Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Julai 30, 2012

BELAS KASIH DAN BELA RASA NABI YEREMIA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dari Loyola – Selasa, 31 Juli 2012 )

Katakanlah perkataan ini kepada mereka: “Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti, sebab anak dara, puteri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidak tersembuhkan. Apabila aku keluar ke padang, di sana ada orang-orang yang mati terbunuh oleh pedang! Apabila aku masuk ke dalam kota, di sana ada orang-orang sakit kelaparan! Bahkan, baik nabi maupun imam menjelajah negeri yang tidak dikenalnya.” Telah Kautolakkah Yehuda sama sekali? Telah merasa muakkah Engkau terhadap Sion? Mengapakah kami Kaupukul sedemikian, hingga tidak ada kesembuhan lagi bagi kami? Kami mengharapkan damai sejahtera, tetapi tidak datang sesuatu yang baik; mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi hanya ada kengerian! Ya TUHAN (YHWH), kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yanhg dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya YHWH Allah kami, Pengharapan kami yang membuat semuanya itu? (Yer 14:17-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 13:36-43

Yeremia adalah seorang nabi yang patah hati dan ia menyampaikan pesan-pesan yang membuat pada pendengarnya patah hati juga. Barangkali atas dasar inilah ia dinamakan “nabi yang menangis”. Ia bernubuat dari kurang lebih tahun 626 sampai 580 SM – suatu periode di mana kerajaan Yehuda di bawah pimpinan raja Yosia (640-609 SM) melakukan reformasi keagamaan sampai kehancurannya dan pembuangan. Yosia tewas dalam pertempuran di Megido. Selama tahun-tahun itu, Yeremia mengingatkan bangsanya akan datangnya penghakiman Allah dan berseru agar mereka bertobat dari dosa-dosa dan kembali kepada YHWH-Allah. Seperti ekspektasi kita, pesan sang nabi tidak diterima dengan baik, katakanlah “tidak digubris”, bahkan Yeremia sendiri diperlakukan dengan buruk oleh bangsa Yahudi. Dia dihina di depan umum, malah sampai mau dibunuh.

Selama drama kehidupannya, Yeremia tetap setia kepada YHWH-Allah dan bersatu dengan Yehuda dan bangsanya. Dia tidak menghakimi atau membenci mereka atas ketidaksetiaan mereka, yang mengancam negeri mereka sampai jatuh berantakan. Walaupun dirinya bersih, dia tetap mengindentifikasikan dirinya dengan bangsanya. Dia berdoa dengan ketulusan hati yang sangat menyentuh perasaan: “Ya TUHAN (YHWH), kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu” (Yer 14:20). Pesan-pesan kenabiannya keras, namun diiringi dengan air mata bela-rasa dan cintakasih dari sang nabi.

Mungkinkah bela-rasa dan cintakasih Yeremia terhadap bangsanya membuat Allah memutuskan untuk meninggalkan sisa-sisa di Yerusalem dan pada akhirnya membawa orang-orang balik kembali dari pembuangan? Apapun ceritanya, kita tidak dapat menyangkal bahwa sedikit saja belas kasih dapat berdampak panjang dan jauh.

Sekarang, adakah seseorang dalam kehidupan anda yang membutuhkan belas kasih anda? Adakah seseorang yang anda cenderung hakimi dan menuduhnya karena mereka tidak hidup dengan cara yang menurut anda benar dan sepatutnya? Sebagaimana nabi Yeremia, kita (anda dan saya) pun dapat belajar berbicara kebenaran namun pada saat bersamaan juga menunjukkan belas kasih dan bela-rasa. Kita harus menjauhkan diri dari rasa dendam, penolakan dan keangkuhan. Semua itu hanya akan membuat orang semakin terpaku dalam keterikatan mereka. Seperti Tuhan Allah yang kita sembah, kita pun harus mengampuni setiap orang, bahkan mereka yang mendzolimi diri kita (lihat Mat 6:12). Ingatlah, dengan pertolongan Allah kita dapat melakukan apa saja, bahkan yang kelihatannya mustahil (bdk. Luk 1:37; Kej 18:14) – termasuk memperbaiki relasi yang sudah nyaris rusak. Marilah kita pada hari ini secara khusus merenungkan dalam suasana doa, apa makna dari kata-kata “belas kasih/kerahiman” (mercy)dan “bela-rasa” (compassion). Kita juga mohon kepada Allah agar diberikan segala anugerah yang dibutuhkan untuk dapat meneladan nabi Yeremia, karena sesungguhnya dunia dan Gereja masih memerlukan nabi-nabi.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah hatiku dengan hasrat untuk melakukan rekonsiliasi dan keberanian untuk memulai proses penyembuhan diriku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, kemampuan untuk merasakan betapa besar belas kasih-Mu kepada diriku, dengan demikian aku dapat menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang lain – teristimewa mereka yang telah menyakiti diriku. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan