari orang-orang lain. Semua itu memang jauh lebih mudah daripada menghadapi Yesus dengan hati yang bertobat. Barangkali kita juga merasa takut bahwa kita tidak akan mampu untuk berubah dan dengan demikian kita kembali menyusut ketika Roh Kudus membongkar aspek-aspek gelap kehidupan kita.

Hanya karya Allah dalam diri kitalah yang dapat menolong kita memahami dan menilai pemikiran-pemikiran dan niat-niat kita. Adalah vital bagi kita untuk memahami bahwa bilamana Yesus menyatakan motivasi kita yang sesungguhnya, maka Dia juga menawarkan kepada kita “penyembuhan dan pembebasan”. Kita tidak akan pernah dapat menentukan sendiri kapan kita sudah pantas – karena upaya-upaya dengan menggunakan kekuatan kita sendiri – untuk dapat datang menghadap hadirat Allah. Hanya oleh darah Yesus yang menyelamatkan kita dapat menikmati hidup kekal, dan hanya oleh kuasa salib-Nya kita dapat dibebaskan dari dosa yang selama ini membelenggu kita. Dalam kedinaan dan keterbukaan hati, marilah kita berlari kepada Yesus dan memohon dari Dia agar menyatakan area-area dalam hidup kita yang membutuhkan sentuhan kasih-Nya. Yesus akan senantiasa menyambut kedatangan kita dan berurusan dengan kita secara lemah lembut penuh kasih.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan diriku dari dosa dan keterikatan lainnya. Aku menyambut kedatangan Roh Kudus untuk bekerja dalam diriku dan menilai pikiran-pikiran dan niat-niatku. Bebaskanlah aku dan bawalah aku ke hadapan takhta Bapa di surga. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Ogos 26, 2013

BERSIHKANLAH DAHULU SEBELAH DALAM CAWAN ITU!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Selasa, 27 Agustus 2013)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26)

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: 139:1-6; Bacaan Injil alternatif: Luk 7:11-17

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26).

Kita masing-masing (anda dan saya) adalah cawan yang dimaksud! “Sebelah dalam” cawan adalah hati kita, inti terdalam keberadaan kita. “Sebelah luar” cawan adalah apa yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain – kata-kata kita, tindakan-tindakan kita, dan perilaku kita pada umumnya. Kata-kata Yesus ini menunjukkan kepada kita bahwa Dia ingin agar kita masing-masing memiliki sebuah hati yang bersih, yang kebaikannya memancar ke luar, sehingga setiap hal tentang diri kita menyenangkan Allah.

Sekarang muncullah sebuah pertanyaan, “Bagaimana aku membersihkan hatiku? Kebenarannya adalah bahwa kita tidak dapat membersihkan hati kita sendiri! Hal ini hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Adalah benar bahwa kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Walaupun begitu, akhirnya, hati kita dapat dibuat bersih dan murni hanya melalui kegiatan Roh Kudus, Allah sendiri.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita dapat menjadi lebih sensitif terhadap Roh Kudus sehingga kita dapat mendeteksi gerakan-gerakan-Nya dalam hati kita dan bekerja sama dengan Dia? Dengan/melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, seringkali menerima Sakramen-sakramen, dan menggunakan kharisma, atau karunia/anugerah yang telah diberikan kepada kita oleh-Nya. Kita juga dapat belajar banyak tentang karya Roh Kudus dengan/melalui sebuah rencana yang baik untuk studi atas ajaran-ajaran Gereja dan pembacaan dan permenungan atas riwayat orang-orang kudus. Di atas segalanya, secara sederhana kita dapat mohon Roh Kudus untuk masuk ke dalam hati kita semakin dalam lagi. Selagi relasi kita dengan Roh Kudus itu semakin bertumbuh-kembang, kita mun akan menjadi semakin sensitif terhadap bimbingan-Nya. Kita akan mengalami Dia memurnikan hati kita, yang pada gilirannya akan mempunyai suatu efek pembersihan atas kata-kata dan tindakan-tindakan kita.

Akhirnya sebuah catatan dari saya: selagi anda bekerja membangun/memperbaiki relasi anda dengan Roh Kudus, ambillah Ibu Maria, ibunda Yesus sebagai “model” yang anda dapat teladani. Sejak saat pemberitahuan oleh malaikat agung Gabriel, ketika dia dinaungi oleh Roh Kudus sampai pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, di mana dia pun hadir bersama para rasul pada saat pencurahan Roh Kudus, Bunda Maria menunjukkan kepada kita apa dan bagaimana kerendahan hati, ketaatan, dan rasa percaya (trust) dapat membuat diri kita tetap terbuka bagi Roh Kudus. Bilamana kita ingin hati kita – “sebelah dalam cawan” – menjadi bersih dan murni, perkenankanlah Bunda Maria menunjukkan jalannya bagaimana kita menjadi lebih terbuka bagi karya Roh Allah dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata dan telinga hatiku terhadap tindakan-Mu dan bimbingan-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diriku sehingga – seperti Bunda Maria – aku pun dapat memiliki sebuah hati yang bersih-murni. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Ogos 25, 2013

CARA-CARA YANG BARU DAN BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 26 Agustus 2013)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” (Mat 23:13).

Memang mudahlah bagi kita berpendapat bahwa orang-orang Farisi adalah sekelompok orang yang bersikap legaslistik dan sombong yang ingin menghancurkan Kerajaan Allah. Sebenarnya mereka bukanlah orang-orang yang paling buruk. Pengabdian mereka kepada Allah dalam artian tertentu sungguh luarbiasa dan mereka senantiasa siap untuk melakukan pengorbanan demi Allah yang mereka sembah dan umat-Nya (Ingatlah apa yang dilakukan oleh Saulus sebelum ia bertobat dan kemudian bernama Paulus). Hasrat mereka yang utama adalah melindungi Yudaisme dari penyusupan oleh sumber-sumber asing seperti kekafiran Roma. Dengan “mati-matian” mereka mempertahankan Kitab Suci dan berupaya untuk menjaga agama mereka agar tetap murni. Inilah segala kualitas mereka yang bagus, dan tentunya mereka adalah orang-orang yang mengesankan sehingga mampu menarik banyak pengikut.

Masalahnya adalah bahwa ada sejumlah orang Farisi yang begitu mati-matian ingin memelihara dan mempertahankan Yudaisme sebagaimana mereka pahami sendiri sehingga mereka samasekali menutup diri terhadap kemungkinan bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang baru. Sungguh tak diduga oleh mereka penyelamatan Allah dapat datang melalui seorang tukang kayu miskin dari Nazaret yang “dekat” dengan para pemungut cukai dan para pendosa serta orang-orang tak beriman lainnya. Bagaimana mungkin Allah menggunakan orang yang tidak sependapat dengan keyakinan mereka?

Dengan mengingat hal ini, kita dapat melihat hati Yesus secara lebih jelas ketika Dia mengutuk orang-orang Farisi. Yesus bukan merasa muak dengan mereka, hati-Nya patah dan hancur melihat kedegilan hati dan sikap sok suci mereka. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata yang keras dengan air mata berlinang dan suara yang serak. Inilah sekelompok orang yang begitu penuh pengabdian kepada Allah seturut versi mereka sendiri, namun mata mereka dibutakan terhadap rahmat yang tersedia bagi mereka. Sungguh tragis melihat mereka yang tidak mampu mengenali Yesus dan menolak Yesus sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan!

Cerita tentang orang-orang Farisi ini dapat menjadi pelajaran guna mengingatkan kita. Sementara kebenaran-kebenaran teologis tidak pernah berubah, Roh Kudus senantiasa bekerja di tengah-tengah kita, kadang-kadang dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Sungguh mudahlah, namun sungguh berbahaya juga, bagi kita untuk mempunyai Allah yang sudah didefinisikan secara pasti. Yesus dapat saja mengundang kita kepada suatu dimensi baru dalam relasi kita dengan diri-Nya. Kita tidak boleh melarikan diri dari hal seperti itu karena hal itu berbeda daripada apa yang selama ini kita ketahui. Marilah kita menggunakan hikmat dan discernment, namun kita juga harus senantiasa siap dan terbuka bagi cara-cara doa yang tidak familiar, mendengar bisikan Roh Kudus yang tidak familiar, dan menunjukkan cintakasih kita kepada umat Allah dengan cara yang tidak familiar juga.

DOA: Roh Kudus Allah, lembutkanlah hatiku. Aku tidak ingin luput melihat diri-Mu selagi Engkau bergerak dalam hidupku dengan cara-cara baru pada hari ini. Aku tidak ingin menjadi terbatas dalam perspektifku tentang Siapa Engkau sebenarnya. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Ogos 23, 2013

TIDAK ADA KEPALSUAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Sabtu, 24 Agustus 2013)


FILIPUS DAN NATANAEL - 001Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:45-51)

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18

Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang menyebutkan rasul yang bernama Natanael, namun tradisi melihat dia sebagai murid yang bernama Bartolomeus dalam ketiga Injil Sinoptik. Bartolomeus berarti “putera dari Tolmai” dan mungkin saja ini adalah nama keluarga Natanael. Nama Bartolomeus selalu ditempatkan di samping nama Filipus, dia yang menurut Yohanes memperkenalkan Natanael kepada Yesus (Yoh 1:45-46).

Ketika Filipus syering kepercayaannya bahwa Yesus dari Nazaret adalah sang Mesias, maka Natanael menjawab: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Pemikiran di kalangan para rabi Yahudi yang diterima pada zaman itu adalah bahwa Mesias akan datang dari Yudea, tanah Daud – paling sedikit tidak berasal dari daerah seperti Galilea yang didominasi oleh kaum kafir. Sebenarnya tanggapan Natanael itu lebih daripada sekadar komentar sinis atau suatu pernyataan ketidakpercayaan. Reaksi Natanael itu mengungkapkan suatu ketaatan yang kuat-kokoh pada sabda Allah menurut apa yang dipahaminya, dan suatu kemauan untuk melihat asumsi-asumsinya ditantang dengan pandangan lain. Kenyataan bahwa Natanael menerima undangan Filipus untuk bertemu dengan Yesus banyak menggambarkan dia sebagai seorang pribadi yang terbuka bagi kebenaran.

Secara cukup ironis, Yesus yang melihat Natanael yang mendatangi-Nya, membuat semacam deklarasi: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh 1:47). Keterbukaan Natanael sungguh mengesankan bagi Yesus. Yesus melihat sedikit sekali sinisme, rasa curiga, atau prasangka dalam diri Natanael. Orang yang satu ini tidak bersembunyi di belakang kedok bilamana berurusan dengan orang-orang lain. Sebaliknya, dia berbicara kebenaran secara blak-blakan dan tidak mengharapkan apa-apa sebagai ganjaran. Yesus menjelaskan bahwa Dia melihat Natanael ketika berada di bawah pohon ara. Para rabi diketahui suka berkumpul di bawah pohon-pohon ara untuk mendiskusikan sabda Allah. Keterbukaan hati Natanael tentunya merupakan tanah yang sungguh subur untuk berakarnya sabda Allah.

Allah ingin memberikan kepada kita kebebasan dan keterbukaan sama seperti yang dimiliki oleh Natanael. Tidak ada kepalsuan bukanlah suatu atribut pribadi yang bersifat alamiah, melainkan datang selagi kita memasrahkan keamanan diri kita dalam tangan-tangan kasih Yesus. Karena kita mengetahui pengampunan-Nya dan menaruh kepercayaan pada pemeliharaan Bapa-Nya, maka tidak perlulah bagi kita untuk membentengi diri kita dengan segala macam upaya perlindungan yang bersifat duniawi. Seperi Natanael, marilah kita membenamkan diri ke dalam Kitab Suci dan memperkenankan sabda Allah menyembuhkan diri kita dari segala kepalsuan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengenal diri kami lebih baik daripada kami mengenal diri kami sendiri. Semoga Roh Kudus-Mu membuang segala kepalsuan yang ada pada diri kami masing-masing dan membuat kami “garam bumi” dan “terang dunia” yang dengan jelas mencerminkan kemuliaan-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Ogos 22, 2013

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 23 Agustus 2013)
Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Berardus dr Offida, Biarawan

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:5-10

Hukum Yahudi, bahkan pada masa Yesus hidup dan berkarya di Palestina, sangat jelimet …… rumit! Perwahyuan dan tradisi selama berabad-abad telah menghasilkan perintah-perintah, instruksi-instruksi dan panduan-panduan yang mengatur hampir setiap aspek kehidupan dan iman, sampai-sampai kepada hal-hal seperti “pembayaran persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran” (Luk 11:42). Di samping itu, berbagai kelompok seperti kaum Farisi, Saduki, Eseni dan kelompok lainnya masing-masing menafsirkan dan mengajarkan tentang hukum tersebut dengan cara yang berbeda dan kadang-kadang saling bertentangan. Jadi, tidak mengherankanlah apabila tidak sedikit orang menjadi bingung.

Pada waktu orang-orang Farisi yang menentang Yesus bertanya kepada-Nya tentang perintah-perintah yang paling utama, kita merasakan bahwa sebenarnya mereka tidak mencari kebenaran yang sejati. Malah sebaliknya, karena mengetahui adanya berbagai kemungkin tafsir yang berbeda-beda, mereka berharap Yesus akan mengatakan sesuatu yang akan menjebak diri-Nya …. Yesus akan terperangkap dalam kontroversi, malah akan mendiskreditkan diri-Nya sebagai seorang Rabi, …… kehilangan profesi-Nya sebagai seorang Rabi, dipermalukan dlsb.

Dalam jawaban-Nya Yesus mengingatkan para pendengar-Nya bahwa cintakasih terletak pada jantung Yudaisme, artinya dalam Injil-Nya juga. Allah menciptakan kita-manusia karena Dia mengasihi kita, Dia “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:4). Allah senantiasa mengasihi kita (lihat Mzm 100:5). Ini adalah suatu cintakasih yang membawa kehidupan, merangkul kehidupan secara keseluruhan dan tetap setia pada kehidupan itu sampai akhir.

Yesus mengajar bahwa karena Allah mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi-Nya dan juga sesama kita. Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Ada hari-hari di mana kelihatan sukar bagi kita untuk mengasihi diri kita sendiri dengan sepenuh hati, apalagi orang-orang lain – atau bahkan Allah sekalipun. Namun Allah mengetahui bagaimana Dia menciptakan kita. Dia tidak pernah memberikan mission impossible kepada kita. Yang perlu kita lakukan adalah memohon kepada-Nya agar memenuhi hati kita masing-masing dengan kasih-Nya. Kemudian, kasih itu akan mulai mengalir kembali kepada-Nya dalam rupa adorasi dan puji-pujian kepada-Nya. Kasih itu pun akan mengalir ke luar kepada orang-orang lain dan diwujudkan dalam penerimaan terhadap orang-orang yang dahulu tidak mau/sudi kita lihat atau sentuh, pengampunan kepada orang-orang yang bersalah kepada kita, dan pelayanan kepada sesama yang miskin dan menderita.

Tidaklah terlalu sulit bagi Allah untuk melembutkan sebuah hati yang keras-membatu, untuk menghangatkan sebuah hati yang dingin-membeku, untuk memulihkan sebuah hati yang patah, atau untuk menghembuskan nafas kehidupan ke dalam sebuah hati yang tak mampu memberi tanggapan samasekali. Pada kenyataannya, Allah sangat senang melakukan semua hal itu. Yang perlu adalah kita memohon pertolongan-Nya dengan keterbukaan dan kerendahan hati sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada doa-doa istimewa yang diperlukan. Doakanlah permohonan kita (anda dan saya) dengan kata-kata sederhana, tidak perlu diucapkan keras-keras karena Dia adalah Allah yang Mahamendengar, bahkan doa hening pun sangat mencukupi Mengapa begitu mudah? Karena Allah kita adalah Allah yang baik dan benar, seperti dikatakan oleh sang pemazmur: “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mzm 25:8)

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus Allah, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS