( Bacaan Pertama
Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Jumat, 27 Juli 2012 )
Keluarga
Fransiskan: Peringatan Beata Maria Magdalena Martinengo, Perawan

Mazmur Tanggapan:
Yer 31:10-13; Bacaan Injil: Mat 13:18-23
Bagi orang-orang
Israel kuno, “tabut perjanjian YHWH” (Yer 3:16) adalah tanda yang kelihatan
dari kehadiran Allah di tengah mereka – sebuah benda konkret yang dipandang
sebagai sesuatu yang begitu kudus sehingga tidak seorang pun dapat
menyentuhnya, kalau dia tidak mau mati. Ingatlah apa yang terjadi dengan Uza
pada waktu Tabut sedang dipindahkan ke Yerusalem (2Sam 6:6-7). Kotak yang
terbuat dari kayu dan berisikan loh batu yang memuat “Sepuluh Perintah Allah”
itu merupakan kebanggaan dan sukacita orang Israel. Namun kemudian Tabut itu
menghilang ketika Yerusalem diporak-porandakan oleh orang-orang Babel pada abad
ke-6 sebelum Kristus. Dengan hilangnya Tabut, hilang pula pengharapan
orang-orang Israel untuk melihat kehadiran kudus Allah direstorasi di
tengah-tengah mereka.
Nah,
dilatar-belakangi oleh hal inilah nabi Yeremia bernubuat bahwa Allah akan
menyatakan kembali kehadiran-Nya melalui sesuatu yang jauh lebih besar daripada
Tabut. Ia akan mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai ke dalam kota suci
Yerusalem. Yerusalem sendiri akan menjadi “takhta YHWH” (Yer 3:17). Di sana YHWH-Allah
akan membuang kejahatan ke luar dari hati orang-orang dan memberikan kepada
mereka hati yang baru yang penuh kasih dan pengampunan. Kesatuan mereka akan
menunjukkan rahmat penyembuhan Allah dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan bagi
seluruh dunia.

Bagaimana kita
dapat melaksanakan tugas yang begitu besar dan agung? Jawabnya: melalui
tindakan-tindakan sehari-hari kita yang kecil-kecil, kita dapat membawa
persatuan dan kesatuan yang begitu dihargai oleh Allah. Misalnya, kita (anda
dan saya) dapat menghibur seorang sahabat yang sedang bersedih karena baru
kehilangan pasangan hidup mereka atau seseorang yang sangat dikasihi. Kita juga
dapat datang ke panti jompo dlsb. Kita dapat mulai mengampuni musuh-musuh kita,
atau orang-orang yang mendzolimi kita. Kita dengan lebih serius lagi
memperlakukan orang yang kurang beruntung dengan belas kasihan dan bela-rasa.
Ingatlah bahwa kobaran api yang besar juga dimulai dengan percikan api yang
kecil. Allah telah menempatkan api kasih-Nya di dalam hati kita masing-masing.
Biarlah api kasih itu semakin berkobar dan perkenankanlah Roh Kudus untuk
menarik kita agar semakin bersatu – satu sama lain dengan saudari-saudara kita
lainnya.
DOA: Tuhan Yesus,
biarlah api kasih-Mu menghanguskan aku (bdk. Mzm 69:10; Yoh 2:17), dengan
demikian aku dapat menjadi sebuah saluran damai-sejahtera dan kesatuan bagi
orang-orang yang ada di sekelilingku. Amin.
Sdr. F.X.
Indrapradja, OFS
Tiada ulasan:
Catat Ulasan